LEADERSHIP DAN KEMISKINAN

image: dailytimes.com

Leadership dan Kemiskinan
Oleh Said Muniruddin

“If poverty was a man, I would have killed him” – imam Ali bin Abi Thalib.

Solusi tercepat penyelesaian kemiskinan adalah dengan membunuh semua orang miskin. Ini sekedar lucu-lucuan.

Karena kenyataannya, solusi itu tidak membunuh kemiskinan. Yang terbunuh justru masyarakat korban dari kemiskinan. Kemiskinan itu bukanlah orang. Kemiskinan itu adalah virus (penyakit) yang menyerang orang-orang. Jadi bedakan antara membunuh orang yang terjangkiti kemiskinan dengan membunuh virus penyebab kemiskinan.

Virus kemiskinan ada dalam tiga wujud:

(1) Dalam bentuk perilaku struktural pemegang kekuasaan,
(2) Dalam bentuk budaya masyarakat,
(3) Dalam faktor atau kondisi alam.

Pertama, “virus kemiskinan struktural.” Korupsi, inefisiensi, infrastruktur yang tidak memadai, dan ketidakadilan merupakan bentuk-bentuk kemiskinan yang dibangun oleh birokrasi. Negara sebagai perumus kebijakan, eksekutor anggaran dan pengawas pembangunan sering gagal melaksanakan tupoksinya. Maka bunuh saja segelintir eksekutif, legislatif, dan birokrat yang jahat-jahat itu, insyaAllah kemiskinan masyarakat akan selesai. Itu kalau ide bunuh-bunuhan mau dilaksanakan, maka harus dimulai dari level pemegang otoritas kekuasaan.

Kedua, “virus kemiskinan kultural.” Orang menjadi miskin karena budaya malas dan sistem keyakinan yang terganggu. Orang menjadi miskin karena merasa dirinya miskin. Walau makan berkecukupan, tetap saja menengadahkan tangan meminta beras raskin. Walau sudah ada gaji, tetap saja mengejar fee. Walau orang tuanya kaya, masih saja mencari beasiswa dengan menunjukkan surat miskin. Haruskah kita membunuh orang-orang seperti ini agar kemiskinan hilang? Tentu tidak. Kita harus mengedukasi mereka.

Terakhir, “virus kemiskinan alami.” Alam ini punya perilaku sendiri diluar kendali kita. Gempa, banjir, longsor, kebakaran, puting beliung, dan kekeringan merupakan beberapa fenomena alam yang punya kekuatan menghancurkan dan memiskinkan. Anda tidak bisa membunuh Tuhan agar terbebas dari bencana alam. Anda hanya perlu memahami hukum alam agar menjadi sadar dan cerdas menghadapi cobaan. Banyak negara yang menjadi makmur, seperti Jepang, walau berada pada lintasan bencana.

Sebagai penutup, sekali lagi: “Seandainya kemiskinan itu berwujud manusia, pasti aku akan membunuhnya” (imam Ali bin Abi Thalib). Sayangnya bukan. Ia ada dalam berbagai jenis ‘virus’ yang memerlukan obat khusus.

Maka menjadi “pemimpin” adalah menjadi “dokter” yang mampu mendiagnosis berbagai virus kemiskinan, serta mampu meracik obat yang tepat untuk menyembuhkannya.***