CIRI-CIRI KEHIDUPAN YANG BAIK: MEMILIKI RUMAH YANG LUAS DAN TEMAN YANG BANYAK

image: saidmuniruddin.com, “Kupi Suboh”.

Ciri-Ciri Kehidupan yang Baik: Memiliki Rumah yang Luas dan Teman yang Banyak
Oleh: Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as ditanya, “Kehidupan apa yang paling utama di dunia?” Beliau menjawab, “Rumah yang luas dan banyak teman” (Bihâr al-Anwâr, juz 74, hal., 178).

***

Ditanya tentang ciri-ciri orang yang memiliki kehidupan yang baik, imam Ali bin Abi Thalib as memberi dua indikator: (1) memiliki rumah yang luas, dan (2) teman yang banyak.

Pertama terkait dengan “rumah yang luas.” Makna “luas” disini bisa jadi luas ukurannya. Tapi ada makna substantif lain, yaitu “lapang” (terbuka serta selalu dikunjungi karib, masyarakat dan sahabat).

Banyak dari kita memiliki rumah yang besar, tetapi selalu terkunci, sepi, jauh dari minat orang-orang untuk bersilaturahmi, berteduh dan mencicipi makanan yang ada di dalamnya. Ini masuk kategori rumah yang “sempit.”

Untuk memiliki rumah yang luas (lapang) tentu ada caranya. Kita boleh saja punya kekuasaan dan kaya, lalu banyak yang datang untuk meminta. Tetapi pemberian uang seringkali tidak memiliki ikatan ideologis. Artinya, saat kaya kita dikerumuni banyak orang. Begitu jatuh miskin akan ditinggali. Tidak masalah, tugas kita memberi. Dan memang ada bentuk-bentuk pemberian yang memang tak perlu meminta imbalan/kembalian.

Ada orang-orang yang memilih bersifat pemurah saat kaya, dan berharap pemberiannya bermanfaat bagi mereka, saya kira ini bentuk kehidupan yang utama. Karena banyak juga orang kaya yang kikir, menyimpan harta untuk diri dan keluarganya saja. Ini masuk dalam kategori “rumah sempit.” Rumahnya luas tetapi tidak memberi kelapangan batin bagi pemiliknya.

Makna rumah yang “luas” lainnya adalah tersedianya banyak hal yang dibutuhkan oleh masyarakat dari diri anda. Terutama ilmu-ilmu yang dapat membuat masyarakat tercerahkan. Apakah ilmu-ilmu yang membawa masyarakat semakin dekat dengan Tuhan, ataupun ilmu-ilmu yang membekali mereka untuk menguasai kehidupan dunia.

Organisasi, kampus atau institusi yang kaya dengan resources pengetahuan adalah wujud lain dari “rumah-rumah yang luas” itu. Organisasi-organisasi seperti ini pasti populer dan usianya panjang. Karena mereka menjalani “kehidupan utama.”

Tidak hanya dalam bentuk institusi, ada juga rumah-rumah pribadi yang sering dikunjungi orang karena ia melapangkan rumahnya sebagai balai pengajian, pengkajian dan pencerahan. Ini termasuk rumah-rumah yang tidak hanya mampu menampung puluhan atau ratusan jamaah, tapi juga muat ribuan malaikat.

Saya ingin memberi syarahan lebih lanjut. Bahwa apa yang dikatakan Imam Ali bin Abi Thalib as tersebut dapat dikaitkan dengan beberapa dimensi kehidupan yang menjadi sumber kebahagiaan:

(1) Dimensi spiritual. Kehidupan yang membahagiakan adalah kehidupan yang kaya akan dimensi spiritual. Ini berupa keimanan dan kedekatan dengan Tuhan, yang diperoleh melalui beragam ritual. Rumah kita patut menjadi salah ruang bagi dzikir dan pengajian, tidak hanya bagi keluarga sendiri, tapi sesekali juga dengan mengundang teman-teman.

(2) Dimensi intelektual.  Kehidupan yang membahagiakan adalah kehidupan yang kaya akan pengetahuan, yang dibarengi kelapangan waktu kita untuk berbagi dengan masyarakat. Untuk itu, rumah kita juga dapat menjadi ruang belajar bagi siapa saja. Dengan ini kita juga memperoleh banyak murid dan teman.

(3) Dimensi material. Kehidupan yang membahagiakan adalah kehidupan yang kaya akan dimensi material. Ini berupa kepemilikan harta/rumah yang luas, yang dibarengi sifat dermawan. Sering-seringlah mengundang orang untuk makan di rumah. Bantulah orang-orang yang membutuhkan dengan harta anda. Jadilah pemilik rumah yang ringan tangan.

KESIMPULAN. Milikilah rumah yang “luas” dan teman yang banyak. Milikilah homebase yang terbuka bagi semua, yang menawarkan berbagai modal: spiritual, intelektual dan material.

Kehidupan yang paling utama adalah kehidupan yang terbuka (open governance), kehidupan yang mampu membawa kedekatan dan hubungan baik dengan semua manusia. Kehidupan seperti ini akan mendatangkan banyak teman dan saudara, serta dapat mengikat hubungan ideologis emosional dengan mereka.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s