PAUD DAN MASA DEPAN BANGSA

image: Kupi Suboh KAHMI Aceh (25/2/2018)

PAUD dan Masa Depan Bangsa
Oleh: Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. “Semua anak di dunia ini punya kecenderungan untuk bangun pada waktu Shubuh. Tapi orang tuanya lah yang membuat perilaku baik mereka ini perlahan hilang”, demikian kata Bang Dhulhadi memulai pembicaraan “Kupi Shuboh” kami di warung Cut Zein Beurawe Banda Aceh (Ahad, 25/2/2018).

Saya sedikit menerawang, bahwa yang dikatakan oleh salah satu tokoh pegiat pendidikan anak ini adalah apa yang disebut dengan “kehanifan universal.” Bangun Shubuh memang sebuah kecenderungan alami. Fitrah ini juga disebut sebagai leadership spirit (ruh kebaikan). Teori ini meyakini, bahwa “leaders are born” (pemimpin itu dilahirkan). Setiap orang terlahir dengan spirit kebaikan.

Tetapi kemudian sebagian anak-anak ini menjadi pemalas, akibat orang tuanya yang tidak merawat kecenderungan baik yang ada pada diri mereka. Bahkan orang tua mereka sendiri malas bangun Shubuh.

Seringkali waktu anak bangun pagi, mereka melihat ayah ibunya masih tidur. Mereka pun melanjutkan tidur, karena menganggap bahwa belum saatnya bangun. Lama kelamaan terbentuk kebiasaan buruk, selalu telat bangun.

Saya kira ini yang maksudkan Nabi saaw, bahwa setiap anak lahir dalam keadaan suci. Orang tuanya lah yang membuat mereka menjadi rusak, tidak lagi mengenal Tuhan (yang diasosiasikan dengan yahudi, nasrani dan majusi).

Jadi, ruh kebaikan (leadership spirit) akan pudar manakala tidak ada usaha untuk merawatnya. Semangat untuk menjaga dan mengembangkan kebaikan alami ini disebut dengan the spirit of leadership. Ini teori yang mendasari bahwa “leaders are made”. Pemimpin itu lahir dari proses penempaan.

Bang Dhulhadi juga menjelaskan kepada saya tentang pentingnya tumbuh kembang anak pada 1000 hari pertama, sejak dalam kandungan sampai usia 2,5 tahun. Ini periode usia yang menjadi fondasi tumbuhnya berbagai kecerdasan. Maka sejak usia dini, anak-anak harus sudah diaktifkan berbagai bentuk kemampuan dengan menyediakan kesempatan bagi mereka untuk mengeksplorasi berbagai hal yang sesuai. Perlu ada ruang dan fasilitas bermain untuk itu.

Dalam hal ini, kata bang Dhulhadi, anak-anak yang sudah mencapai usia bermain jangan banyak tidur lagi. Karena ada orang tua yang menganggap jika anak banyak tidur itu bagus. Bahkan ada orang tua yang kesal kalau anaknya terus-terusan aktif, lalu dipaksa tidur. Cukup siang saja mereka tidur. Jangan sampai pada waktu-waktu bermain lainnya juga dihabiskan dengan tidur. Sayang jika otaknya dibiarkan tidur dan menganggur.

Usia sampai 3 tahun merupakan masa-masa emas bagi mereka untuk menyerap berbagai pengetahuan dasar termasuk kota kata, yang dalam bahasa Al-Quran disebut dengan pengetahuan “nama-nama”. Mungkin bagi anak-anak lebih kepada pengertian tasawwur (konsep-konsep) sederhana:

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” (QS. Al-Baqarah: 31). 

Oleh sebab itu, anak-anak jangan dikurung di rumah atau hanya bermain bersama orang tuanya saja. Temukan kelompok bermain yang seusia. Anak-anak sangat senang bersosialisasi dan berkomunikasi ketika bersama teman-teman sebaya. Mereka mampu menghabiskan waktu berjam-jam bersama teman-temannya. Dasar-dasar kecerdasan emosional terbentuk dari interaksi sosial seperti ini.

Negara kita masih menghadapi persoalan serius terkait minat dan akses terhadap pendidikan anak untuk usia dini. Bang Dhulhadi juga mengatakan pengalamannya ketika menerima kunjungan salah satu peneliti pendidikan anak dari Amerika ke PAUD yang dikelolanya di Peuniti, Banda Aceh. Si researcher ini merasa sedih ketika melihat PAUD tersebut. Bukan karena PAUD-nya tidak bagus, tetapi karena ia mengetahui jika banyak sekali anak-anak di Aceh dan Indonesia yang tidak memiliki akses pendidikan pada komunitas bermain seperti ini.

Jadi banyak anak-anak kita yang tidak terdidik secara utuh sewaktu kecil. Mungkin kita juga termasuk orang-orang yang pernah kehilangan kesempatan belajar pada usia-usia terbaik ini. Akumulasi dari ini semua melahirkan sebuah bangsa yang berperadaban rendah.

Negara-negara maju sudah selesai dengan hal-hal seperti ini. Bandingkan, kalau cara berpikir anak kita masih pada level 1-3, anak-anak di negara maju sudah mencapai level 4-6. Ini salah satu alasan, mengapa keberadaan manusia di negara-negara maju cenderung inovatif. Kecerdasan otaknya sudah terbina sejak kecil.

Bangsa-bangsa yang memberi perhatian bagi pendidikan anak sejak dini akan menjadi bangsa yang kreatif. Mereka menjadi trend-setter. Mereka menjadi produsen. Mereka menjadi penghasil karya-karya besar untuk kemajuan zaman. Sementara negara-negara jumud hanya menjadi follower dan konsumtif.

Jadi, masalah peradaban kita sudah dimulai pada tahap pendidikan. Maka jika ingin memperbaiki masa depan negeri ini, kita mesti fokus pada anak-anak.

Tak terasa diskusi Kupi Shuboh sudah berlangsung satu jam. Sajian “kopi coklat” terlihat hanya tersisa di dasar gelasnya saja. Sebuah pertanda untuk mengakhiri silaturahmi pagi Ahad yang rutin diadakan oleh KAHMI Aceh ini.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s