UZLAH (MENGASINGKAN DIRI)

image: Jabal Nur di Mekkah (islamiclandmarks.com)

Uzlah (Mengasingkan Diri)
Oleh: Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Muhammad tidak diangkat menjadi rasul di Baitullah. Beliau justru mengalami ledakan spiritualitas di Gua Hirak. Meskipun ada situs Kakbah yang menjadi pusat ibadah ditengah kota Mekkah, namun di puncak Jabal Nur yang terasing itulah pemuda ini menyaksikan alam hakikah.

Masjid itu bangunan fisik. Allah tidak bersemayam di dalamnya. Dia hanya bisa ditemukan pada qalbu yang suci. Maka Muhammad pun pergi menyepi meninggalkan Masjidil Haram yang penuh “berhala”. Dalam beratnya uzlah ia menemukan Tuhan yang dicari.

Terkait perjalanan jiwa semacam ini, dalam syair “Sidang Ahli Suluk”-nya, Hamzah Fansuri mengatakan: Hamzah Fansuri di dalam Mekkah//Mencari Tuhan di Bait AlKa’bah//Dari Barus ke Qudus terlalu payah//Akhirnya bertemu di dalam rumah//

Sering kali formalitas ibadah di tengah keramaian membuat kita merasa sudah beragama. Padahal, sempurnanya itu ada pada makrifat atau mengenal diri-Nya.

Begitulah Muhammad mengajari kita, berislam harus zahir dan batin. Sebab, ada dari kita yang zahirnya saja Islam (secara lisan dan penampilan terdengar dan terlihat bertuhan). Namun ruhaninya masih kafir (belum pernah menyaksikan kenyataan dari kegaiban iman).

Ribuan ayat yang mendeskripsikan tentang Allah justru lahir setelah Muhammad berjumpa Allah. Berbeda dengan kita, berlomba-lomba menjelaskan Tuhan yang tidak pernah kita temui. Bahkan kita berani mengatakan orang lain kafir, sesat dan bid’ah; seolah-olah kita sedang duduk ngopi bersama Allah. Padahal, melihat malaikat saja tidak pernah. Sekarang, cukup menjadi artis untuk menjadi da’i. Tak perlu susah-susah bertemu Allah terlebih dahulu.

Maka tahap terbaik dalam beragama adalah “diam” (uzlah). Setelah benar-benar tau (berjumpa), baru “bicara” (dakwah).

Begitu pentingnya menyendiri. Nabi melakukan itu berulang kali. Bahkan diriwayatkan, selama Ramadhan, hanya beberapa malam saja Beliau memimpin qiyamul lail di masjid. Selebihnya menghabiskan waktu dengan menyendiri (iktikaf/suluk) dalam kelambu kamarnya. Nabi mengurangi bicara dan interaksi dengan manusia untuk naik ke sidratul muntaha.

Banyak orang mengalami bahagia setelah pindah dari “agama teori” ke “agama mengalami”. Dari keramaian “kota” ke keheningan “gua”. Inilah yang dialami para filsuf dan fuqaha yang pada akhirnya memilih hijrah dalam keheningan jiwa. Mereka ingin sampai kepada apa yang selama ini diyakini (musyahadah).

Hidup ini harus pasti. Paling tidak, mendekati kepastian. Jangan menduga-duga. Dalam ilmu riset, sebuah hipotesis (keyakinan) harus diverifikasi secara metodologis guna dibuktikan kebenarannya. Islam itu ilmiah (realitas), bukan dogma (ceramah). Semua elemen keimanan yang wujudnya batiniah tidak boleh jadi mitos. Harus terbukti ada.

Tentu mujahadahnya harus dibimbing oleh seorang supervisor yang tinggi kapasitas ruhaniah. Maka perlu dicari sosok semacam nabi, yang sudah bolak balik ke alam rabbani. Tapi yang namanya nabi sudah tidak ada. Namun figur-figur terlatih yang mewarisi sanad ruhaniah masih terus ada. Mereka disebut “waliyullah” (QS. Yunus: 62-64) atau “waliyammursyida” (QS. Al-Kahfi: 17).

Sekolah spiritual (tarekat) banyak. Namun masternya yang langka. Yang disebut atau menyebut dirinya mursyid ada dimana-mana. Tapi banyak yang “hambar”. Sebab, umumnya hanya kuat dikajian tasawuf, tauhid dan fiqhnya saja. Sementara ruhaninya tidak keramat. Karena tidak tersambung dengan Nur Muhammad.

Maka sejak awal, isu mencari guru paling krusial dalam bertuhan. Sebab, yang disebut Islam zahir batin adalah, secara zahir kita rajin beribadah, secara batin kita khusyuk (kasyaf). Boleh jadi kita pernah belajar selama 12 tahun di pesantren. Ditambah 4 tahun di UIN. Dilanjutkan dengan 6 tahun lagi S2 dan S3 di Mesir atau Madinah.

Apakah setelah itu batin kita tersucikan (kasyaf)? Tidak. Karena selama 20 tahun kita belajar, yang tercerdaskan adalah akal atau otak kita (hafalan). Bukan ruhani. Yang terislamkan cuma aspek syariatnya. Bukan ruhnya.

Maka seorang guru yang hakiki bukan cuma ahli dalam menyampaikan dalil agama. Tetapi ia bisa membawa ruhani kita sampai ke sisi Allah ta’ala. Orang-orang seperti inilah yang disebut “wasilah”, sosok Jibril yang mengatakan kepada kita: “Inilah Allah”. Tanpa diantar oleh buraq seperti ini, Muhammad sekalipun tidak akan pernah berjumpa Allah.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
PENULIS adalah inisiator Pemuda Sufi, sebuah gerakan yang memperkenalkan dunia irfan dan tarekat kepada generasi muda dan mahasiswa, guna mewujudkan Indonesia yang bermuraqabah (memiliki getaran ilahiah).

2 Comments

  1. […] Baca tulisan sebelumnya tentang: “UZLAH” (MENGASINGKAN DIRI). […]

    Like

  2. […] tajam dan mampu menangkap pesan-pesan Tuhan secara gamblang (BACA ARTIKEL: VIBRASI GUA HIRAK dan UZLAH). Setelah periode keislaman, Nabi SAW juga saban waktu beruzlah, khususnya […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s