OBJEKTIFITAS SUFISME

image: Suluk, eksperimentasi “akademis-objektif” ala sufi (Dayah Sufimuda Aceh).

Objektifitas Sufisme
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Dalam dunia akademis, seorang peneliti diharuskan membatasi bahkan menghilangkan persepsi tentang objek yang sedang coba dipahami. Hanya dengan itu jawaban bisa diperoleh secara objektif. Sedikit frame teori boleh-boleh saja sebagai mukaddimah untuk masuk ke dalam sebuah fenomena yang “dzat” atau jawaban esensialnya belum diketahui secara pasti.

Begitu pula tasawuf (tarekat). Untuk benar-benar memperoleh pengetahuan ontologis yang objektif tentang Tuhan, akal harus “dimatikan”. Jangan terlalu cepat berimajinasi atau membangun kesimpulan.

Jika dunia akademik yang positivistik memulai pencarian dengan “skeptisisme” (meragukan kebenaran yang sudah ada), tasawuf melakukannya dengan cara yang lebih dahsyat lagi: “takhalli” (pengosongan diri dari segalanya). Biarkan Tuhan sendiri yang hadir untuk mengisi, memberitahukan kepada anda bagaimana sesungguhnya Dia.

Secara teknis, ada instrumen wasilah (QS. Al-Maidah: 35) yang digunakan untuk mengintermediasi subjek dengan objek yang ingin diketahui. Aplikasi rabithah (QS. Ali Imran: 200) digunakan untuk pencapaian tujuan ini. Untuk itu, keberadaan seorang supervisor atau pembimbing (QS. Al-Kahfi: 17) yang “bersanad” (otoritatif) dan “serba tau” (ahli kasyaf) menjadi compulsory dalam institusi pendidikan supra-akademik. Tanpa itu, kredibilitas lembaga tarekat dapat dipertanyakan.

Oleh sebab itu, tarekat (irfan) merupakan ilmu akademik kelas tinggi. Dengan metodologi meta-objektif, para sufi mampu menjangkau (merasakan) wujud hakiki Tuhan tanpa intervensi akal secara mandiri. Laboratorium eksperimentasi akademis ala sufi ini disebut khalwat, iktikaf atau suluk. Semua nabi menjalani riset tertutup yang sangat steril ini.

Setelah seorang salik memperoleh jawaban “apa adanya” dari sejumlah studi iluminatif seperti ini, baru kemudian hasilnya diuraikan secara filosofis dalam bahasa yang sebisa mungkin dapat dimengerti manusia. Meskipun ada juga para arif yang membungkus pengetahuan dan kesimpulan dalam simbol, puisi dan syair-syair yang mustasyabihat. Sesungguhnya, Tuhan itu lebih luas dari berbagai hipotesis, konsep, dan referensi (teori-teori tauhid) yang pernah dibuat manusia.

Jadi, dalam bahasa Aceh: “bek laloe ngen kitab”. Jangan sibuk dengan proposisi. Buktikan dan alami. Bahkan anda belum benar-benar menjadi akademis (objektif) kalau belum pernah mematikan “diri”, tenggelam dalam samudera ilahi: menjadi sufi. Banyak saintis era klasik Islam yang juga seorang pelaku irfan (mistisisme Islam). Kecerdasan akademiknya menjadi berlipat-lipat manakala intelegensi intuitifnya diperbaiki.

Pengalaman sufistik, meskipun bersifat personal, itu lebih objektif.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s