SEKULARISME IBADAH

Sekularisme Ibadah
Oleh Said Idris Athari Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Jika anda percaya bahwa manusia adalah makhluk yang mampu menyatu dengan lumpung busuk semacam air, api, udara dan tanah. Lalu apa susahnya sih untuk percaya kalau manusia juga mampu menyatu dengan substansi suci Allah ta’ala?

Bukankah manusia pada wujud terbaiknya adalah makhluk yang serba meliputi. Makhluk langit sekaligus bumi. Ada Tuhan dalam dirinya, yang bahkan lebih dekat dari urat lehernya (QS. Qaff: 16; Al-Waqiah: 85).

Pada orang-orang yang telah menjadi sebaik-baik ciptaan, yang jiwa insannya telah disucikan/ sempurnakan (QS. At-Tin: 4), Tuhan bersedia ‘bersemayam’ dalam dimensi kemanusiaannya. Sosok seperti ini telah menjadi tajalli dari Allah ta’ala. Sebab, ia telah berada dalam sistem komputasi ilahiyah yang maha canggih, yang disebut Gregg Braden (2007) sebagai the divine matrix. Ia sudah terkoneksi dengan jaringan energi. Perilaku dan perkataannya menjadi revolusioner, setara dengan wahyu (QS. An-Najm: 3). Mata, telinga, tangan, kaki; semuanya perwujudan kekuatan dari Yang Maha Tinggi:

“… Jika Aku telah mencintai seorang hamba, maka (Aku) menjadi pendengarannya yang dia mendengar dengannya, (Aku) menjadi penglihatan yang dia melihat dengannya, menjadi tangan yang dia memukul dengannya, menjadi kaki yang dia berjalan dengannya. Jika dia memohon kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan dan jika dia minta ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni, dan jika dia minta perlindungan kepada-Ku, niscaya akan Aku lindungi” (Hadis Qudsi).

Jadi, usaha memisahkan Allah dari dimensi kemanusiaan kita adalah bentuk sekularisme beragama yang notabenenya lahir dari waham materialisme (tidak meyakini kehadiran Tuhan pada realitas bumi). Memang Allah adalah Allah. Alam adalah alam. Keduanya tidak sama dan tidak akan pernah sama. Namun Dia hadir di dalam semua ini.

Seperti halnya kabel dengan arus listrik, merupakan dua hal yang berbeda. Kita ini ibarat fisik kabel, kalau tanpa arus maka fungsinya hanya sebatas tali jemuran. Tetapi, jika sudah teraliri voltase ilahiyah, kekuatan maha dahsyat benar-benar aktual. Itulah gambaran para anbiya dan auliya dengan mukjizat dan karamah ketika Allah menghampiri mereka. Koneksitas dan keterintegrasian dengan-Nya dapat dibangun. Namun ada layer-layer sub-conscious dan superconscious dari jiwa yang harus terlebih dahulu dibenah, agar akses bagi kehadiran Allah menjadi mudah. Ini kerjaan para nabi dan guru-guru sufi yang otoritatif.

Maka, tanpa metodologi irfan/tariqah, agama akan bernilai “sekuler.” Islam menjadi a religion with-out God. Agama ‘tanpa’ Allah. Agama yang Allahnya berada disisi luar dari semua eksistensi. Agama yang memberikan jarak antara Dia dengan hamba. Agama yang menceraikan. Agama yang meniadakan kemampuan ruh dan jasad untuk fokus, larut dan tenggelam dalam kekuatan malakutiyah. Agama yang kehilangan karomah.

Tauhid yang sesungguhnya adalah, kesatuan. Bukan keterpisahan. Itulah visi hakiki Alquran; mempertemukan, menyatukan atau mengembalikan manusia kepada asalnya. Begitu pula dengan misi para nabi, membawa manusia kembali kepada khalik, yang dengannya dapat terbentuk akhlak. Sebab, akhlak itu sisi indah lainnya dari sang khalik.

Tanpa kesadaran ini kita sulit menjadi sempurna. Sebab, bahagia adalah saat kita bersama Allah. Penyakit stress, galau dan radikalisme yang kini mendera umat beragama terjadi manakala dirinya ‘terpisah’ dari Allah. Memang itu gerakan yang gencar dibangun, “sekularisme ibadah”. Memisahkan manusia dari sublimasi spiritualitas dan keterhubungan dengan Allah.

Perhatikan bagaimana perilaku mereka yang menolak filosofi kesatuan wujud. Pasti ekstrim. Marah-marah. Mata melotot. Mulut menganga. Provokatif dan tidak bahagia. Mereka suka memberontak, ingin berpisah dan menciptakan instabilitas. Semua dikafirkan. Karena dari awal konsep tauhidnya sudah salah. Memahami wujud secara disintegratif. Tidak mampu melihat perbedaan sebagai bagian dari kesatuan sunnah Allah.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
Powered by
PEMUDA SUFI. 

2 Comments

  1. saifundi

    Dasyat dan mencerahkan..

    Like

  2. Anonymous

    Begitulah

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s