SUARA YANG MEMBANGUNKAN

image: “suara yang membangunkan”

Suara yang Membangunkan
Oleh Said Idris Athari Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Suara yang membangunkan kita setiap pagi, seharusnya adalah suara azan. Suara inilah yang seharusnya menggerakkan semua ibadah dan pekerjaan. Gerak-gerik kita pada hakikatnya adalah panggilan Tuhan. Itu hanya benar-benar terjadi jika kita mampu mendengar “panggilan”.

WR Supratman pernah menulis: “Bangunlah jiwanya//bangunlah badannya//untuk Indonesia Raya//. Pembangunan fisik yang baik hanya akan terjadi jika jiwanya “hidup” (terdengarnya panggilan Tuhan). Tidak ada yang mampu membangunkan jiwa, selain “panggilan Tuhan”. Indonesia akan “raya” (bersatu, kuat, makmur dan sejahtera) kalau jiwa bangsanya sehat.

Sungguh. Penyakit terparah yang menjangkiti kita adalah “tuli”. Shummun bukmun ‘umyun fahum la yarji’un. “Mereka tuli, bisu dan buta; sehingga tidak dapat kembali -melangkah menuju Tuhan” (QS. Al-Baqarah: 18). Semua problem ini ada pada level kejiwaan.

Sudah 74 tahun kita menyebut diri “merdeka”. Tapi Harley dan Brompton masih berani diangkut secara haram. Pembangunan kita tidak sehat. Jiwa masyarakat dan pejabatnya sakit. Kita belum merdeka.

Belanda memang sudah lama minggat. Tapi jiwa kita masih dipenuhi setan. Bukan hanya terjadi di Garuda. BUMN, kementerian, serta sektor usaha dan pemerintahan lainnya jangan-jangan ada tulinya juga. Kemajuan bangsa dan negara tidak signifikan. Program kerja yang ditulis sejak setahun sebelumnya bagus-bagus. Tapi yang didengar saat eksekusi hanya panggilan nafsu. Gerak kita gerak setan.

Hanya sebagian kecil yang kerjanya berbasis panggilan “asli” dari Tuhan. Selebihnya hanya meneriakkan takbir atas nama Tuhan. Memanipulasi agama. Menciptakan instabilitas. Menebar kebencian. Memecah belah. Menipu. Korup. Menjadi backing narkoba. Astaghfirullah, Bajingan semua.

Fokus pendidikan ruhiyah, sebagaimana basis pendidikan kenabian, terpusat pada kemampuan mendengar “suara Tuhan”. Suara hati. Suara langit. Suara batin. Ilham. Muraqabah. Wahyu. Ayat. Tanda-tanda dari Tuhan. Sebuah “suara” yang turun langsung dari sisi-Nya.

Hati-hati. Tidak semua azan berasal dari Tuhan. Sebagaimana tidak semua panggilan jihad datang dari Rasulnya. Disinilah kita harus lebih halus menangkap setiap pesan. Jangan mudah tertipu. Betapa masif kehancuran dunia Islam gara-gara memenuhi panggilan suci kekhalifahan (ISIS). Perbaiki telinga batin. Sehingga terdengar jelas, apakah Allah atau setan yang sedang menyeru. Meskipun keduanya sama-sama memakai ayat.

Pastikan Tuhan yang sedang memanggil. Bukan setan. Sebab, dunia ini menipu. Penuh hoax. Hanya yang cerdas yang selamat. Kalaupun ingin memanggil orang atas nama-Nya, pastikan sudah terlebih dahulu ada izin (otoritas) dari-Nya. Jangan meniru suara Tuhan untuk menipu. Apalagi sampai memalsukan stempel-Nya. Habis anda!

Itulah rahasia, kenapa kalau mampu bangun subuh kita menang. Bukan sekedar pada bangun badannya. Tapi pada kedisiplinan mendengar dan menindaklanjuti panggilan sejati di hening bening pagi. Jika selama ini sulit berkembang dan maju, maka perlu segera di evaluasi, suara apa yang sebenarnya selalu membangunkan anda? Dengan kata lain, jam berapa kau bangun dan bergerak?

Pertanyaan ini saya tujukan pada diri saya pribadi. Silakan kalau ada yang mau meminjam, untuk ditanyakan pada diri sendiri.

BACA JUGA: “THE POWER OF AZAN”: MENGUNGKAP KESAKRALAN KALIMAT-KALIMAT AZAN. 

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
powered by PEMUDA SUFI:
Bahagia, Kaya dan Terpelajar.