MEMANDANG ALLAH PADA SEBIDANG WAJAH

“inni wajjahtu wajhiya”

Memandang Allah pada Sebidang Wajah
Oleh Said Idris Athari Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Ada dari umat ini yang bekerja keras, bolak-balik balik membuka ribuan lembar kitab, untuk mengenal Allah. Ada juga yang beruntung. Menemukan Dia pada sebidang Wajah. Memang, orang-orang pintar hanya bisa dikalahkan oleh orang-orang beruntung. “Semoga kalian menjadi orang-orang beruntung”, kata Allah.

Allah itu ada. Tapi unik. Misterius, sekaligus Nyata. Semua orang ingin menyembah dan mencintainya. Namun power dalam beragama diperoleh jika mampu memakrifati-Nya. Untuk itu, berbagai cara dilakukan untuk mengenal dan dekat dengan-Nya.

Ada yang coba mengenal Dia dengan membaca ribuan kitab. Ini metode tekstual. Pertanyaannya, siapa diantara kita yang sudah berjumpa Allah akibat banyak membaca. Anda?

Saya pun ragu, kalau para nabi bertemu Allah karena banyak membaca berkas-berkas agama. Bahkan saya curiga, banyak nabi yang tidak menghafal kitab-kitab yang ditinggalkan para pemuka sebelumnya. Saya tidak tau, apakah Muhammad sudah hafal Taurat, Zabur dan Injil sebelum jadi nabi.

Ada juga yang coba mengenal Allah dengan menganalisis wujud, membuat kategori dan definisi-definisi. Ini metode filsafat. Pertanyaannya, siapa yang sudah berjumpa Allah akibat banyak berdebat dan berfikir? Jangan-jangan anda yang pertama!

Kalau dengan adu argumen kita akan berjumpa Jokowi, mungkin Rocky Gerung paling sering bertemu Presiden RI. Atau jika karena banyak membaca berita kita bisa bersua dengan artis idola; maka siapapun bisa mencium bau dan merasakan kelembutan suara mereka, setelah membaca curriculum vitae-nya.

Sebuah teknik taqarrub yang jarang dieksplor adalah metode visual (semacam 3G, 4G dan sebagainya). Kalau memang sulit berjumpa Jokowi di singgasananya, apa susah-susah, lihat saja di layar hp saat berkomunikasi dengannya. Ini bentuk siaran langsung, dan dalam kadar tertentu juga bersifat face to face

Tapi pastikan dulu, kita punya nomor akses dan sambungan frekuensi yang resmi. Namun nomor kontak dan jaringan juga tidak mudah diperoleh. Pasti sangat rahasia. Kalau mudah, tentu semua orang sudah bisa bicara dengan Tuhan dan para malaikat-Nya.

Maka hidup butuh perjuangan, atau ikhtiar untuk menemukan orang-orang “terpilih”. Orang-orang inilah yang mampu “membawa” – mengajari, memberitau, mendidik, memfasilitasi- untuk terkoneksi dengan orang nomor 1 di Republik ini. Jika tidak pernah bertemu dengan orang-orang seperti ini, kemungkinan besar kita hanya bisa teriak-teriak di pinggir jalan tanpa dipedulikan oleh Jokowi. Doa tidak pernah terkabul. Kalaupun ada hajat yang terpenuhi, itu hanya rahmat yang bersifat umum.

Maka temukan figur warasatul anbiya yang otoritas Tuhan ada bersamanya. Temukan “wajah” yang Allah dan para malaikat gemar men-shalawatinya. Temukan “wajah” yang Allah selalu mengingatnya. Temukan “wajah” keramat, yang jika engkau mengingatnya, Tuhan bersedia hampir. Temukan kekasih Tuhan, yang jika engkau memanggilnya, Allah pun hadir. Temukan dia, yang Allah dengannya sudah tidak pernah terpisah.

Itulah mengapa, seperti kata para sufi:  “mencari kekasih Allah lebih sulit daripada mencari Allah”. Semua orang Arab jahiliah percaya adanya Allah. Tapi tidak mengakui Muhammad sebagai kekasih-Nya. Memang,  bagi yang tidak kenal Tuhan, Dia bersembunyi ditempat yang gelap. Susah sekali dicari. Sementara bagi yang kenal, Dia tersembunyi ditempat yang terang.

Begitulah analogi untuk para ahli makrifat yang memegang “kunci” Kalimah-Nya. Orangnya nyata, tetapi cenderung tidak dikenali. Muhammad SAW misalnya. Tidak ada yang menyangka ia memiliki kunci-kunci langit. Bahkan ditolak oleh para pemuka kaumnya. Justru orang-orang lemah yang pertama merapat kepadanya. Sehingga konsep “al-mahdi” senantiasa dalam kerangka ini. Ada. Tapi tersembunyi.

Maka beruntunglah mereka yang berkesempatan “memandang” (mengambil sanad ruhaniah) pada wajah ulama yang memiliki cahaya Allah. Kata Nabi SAW, nilainya lebih tinggi daripada 1000 tahun beribadah. Karena kebesaran Tuhan tersembunyi di sebidang wajah yang sederhana itu. Melihatnya, membuat kita teringat kepada Allah.

Secara umum, wajah (cahaya) Allah bertajalli pada keseluruhan dimensi. “Allah adalah cahaya langit dan bumi” (QS. An-Nur: 35). “Kemanapun engkau menghadap, disitulah Wajah Allah” (QS. Al-Baqarah: 115). Namun keseluruhan dari kebesaran dan mukjizat-Nya, secara unik dan dalam skala tertentu “terprogram” pada wajah (wujud) kekasih-Nya.

Dan ini sangat logis. Dulu, alam semesta inipun besarnya tidak lebih dari sebutir biji kacang. Sebelum ia meledak dan mengembang dalam skala tak terhingga (big bang and the expanding universe). Maka tidak mustahil jika seluruh eksistensi yang maha besar ini mampu bertajalli, terproyeksi dalam satu titik holografis tertentu di wajah penghulu alam. Titik “Ba”, tasawuf menyebutnya. Rahasia dari alam semesta.

Mengkonfirmasi ini, Rasulullah pernah berkata: “Aku melihat wajah Allah dalam rupa seorang pemuda”. Dalam nada serupa diulangi oleh Ibnu Arabi ketika sedang tawaf di Kakbah: “Aku melihat Allah dalam wajah seorang wanita”. Ibrahim as juga ikut membuka rahasia makrifat terkait dimensi wajah yang di download-nya:

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Wajah yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan” (QS. Al-An’am: 79).

Metode “menghadapkan wajah” inilah yang kemudian juga dipilih Rabiah Al-Adawiyah, Junaid Al-Baghdadi, Bayazid Bistami, Al-Ghazali, Jaluddin Rumi dan mistikus-mistikus lainnya untuk menyempurnakan agama mereka; setelah puluhan tahun lelah mencari Allah dengan banyak metode lainnya (termasuk syariat dan filsafat).

Inilah teknologi “spiritual connectivity”. Dimana cahaya Allah di muka bumi (rasa kehadiran ilahi) dapat diakses melalui koneksitas dengan elemen wajah utusan-Nya.

Tapi ingat. Tidak semua wajah mampu membawa kita kepada Allah. Ada yang justru menggiring kita kepada setan, kepada perilaku ekstrim dan suka mengkafirkan. Tidak banyak yang punya “kesucian wajah” sehingga ketika ditatap akan menularkan sifat-sifat utama Tuhan: kasih dan sayang. Sehingga, menjadi muridnya membuat kita tidak hanya shaleh secara individu, tapi juga secara sosial (menjadi rahmatallil’alamin).

Tulisan ini tidak bermaksud merendahkan tugas-tugas kita untuk terus membaca kitab, ataupun menjadi filsuf sejati. Semuanya penting. Sangat penting. Sebab, dengan membaca kita mampu menggali informasi. Serta dengan memperbaiki cara berpikir kita juga akan menjadi agamawan yang rasional. Namun jangan lupa tugas utama: menemukan wajah yang Tuhan “bersemayam” disana.

Namun tidak serta merta dengan melihat wajah ulama seseorang langsung mengenal Tuhan. Sebab, kalau sekedar melihat, mungkin Abu Lahab dan Abu Jahal paling makrifat di dunia. Saban hari ia lihat dan ingat Muhammad. Tetapi beliau-beliau yang senior ini tidak mau berguru lagi. Bahkan ingkar. Akhirnya terhijab dari kebenaran hakiki.

Rahasia berguru ada pada penerimaan (bai’at), kesaksian (syahadat) dan kepatuhan (taslim). Tidak cuma dalam ritual agama. Banyak ormas, parpol dan organisasi perkaderan menganut pola serupa. Semua itu pokok dari adab. Itulah hakikat bertuhan. Fase awal dari syahadat adalah menyaksikan yang dhahir, sebelum sampai pada kesaksian batin.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
powered by PEMUDA SUFI:
Bahagia, Kaya dan Terpelajar.