JIKA DUNIA INI HANYA PERMAINAN DAN SENDA GURAU, NILAI IBADAHNYA DIMANA?


“Jurnal Pemuda Sufi” | Artikel No. 05 | Januari 2022


JIKA DUNIA INI HANYA PERMAINAN DAN SENDA GURAU, NILAI IBADAHNYA DIMANA?
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Liburan selama 12 hari. Ide awal hanya ke Solo, kampung istri, setelah 15 tahun ia tidak pernah kembali. Lalu sedikit melebar. Rutenya dimulai dari Banda Aceh, Medan, Solo, Jogya, Jakarta, Bogor; lalu kembali ke Aceh. Kami berjumlah 7 orang. Saya, istri, ibu mertua, dan empat orang anak yang semuanya masih dibawah 7 tahun.

Apakah kami bahagia?

Anda yang sudah punya keluarga, punya anak yang masih kecil-kecil; tentu bisa menjawabnya. Bagaimana rasanya liburan sambil mengelola mereka. Kalau dijawab bahagia, iya. Dijawab susah, juga iya. That’s life!

Yang pertama Ahmad, “the scientist”. Tepat diperjalanan ini usianya 6 tahun. Cerdas; dan juga cepat (mungkin akibat kebanyakan nonton Sonic). Termasuk “cepat menghilang”, khususnya kalau lagi di pasar, lalu kembali sambil menenteng beragam barang minta dibayarkan. Kalau tidak kita belikan, mulai buat rusuh dia. Kalau sudah ngambek, ngomongnya tidak dengan mulut lagi. Sudah pakek suara hidung, “eng.. eng.. eng.. eng”. Di pasar Borobudur ia sempat menghilang lebih dari satu jam dan membuat neneknya menangis kesusahan. Anaknya memang suka jalan dan menghilang sendiri, persis seperti walednya waktu kecil.

Yang kedua Fathimah, “the princess”. Usianya 4 tahun. Tiap hari masalahnya hanya baju. Kalau bajunya tidak ngembang, ataupun tidak seksi dan cantik bak seorang putri; ia tidak mau jalan-jalan. Hafalannya pun selalu minta dibelikan mainan rumah-rumahan. Belakangan ini memang hobinya akting sedih dan menangis. Selera makannya juga lagi menurun. Tapi sifat penyayangnya sangat tinggi.

Yang ketiga Halimah, “the gangster”. Usianya 3 tahun. Bawaannya ingin ribut terus. Kalau tidak mengganggu, merebut mainan, memukul abang dan kakaknya, gak enak badan dia. Si Halimah ini baterainya “lithium”, dan “fast charging”. Energinya lama sekali habis. Kalaupun habis, cepat sekali terisi lagi. Sampai tengah malam pun masih lari-lari. Tak pernah diam sedetikpun. Beberapa gelas restoran berhasil ia pecahkan, sambil tersenyum senang. Bayangkan, betapa capeknya memantau gerakannya. Silap sedikit, habis kita.

Yang terakhir sangat patuh. Suka senyum dan baik hati. Karena memang masih bayi. Karena belum bisa jalan, ya harus sering di gendong. Capek juga. Untung ada stroller. Namanya Ali, “the smiling boy”. Usianya belum setahun. Logistik untuk dia tentu harus banyak. Susu, makanan, pampers, dan sebagainya.

***

Liburan itu tentu enak sekali. Sangat enak. Apalagi kalau hanya berdua dengan istri. Itu “bulan madu” namanya. Mirip-mirip lagi di syurga.

Tapi kalau sudah punya anak, masih bayi, kecil-kecil dan banyak pula; itu mirip-mirip bukan wisata. Tapi pindah rumah ke pesawat, ke kereta api, ke hotel, ke bis dan taksi. Dari mengelola mereka di rumah, kini anda harus merawat mereka di jalanan. Terkadang nakalnya minta ampun. Rewel di keramaian. Bisa haus, lapar dan ngantuk seketika. Belum lagi harus ganti pempers saat anda lagi asik menikmati sesuatu. Anda tau sendiri bagaimana rasanya. Apalagi harus menghadapi hal-hal seperti itu saat anda sedang dalam kondisi sangat lelah. Tensi bisa naik turun secara mendadak!

Dari awal anda sudah merancang liburan ke tempat-tempat yang indah dan nyaman. Ke gunung, pantai, candi, masjid, bioskop, pusat jajanan dan sebagainya. Apakah itu indah?

Ya, tempat-tempat itu indah bagi orang tuanya. Borobudur, Prambanan dan lainnya; itu merupakan “world heritage”. Semua orang ingin melihatnya. Tapi tidak untuk anak-anak anda. Hanya dua detik saja mereka terpana pada bangunan megah itu. Selebihnya lari-lari lagi dan minta permainan baru. Mereka baru senang kalau dibawa ke game zone maupun taman permainan anak-anak. Dan ini sudah barang tentu tidak begitu menyenangkan bagi orang tuanya. Akhirnya terpaksa (pura-pura) senang melihat mereka bermain. Sabar!

Sejak awal, anda sudah merancang tujuan wisata untuk menyenangkan anak-anak. Untuk memberi ingatan indah bagi mereka. Membuat mereka bahagia. Tapi, karena mereka terlalu kecil, mereka bahkan tidak tau sedang dimana. Pulangnya pun mungkin mereka sudah lupa pernah kemana. Tidak sadar pun kalau pernah dibawa kemana-mana.

Untung ada sisa foto sebagai bukti jalan-jalan. Simpan baik-baik. Karena itu menjadi alat bukti bahwa dulu orang tuanya pernah baik sama mereka. Makanya kalau sedang liburan, dimana-mana selalu foto. Saat sesi foto semua “wajib” senyum. Lalu di update ke medsos. Biar dipikir oleh orang-orang yang lihat, kita yang sedang wisata bahagia sekali. Padahal, ada sesi pedih, perih, marah dan ribut-ribut di “behind the scene”-nya.

Saudara-saudara sekalian, wisata dengan membawa anak-anak adalah latihan emosi tingkat tinggi. Kalau sukses anda lewati, sukses anda. Karena bahagia itu ada dibalik “sacrifice” (pengorbanan). Anda bisa saja jalan kemana-mana sendiri, lalu bahagia sendiri. Tapi ketika anda memiliki orang-orang yang anda cintai, lalu mengorbankan diri anda untuk membuat orang-orang yang anda cintai menjadi bahagia, you will feel something different. Your life will be meaningful.

Life is all about love. And happiness is all about making the one you love happy. Hidup menjadi bermakna manakala anda berada di tengah keluarga, atau di tengah komunitas masyarakat, dan anda bergerak bersama mereka untuk membuat mereka bahagia. Itu wujud “keshalehan sosial” manusia.

Hidup ini seperti liburan. Seperti wisata. Semua ini hanya permainan. Senda gurau belaka. Secara personal, apapun yang kita lakukan adalah usaha untuk mencari bahagia. Tapi permainan terbaik adalah yang ketika anda berusaha mencari kebahagiaan, pada saat yang sama juga membahagiakan orang lain. Malah, kunci bahagia ada pada saat anda ikhlas menjalani hidup untuk memberikan yang terbaik bagi yang lain.

Itulah kehidupan para nabi, para wali, para utusan Tuhan. Seperti Ibrahim as, mereka adalah ayah bagi semua (father of all nation). Manusia di bumi adalah anak-anak mereka. Anak-anak yang harus diayomi, digendong, diberi petunjuk dan arahan. Bayangkan betapa lelahnya para nabi dan rasul saat mengelola umat ini. Mereka menghadapi anak-anak yang nakal, rewel, marah, suka membantah dan sebagainya. Tanpa kearifan sang ayah, hancur semua.

Para nabi telah merancang perjalanan bagi “anak-anaknya” ke tempat yang indah. Mereka menemani, merawat dan memberi guidance sepanjang jalan, agar anak-anaknya bisa menikmati perjalanan dan sampai ke tujuan. Tapi lihat, bagaimana Musa as dibuat susah oleh rombongannya. Di protes dan dicerca; sepanjang jalan menuju ke “Tanah yang dijanjikan”. Karena mereka semua memang “anak-anak” yang tidak tau apa-apa.

Kita semua “anak-anak”, yang tidak mampu melihat keindahan-keindahan yang ditunjukkan oleh Nabi. Terkadang spirit kita telah dibawa kemana-mana oleh Sang Guru Spiritual. Tapi karena masih terlalu bayi, mata spiritual kita belum melek. Kita tidak mampu “mengalami”. Tanpa pertumbuhan emosi dan spiritual, kita tidak akan pernah sadar, tidak akan mampu “melihat” (mengalami makrifat) dan bahagia.

Jika elemen spiritual masik kanak-kanak, ke syurga pun dibawa, kita tetap akan rusuh dan menderita. Anak-anak, itu hanya bahagia dengan permainan kelas bawah. Main lumpur dan tanah. Permainan-permainan dan senda gurau yang sudah pernah kita lewati dimasa kecil dulu. Tapi, sebagai orang tua (sebagai nabi dan wali); anda harus sabar membesarkan jiwa mereka. Harus punya passion yang tinggi dalam menuntun mereka menuju makam-makam wisata lebih lanjut, makam-makam ketuhanan yang lebih tinggi.

Bagi para nabi, dunia ini juga sebuah permainan. Sebuah “game virtual” (metaverse) yang harus dijalani, tapi dengan tanggungjawab besar. Yaitu, membawa umat menuju kesadaran tertinggi, untuk menikmati keindahan Wajah Allah SWT. Dunia ini sebuah alam senda gurau dan permainan, sebuah dunia wisata, sebelum anda kembali ke kampung yang asli (akhirat). Tapi, dengan sebuah misi suci (salik ilallah), gerak wisata duniawi anda akan bernilai ibadah.

Anda harus tau, orang paling menderita di dunia ini adalah para nabi. Karena memikul tanggungjawab untuk menjadi “ayah”, menjadi pemandu wisata bagi “anak-anaknya” yang memiliki kesadaran sangat rendah, menjadi penggembala untuk domba-domba kecil lagi sesat. Mereka telah memikul amanah yang langit dan gunung-gunung tidak sanggup mengembannya.

Tapi, mereka juga orang paling bahagia. Karena paling tinggi pengorbanannya selama perjalanan. Paling tinggi rasa cintanya kepada kita. Paling tinggi kepasrahannya kepada Allah. Dalam konteks cinta seperti inilah, semua yang dikeluarkan; baik itu uang, keringat, darah dan bahkan nyawa sekalipun; adalah ekspresi dari bahagia.

Kita harus belajar dari para nabi yang membawa “agama cinta”. Agama pengorbanan, agama kepasrahan kepada Tuhan, agama pengabdian. Kalau penapakan kehidupan tidak dilakukan dengan menyerap energi ilahi, kita akan sengsara. Sebab, dunia ini memang permainan yang melelahkan. Coba amati, betapa banyak pasangan suami istri yang ribut justru terjadi saat berwisata. Bahkan bercerai sepulangnya. Alih-alih bahagia, liburan menjadi duka. Karena yang diperoleh selama perjalanan bukan “rasa ketuhanan”. Melainkan aura setan. Marah-marah terus sepanjang jalan.

Rihlah, wisata, atau liburan; itu sejak awal memang harus diniatkan untuk menyerap kebesaran Tuhan. Harus ada dimensi ziarahnya. Wisata itu adalah usaha untuk mengunjungi dan menemukan sesuatu yang bernilai suci, melampaui sekedar pemenuhan nafsu keartisan dan hedonisme belaka.

Ingat. Hidup ini permainan dan senda gurau, hanya sebatas jalan-jalan atau wisata di kampung dunia. Temukan rasa bahagia. Dalam konteks sosial, agar hidup bernilai ibadah, anda harus punya visi untuk berinteraksi dengan sesama, berani berkorban untuk membawa, melayani dan membahagiakan masyarakat dan keluarga anda.

Disisi lain ada kehidupan berbeda. Kita juga “makhluk individu”. Ada saatnya kita menarik diri dari keramaian, dari masyarakat dan keluarga, dari anak dan istri. Lalu menyepi ke gunung, ke gua, ke kelambu, ke mihrab-mihrab pribadi, ke ruang-ruang sepi, ke kamar-kamar yang sunyi; guna membangun “keshalehan pribadi” (membangun relasi personal hanya dengan Tuhan saja).

BACA JUGA: “Metaverse”, Dunia Permainan dan Senda Gurau

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s