KETIKA HASAN INDRAPURI MENIRU HASAN BASRI

image: Makam Imam Hasan Al-Basri, di distrik Zubayr, Basrah – Irak.

Ketika Hasan Indrapuri Meniru Hasan Basri
Oleh Said Idris Athari Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Adalah Hasan Al-Basri (642-728 M). Lahir di Madinah. Digelar “Al-Basri” karena besar dan meninggal di Basrah, Irak. Beliau seorang ahli irfan yang ikut meneruskan transmisi ruhani dalam banyak cabang sufi. Sebagai tabi’in (generasi paska sahabat), ia sempat berguru secara langsung termasuk di kakinya imam Ali -salam atasnya. Bahkan saat kecil pernah disusui Ummu Salamah, salah satu istri nabi yang panjang usia.

Kealimannya sangat terkenal. Pun ahli ibadah. Warak dan zuhud. Wataknya juga kritis. Suka menyeru kepada kebenaran. Menentang kekuasaan yang tidak memiliki sensitifitas sosial. Ia hidup di awal dinasti umayyah. Riwayat keberadaan “abdal” dalam tradisi Sunni (40 wali yang senantiasa menjaga bumi) dipercaya berasal darinya. Ia disebut-sebut sebagai salah satu dari itu pada masanya.

Banyak keunikan terjadi pada sosok ini. Awalnya ia seorang pedagang. Bahkan berjualan jauh sampai ke wilayah Romawi. Pernah suatu masa, ia menghabiskan hari-harinya di Basrah dengan aktifitas komersial. Tapi rugi terus. Makin keras ia berjualan, makin rugi. Semua ilmu bisnis sudah ia tuangkan. Tetap rugi.

Terkesan sekali, Allah tidak senang ia mengurusi usahanya. Sampai kemudian ia merubah pola bisnis. Buka toko hanya sesaat saja. Selebihnya sepanjang hari ia larut dalam shalat dan dzikirnya. Ajaib. Rezekinya berlimpah-limpah.

Dari kejadian seperti ini, ayat At-Thalaq 2-3 mulai bisa dipahami:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ° وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“.. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” (QS. At-Talaq: 2-3).

Ada orang-orang yang sudah dijamin dan disantuni oleh Allah karena ketaqwaannya. Meminjam istilah Robert Kiyosaki, kelompok ini sudah berada pada kuadran “investor”. Tidak lagi bekerja, atau menghabiskan waktu untuk mencari uang. Tapi uang sudah bekerja untuknya. Dalam bahasa sufi, makam orang-orang seperti ini bukan lagi di dunia (uang). Tapi sudah bersama “Pemilik” dunia.

Manusia-manusia seperti ini sudah diperhatikan, dikasihi, dan disayang oleh Allah. Usahanya terlihat kurang. Tapi uang masuknya berlebihan. Kerjaannya hanya “mendampingi” Allah. Sehingga fee dari sisi-Nya masuk terus. Mirip-mirip dengan koruptor. Tidak jelas pekerjaan. Tapi kaya terus. Tapi ini halal.

Sufi sejati seperti itu. Itulah zuhud. Santai. Pensiun dini. Tapi menghasilkan. Nabi Muhammad SAW misalnya. Sejak diangkat jadi Nabi, rizkinya sudah terjaga. Selalu ada “hak Allah dan Rasulnya” dalam setiap transaksi manusia. Hukum syariahnya begitu.

Namun, untuk menjadi seorang yang dekat dengan Tuhan, aduhai, beratnya. Berapa puluh tahun ia harus menginvestasikan zikir dan hubungan yang baik dengan Allah. Begitu juga Hasan Basri dan sufi agung lainnya. Mereka menjadi cerminan jiwa Rasulullah. Sangat bertaqwa. Spiritualnya kuat. Mujahadahnya tinggi. Sehingga rizkinya berlimpah. Masuk dari semua arah. Tidak terduga.

Seribu tahun kemudian muncullah Hasan Indrapuri, kawan kami yang meniru Hasan Basri. Lengkap dengan jubah dan jenggot panjang ala sufi, ia pergi khuruj berhari-hari. Sementara anak istrinya kelaparan, karena tidak ia tinggalkan bisnis yang mapan serta uang yang mencukupi. Ia berharap dan percaya, Allah akan menyantuni dirinya beserta sanak famili. No way!

Ada yang mengira, dengan menjadi sufi, kita bakal bahagia begitu saja. Tidak perlu lagi kerja dan memikirkan harta. Iya, jika level taqwa kita sudah mampu menarik segala sesuatu yang ada di alam semesta. Selama itu belum kita miliki, ya kerja keraslah. Berusaha mati-matianlah. Tetap belajarlah. Sambil terus memperbaiki level energi taqwa kita.

Kalau sudah benar-benar dekat dengan Allah, pasti Allah sendiri yang akan menentukan apa yang terbaik bagi kita. Dia sendiri yang akan bangkrutkan usaha-usaha kita, jika perlu. Guna dibuat kita kaya raya dengan cara menemani-Nya.

“Tapi, kalau belum sampai level itu, janganlah berlagak jadi Hasan Basri. Bisa lapar kau nanti. Berdaganglah, sambil terus memperbaiki zikirmu”, kata Abuya Sufimuda. Ada kalanya engkau berbakat di bisnis, dan dibiarkan terus kaya dengan itu. Bisa jadi bakatmu adalah menjadi asisten Tuhan (wali Allah). Yang tugasnya mengurusi jiwa manusia, dan engkau akan dilimpahi karunia dengan pekerjaan itu. Masing-masing ada jalannya.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
powered by PEMUDA SUFI:
Bahagia, Kaya dan Terpelajar.