DUA MAQAM PERKADERAN

Dua Maqam Perkaderan
Oleh Said Muniruddin | Presidium MW KAHMI Aceh

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Di HMI, anda diajarkan untuk kritis. Argumentatif. Membantah. Menganalisis. Menginterupsi. Menguliti. Melawan. Menolak. Sambil sesekali lempar kursi. Turun ke jalan. Dan bakar-bakar ban.

Setidaknya itulah yang terlihat dari output umum perkaderan. Semua ini bentuk pendewasaan akal untuk “meniadakan tuhan”. Untuk memerdekakan diri dari perbudakan, dengan cara-cara rasional (atau mungkin juga emosional).

Itu bagus!

Melatih kecerdasan akal (otak) itu bagus. Sebab, banyak sekali lalu lalang para penipu di muka bumi. Kalau akal tak hidup, bisa kena tipu anda. Pun dengan hidupnya akal, pertanda sah kita jadi manusia (jadi hewan berakal, hayawanun nathiq). Untuk kaya raya dan sukses berkuasa, terkadang kita juga harus panjang akal (menguasai ilmu pengelolaan dunia materi, semacam bisnis dan politik).

Tapi, jika kita kembali kepada hakikat kemanusiaan, esensi beragama bukan untuk kritis. Bukan untuk menguasai atau memiliki. Tapi untuk tunduk dan patuh. Berserah diri. Melepaskan semuanya. Mengosongkan diri. Pasrah. Taslim. Itu hanya mungkin terjadi, jika kader sudah mengenal Allah. Makrifah. Jika tidak, pasti semuanya dilawan. Dikritisi. Karena dianggap tak ada unsur Tuhannya.

Untuk tembus ke “langit” (dimensi ukhrawi/Tuhan) kita butuh sesuatu yang lain selain akal. Karena itulah kita temukan, banyak filsuf muslim pada akhirnya larut dalam sufisme (Irfan). Otaknya sudah lelah “mengkritisi” alam dan Tuhan. Mereka menemukan kedamaian justru saat menyelami dirinya sendiri. Pintu-pintu langit (latifah) terbuka saat mereka mengakses unsur terdalam dari jiwanya sendiri.

Kalau konsep perkaderan kita umpakan sebagai kalimah: “La ilaha – illa Allah”. Maka HMI hanya mengajarkan “La Ilaha” saja, secara filosofis. Bukan menunjukkan yang mana Allah (illa Allah). Makanya tingkat liberalisme kita sangat tinggi. Kepatuhan kita rendah. Suka melawan. Bahkan melawan orang yang lebih tua (senior). Disatu sisi, metodologi pendidikan semacam ini sangat bagus. Karena segalanya dianggap tidak suci. Bukan Tuhan. Semua setan. Lalu ditentang habis-habisan. Tapi disisi lain, ia tidak pernah melihat dan merasakan Wajah Tuhan yang Maha Suci itu sendiri.

Boleh dikatakan, kita ini mirip-mirip Yahudi yang cerdas akal. Banyak membantah dan suka berdebat. Sehingga membuat para nabi (orang-orang yang sudah berjumpa Tuhan) kewalahan meladeni rasionalitas kita.

Harusnya, kita para kader punya kemampuan menjelma menjadi para nabi. Para wali. Menjadi orang-orang yang mampu berinteraksi secara langsung dengan Allah dan para malaikatnya. Jangan terus-terusan menjadi Yahudi pendebat. Jadi “ummi” (bodoh) aja lah seperti Sang Nabi.

Dari ini kita memahami. Training HMI belum selesai. LK-I sampai LK-III, itu hanya maqam pendewasaan akal. Melatih mahasiswa untuk banyak bicara. Maqam pendalaman Ruhani belum terpenuhi. Sehingga perlu keberanian untuk memperbanyak ruang belajar, mulai dari aula-aula besar sampai kepada kelambu-kelambu kecil. Yang terakhir ini merupakan “gua hirak”, ruang sempit tempat dimana anda diajarkan untuk hening (meditatif), sampai mampu mendengarkan suara-suara dari “langit” (ilham/wahyu).

Saya teringat pesan sahabat sekaligus guru kami “wali kutub” HMI, almarhum Kanda Muhammad Ridha Ramli (pencetus spiritualitas training HMI Aceh). “Tujuan perkaderan adalah untuk melahirkan waliyullah-waliyullah baru”, katanya. Walanya, pernyataan ini membuat para kader bingung. Karena istilah “wali” bukan terminologi training-training liberal otak kiri HMI.

Para wali merupakan waris nabi. Yaitu mewarisi kemampuan dialogis dengan Tuhan. Kemampuan untuk patuh dan pasrah kepada semua kehendak Allah. Sebab, inti kepemimpinan adalah bagaimana cara menyatu dengan Allah. Cara menjadikan Allah sebagai penggerak, pemimpin kita. Kitanya digerakkan langsung oleh Allah, bukan lagi oleh akal dan keinginan ego (nafsu) an sich.

Jadi, HMI memang organisasi “setengah bertauhid” (La Ilaha). Spiritnya tegas menolak hal-hal yang dianggap bukan Tuhan, atau bukan Kebenaran. Tapi ia sendiri tidak pernah berjumpa dan merasakan kehadiran Tuhan yang Maha Benar itu (illa Allah). Maqam perkaderan HMI adalah maqam aqliyah. Bukan maqam ruhiyah. HMI berkutat dengan teks dan rasio (burhani). Bukan dengan Tuhan itu sendiri (irfani).

Sehingga, LK-I sampai LK-III sebenarnya hanya model-model training untuk membesarkan kepala (kognisi) kader. Karena memang dilakukan di ruang-ruang besar. Dengan suara besar-besar. Untuk mengecilkan kepala, membesarkan jiwa dan mempertinggi etika, kita harus masuk ke ruang-ruang salik (spiritual incubation) yang lebih kecil lagi hening. Tempat kita mengunci lidah, lalu menghidupkan qalbu. Tempat kita mendahulukan adab daripada ilmu. Diruang seperti ini akan lahir kader pemimpin dalam kualitas “hamba” (yang mampu mendengarkan secara langsung Kalam Tuhan).

Merujuk kepada Power Vs. Force (David R.Hawkins, 2014); menjadi seorang intelek, nilai kemanusiaannya itu sudah positif. Namun masih berkisar pada angka 400-499. Sementara nilai 500 ke atas, itu sudah masuk pada ranah alam spiritual (revealation/transfiguration/ilumination/pure concsiousness). Nilai 500 ke atas, itu sudah memasuki alam vibrasi kewahyuan dan dimensi ketuhanan. Itulah mengapa, secrdas-cerdasnya Einstein, ia mandek di dunia materi. Sementara sebodoh-bodohnya nabi, mereka mampu menjangkau rahasia (pengetahuan) langit.

Elemen-elemen inti keislaman (seperti love, joy, peace and enlightenment; semuanya merupakan bagian dari bentuk-bentuk rasa ridha dan keridhaan Ilahi) itu bisa ditemukan secara hakiki pada jenjang training 500 ke atas. Ridha Allah (yang merupakan cita-cita HMI) bisa diperoleh secara konfirmatif pada saat adanya koneksitas dan aksesibilitas secara langsung terhadap entitas Ar-Ruh, dengan Tuhan itu sendiri.

Oleh sebab itu, tujuan perkaderan sejatinya bukan untuk “memerdekakan” (ego) kita. Bukan menjadi pembangkang seperti iblis. Tapi untuk “memperbudak” diri menjadi hamba Allah (menjadi Ruh Allah dimuka bumi). Dan itu hanya akan terjadi jika kita bersedia menempuh jalan; serta berhasil lulus dari beragam jenjang mujahadah (training/maqam) perkaderan. Mulai dari level aqliyah sampai ruhiyah. Di masing level ini tentu harus dibimbing oleh seorang super master (walimursyid). Tanpa master yang handal, training akan menjadi training buta. Salik akan menjadi salik buta.

Selamat milad HMI yang ke 74!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin