BINTANG ‘ARASY DI BUKITTINGGI: DOA KAMI DIJAWAB!

Bintang ‘Arasy di Bukit Tinggi: Doa Kami Dijawab!
Oleh Said Muniruddin | Penulis Buku Bintang ‘Arasy

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Harusnya berangkat Jum’at. Tapi jadwal penerbangan Banda Aceh-Medan di cancel. Jadinya Sabtu, 20/02/2021. Kekhawatiran pun muncul.

Benar. Hari Sabtu; sesampai di Kuala Namu, penerbangan Medan-Padang yang seharusnya direct, tiba-tiba dialihkan ke Halim Jakarta. Baru kemudian balik arah lagi ke Padang, Sumatera. Waktu tempuh Banda Aceh-Padang yang cuma 2 jam, kini ditambah transit yang berkepanjangan, delay serta perubahan rute menuju pulau Jawa terlebih dahulu, memperpanjang waktu hampir seharian. Hampir pula pesawat tidak jadi terbang. Gara-gara kondisi runaway Halim Perdana Kusumah yang katanya basah akibat banjir.

Akhirnya, menjelang pukul 20 WIB, sampai juga di Minangkabau International Airport. Malam Ahad itu, pukul 21.00 WIB sebenarnya ada skedul diskusi perkaderan via zoom dengan BPL PB HMI Korwil Sumbar, yang dikelola Andri Juli Saputra dkk. Tapi karena harus segera menempuh perjalanan darat mengisi materi di LK-II Bukit Tinggi, meeting online  ditunda ke esok malamnya.

Hampir 3 jam perjalanan darat, sampai juga di Bukittinggi. Belum sempat istirahat; malam itu, sekitar tiga jam, pukul 00.00-03.00 WIB kami diminta untuk langsung mengisi materi. Topiknya Mission HMI dalam perspektif filosofis-gnostik. Pengayaan spiritual pada malam terakhir itu menjadi penyegar kembali semangat keummatan dan kebangsaan kami semua. Seorang instruktur yang sejak awal mengamati proses berkomentar, “Sejak ikut Basic sampai Advance Training, baru kali ini saya melihat sebuah pengayaan materi yang kontennya penuh dimensi spiritual”.

Selesai materi; pengurus cabang dan BPL masih mengajak diskusi. Sampai subuh. Ya, begitulah. Lelah memang. Tapi ada kebahagiaan tersendiri dapat berbagi apa yang kita ketahui, walau sedikit, kepada teman-teman pengelola training-training kepemimpinan mahasiswa Islam di berbagai wilayah di Indonesia.

***

Setelah istirahat bakda subuh, pagi Ahad itu kami terbangun pukul 9. Perut terasa sangat lapar. Memang dilokasi acara di mess kampus 5 Universitas Negeri Padang (UNP) tersebut ada disediakan makanan. Tapi hati kami bergumam, “Ya Allah, ingin rasanya pagi ini sarapan diluar saja sambil nge-teh santai. Maunya ada yang temani, karena kami tidak tau peta Bukittinggi”. Kami tidak berencana untuk ditemani panitia. Karena pagi itu mereka sibuk mengurusi acara penutupan LK.

Tiba-tiba pintu kamar diketuk. Saat kami buka, muncul sosok yang kami tidak kenal dan belum pernah lihat sebelumnya. Usianya lebih senior, 50an. Namanya Gusmardin. Beliau pengurus PB HMI periode ketua umum kanda M.Fachruddin (1999-2001). Pagi itu beliau baru sampai dari Padang. Sengaja ke Bukittinggi untuk berkunjung ke training. Tapi acara sudah usai. Sudah takdirnya mungkin, ke Bukittinggi untuk menemani kami berwisata.

Hanya sebentar berbincang, beliau langsung bertanya apakah kami sudah sarapan. Lalu diajaknya makan diluar. Doa kami dijawab! Seperti dikatakan Master Spiritual, Abuya Sufimuda: “Jangan pernah ragu dengan ilmu dzikir ini. Kalau lagi lapar di tengah hutan, harimau yang akan kasih makan kalian”. Dzikir merupakan teknologi spiritual yang dapat mengkoneksikan sinyal-sinyal (frekwensi) dalam diri kita dengan sinyal-sinyal (frekwensi) lain yang ada di alam semesta. Semuanya terhubung!

Alhasil, kami seharian ditemani kanda Gusmardin. Agak mudah mengingat nama beliau ini. Karena di Aceh ada teman yang namanya bermiripan, Gusmarwan. KAHMI juga.

Kami jalan-jalan ke pasar Aur Kuning dan mencicipi Sate Laysir yang super enak itu. Lalu ke Jam Gadang, Pasa Ateh dan pusat kuliner nasi kapau di Pasa Bawah. Dari sana lanjut ke Taman Panorama, masuk ke Japanese Tunnel. Keluar dari lubang pertahanan Jepang yang terpanjang di Indonesia itu, kami menaiki Tembok Cina ala Bukittinggi. Napas mulai ngos-ngosan. Tapi untung udaranya sejuk. Bukittinggi memang menjadi salah satu destinasi wisata utama di wilayah Sumbar karena kaya situs sejarah, panorama, dan juga udaranya yang dingin.

Dari atas sebuah bukit kami menikmati pemandangan Ngarai Sianok yang sangat indah. Turun dari situ, motor kembali kami pacu menuju sebuah kawasan resto di tepi sungai di tengah Sianok Canyon, untuk mencicipi Itik Lado Hijau. Dahsyat gurihnya!

Bagi kami. Ini perjalanan ke tiga kalinya ke Sumatera Barat. Sebelumnya, tahun 2015 juga pernah memberi materi LK-II di Kota Padang. Tahun 2013 juga hadir di Universitas Andalas (Unand), saat ditunjuk menjadi salah satu dewan hakim MTQN Mahasiswa bidang Kaligrafi. Waktu itu juga sempat ke Bukittinggi, ditemani bang Edi (salah satu peneliti Indonesia Governance Index di program Kemitraan). Namun waktunya singkat sekali.

Bersyukur kami dapat terus menjalin silaturahmi dengan para alumni dan kader-kader hebat diberbagai wilayah Indonesia. Terima kasih kepada adinda Sabrun Jamil (Ketum BPL HMI Bukittinggi), Muhammad Irvan (Ketum HMI Cabang Bukittinggi) beserta seluruh timnya; yang telah mengundang kami untuk turut menyukseskan LK-II yang hebat ini. Semoga kita semua senantiasa dalam Ridha Allah!

BACA ARTIKEL LAINNYA: SAID MUNIRUDDIN (STUDENTS LEADERSHIP & GREEN-BLACK COMMUNITY)

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin