“THE SMILING HABIB”


“Jurnal Pemuda Sufi” | Artikel No. 04 | Januari 2022


“THE SMILING HABIB”
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Terasa seperti ada yang membisiki: “Borobudur dan Prambanan kau kunjungi, tapi rumah aku yang terletak di ujung jalan ini tidak kau datangi”. Akhirnya pagi ini kami berjalan kaki sekitar 100 meter dari rumah paman istri, tempat kami menginap di samping alun-alun kidul selatan, menuju persimpangan jalan Ibu Pertiwi, Pasar Kliwon, Solo.

Disana ada makam Habib Muhammad Anis bin Alwi bin Ali Al-Habsyi. Populer dengan Habib Anis (5 Mai 1928 – 6 November 2006). Karena murah senyum, dinamai “The Smiling Habib”. Beliau kebetulan juga sosok yang pernah menikahkan kedua orang tua dari istri kami. Namanya tempatnya “Riyadh”, berupa masjid dan komplek makam. Tidak besar memang. Tapi cukup bersih dan rapi.

Kami mengamati, satu persatu orang datang. Lalu pergi. Ada yang bersarung dan berpeci. Ada yang apa adanya. Ada yang pagi-pagi lengkap dengan baju dinas, sebelum ke kantor mampir ke makam ini, sekedar sholat dua rakaat di serambi masjid di sampingnya, berdoa lalu pergi. Ada juga tukang parkir, di sela istirahatnya mampir ke makam; masih dengan celana puntung dan peluit di lehernya, ia terlihat khusyuk berdoa; lalu kerja lagi. Spiritualitas warga. Sederhana, tapi penuh makna.

Kiblat syariat, itu bangunan batu yang suci, bernama Kakbah. Kiblat para salikin, itu juga ada dalam bentuk tempat-tempat suci lainnya, khususnya makam yang di dalamnya terbaring jasad para nabi dan awliya. Seperti halnya Kakbah, makam mereka tak pernah sepi dari para peziarah. Alquran menyebut mereka ini sebagai orang-orang yang semakin hidup. Tidak pernah mati. Mereka adalah orang-orang yang telah mendapat rizki dari sisi Tuhan, dan mampu memberi (mensyafa’ati).

Sebenarnya Tuhan itu “impersonal”. Tanpa Kakbah pun, Dia bisa disembah. Tapi terasa tak ada Wujud. Tak ada arah. Maka, Tuhan juga sangat “personal”. Wujud-Nya, Cahaya-Nya hadir pada diri para kekasih-Nya. Mencari Tuhan yang maha batiniah selalu diawali dengan mencari sosok lahiriah adam, sosok muhammad; para utusan, para ulama dan awliya yang selalu hadir disepanjang zaman.

“Ini tahun silaturahmi”, kami teringat pesan Sufimuda. Ya sudah. Setelah lima hari di Surakarta, kami mampir ke makam ini. Sejenak beriktikaf, dan memohon kepada Allah agar semua kita selalu dalam tilik kasih-Nya.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s