“Jurnal Pemuda Sufi” | Artikel No. 20 | April 2022


“TALI ALLAH”
Oleh Said Muniruddin | RECTOR | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Apa yang dimaksud dengan “tali Allah” (hablillah, QS. Aali ‘Imran: 103)?

“Tali Allah” adalah jaringan komunikasi dengan Allah. Disatu sisi ada anda, disisi lain ada Allah. Antara anda dengan Allah, itu dihubungkan oleh “jaringan” ini. Mirip-mirip HP dengan jaringan sinyalnya, yang dapat menghubungkan kita dengan seseorang yang jauh dan entah dimana.

Kita tidak mungkin berhubungan langsung dengan Allah. Kalau bisa, coba saja. Tidak bisa. Tidak akan terjawab. Tidak akan terlihat. Tidak akan terdengar suara Tuhannya. Kita dengan Allah adalah dua hal berbeda. Harus ada alat untuk menyambungkannya. Harus ada wasilah. Harus ada “tali” yang menyambungkan. Harus ada teknologi, perangkat dan jaringan yang mengkoneksikan kita dengan Allah.

Para nabi dan wali-wali Allah, adalah orang-orang yang punya hubungan “live” dengan Allah. Karena mereka punya “tali”-nya. Punya teknologi yang hidup, yang dapat menyambungkan mereka dengan Allah. Sehingga, aliran laduniah wahyu/Kalam Tuhan mengalir deras dan bisa diterima dengan mudah. Mereka senantiasa bercakap-cakap, mampu berasyik-masyuk, “live” dengan Allah. Dengan teknologi jaringan (“tali”), Allah telah menjadi sebuah wujud objektif bagi mereka. Bisa terlacak dan terhubung dengan-Nya.

Apa itu “tali Allah”?

“Tali Allah” adalah sanad fisik dan ruhaniah, yang menyambungkan anda dengan Rasulullah, dengan  Allah. Baik Rasulullah maupun Allah adalah wujud gaib di “luar” sana, di “atas” sana, atau di “alam” sana. Susah menggambarkan lokasi geografis dari wujud unik yang maha meliputi ini. Terkadang disebut “dalam” dirimu.

Dimanapun Dia, yang jelas dengan “Tali”-Nya. Kring-nya terjadi. Terhubung. “Halo” kita ucapkan disini, “halo” juga akan terjawab dari sana dan itu terdengar di telingamu, terdengar dalam dirimu. Dengan bantuan jaringan (tali/kabel/web), tentu sifatnya sudah wireless, wujud/suara (Tuhan) yang ada “disana” menjadi “disini”. Terpancar dalam diri. Bertajalli dalam jiwa. Hadir dihati. Itu yang disebut “wahdatul wujud”. Pertalian Ruhani dengan ruhani. Bukan fisik dengan fisik. Dia menjadi aktual, immanent dan omnipresent, hadir dalam dirimu dan dapat dirasakan dimana-mana.

Tentu untuk mencapai bentuk komunikasi yang terintegrasi ini harus ada “sanad”, “pertalian komunikasi”, atau “jaringan ruh” yang sambung menyambung antara kita dengan Rasulullah/Allah. Uniknya, “sanad” yang menyambungkan kita dengan Allah adalah justru orang, dengan berbagai gelombang dan sinyal yang unik (Ruh Muqaddasah Rasulullah) yang ia bawa dalam dirinya dan tentu berasal dari Tuhan. Sehingga ia disebut sebagai “utusan” (rasul/pewaris rasul/wali Tuhan). Orang-orang seperti ini merupakan “satelit” ilahi, dengan infrastruktur dan suprastruktur yang dapat memfasilitasi manusia untuk mengenal (bermakrifat/terhubung) dengan Allah.

Sehingga dikatakan, barang siapa mengenal “imam” pada zamannya, maka ia akan mengenal Tuhannya. Imam adalah sanad, tali, satelit, atau perangkat yang memiliki sinyal-sinyal yang dapat menghubungkan kita dengan Allah. Kalau perangkat HP mampu anda aktivasi, mampu anda sambungkan dengan satelit; maka anda akan terkoneksi kemana-mana. Begitu juga dengan diri anda, kalau mampu anda aktivasi dan sambungkan dengan jiwa pemilik sanad; maka anda akan terhubung dengan alam-alam yang lebih tinggi.

Karena kita bodoh, maka harus ada orang yang mampu mengaktifasi HP kita. Apalagi ini terkait ruhani yang sangat halus dan begitu misteri. Sedikit yang punya pengetahuan tentangnya. Maka harus ada spesialis yang mampu mengaktivasi ruhani kita. Sebaik-baik orang yang dapat mengaktivasi itu adalah si pemilik jaringan itu sendiri. Itulah “mursyid”, seorang wali, pembantu, operator sekaligus pembawa sinyal dari Allah ta’ala. Tugasnya membimbing dan mengaktivasi jiwa si murid agar tersambung dengan Tuhannya.

Kita bisa saja komat-kamit 24 jam sholat dan berdoa. Tapi, tanpa sanad ruhaniah, tanpa tali jaringan dengan Allah, tanpa pertolongan dan syafaat Gurumu (operator Allah); doa dan bacaan fasih kita akan tercerai berai di dinding masjid. Tidak sampai naik ke langit. Akhirnya, seperti kata Nabi SAW: jadi buih semua kita. Merdu tapi kalah. Ramai tapi lemah. Muslim, tapi tidak berpower.

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ

“Berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (kabel koneksi/satelit) Allah, janganlah bercerai berai…” (QS. Aali ‘Imran: 103).

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin