TIGA HARI BERTURUT-TURUT

image: emaze.com
image: emaze.com

TIGA HARI BERTURUT-TURUT
Oleh Said Muniruddin

Suatu hari Suwayda bin Ghafla menemui khalifah Ali bin Abi Thalib di istana pemerintahan. Saat itu waktu sarapan. Dia melihat, di depan khalifah hanya ada secangkir susu dan beberapa roti gandum yang sudah kering, keras, dan tidak mengandung mentega atau minyak sedikitpun.

Suwayda melihat sang sang khalifah, imamul muttaqin Ali KWH bersusah payah memotong roti-roti tersebut. Lalu ia memanggil pelayan imam Ali dan berkata, “Fizza… tidakkah kau kasihan dengan majikanmu? Kenapa tidak kau beri pemimpin kita ini roti yang lunak dengan olesan mentega?”

Fizza si pelayan menjawab, “Kenapa aku harus kasihan, beliau sendiri tidak kasihan pada dirinya sendiri. Tahukah engkau wahai Suwayda? Ia memerintahkan kami para pelayannya untuk memakan roti yang lebih baik dari apa yang dimakannya, sementara ia perintahkan kami untuk tidak menambah apapun di atas rotinya.”

Mendengar ini Suwayda berkata kepada imam Ali bin Abi Thalib, “Wahai tuan… Kasihanilah dirimu. Perhatikan umurmu, perhatikan betapa berat tanggungjawabmu, perhatikan juga pola makan mu.”

Sang imam menjawab, “Suwayda, engkau tidak tau apa yang kurasakan, engkau tidak tau apa yang pernah kulihat, engkau tidak tau apa yang pernah dialami Nabi. Dia pernah tidak makan selama 3 hari berturut-turut.”

Ini jawaban seorang khalifah dan juga imam, yang sebenarnya mampu membeli seluruh makanan yang ada di Arab, tetapi justru memakan apa yang dimakan seorang pengemis di pinggir jalan. Ingatannya tentang kelaparan Nabi SAW dalam perjuangan, membuatnya kehilangan selera terhadap kemewahan makanan.

Dan ini jauh berbeda dengan memori kita, yang cenderung menyimpan berbagai hawa nafsu kemewahan ketika berbuka puasa. Dan meninggalkan para fakir, pelayan, dan anak-anak yatim untuk terus menyantap roti-roti busuk mereka.*****

————
Disari dari: Musnad Ahmad bin Hambal, dalam “Gold Profile of Imam Ali”. SMJ. Askari, 2007.