TENTANG PEREMPUAN KITA

image: islamlib.com

“Tentang Perempuan Kita”
Oleh Said Muniruddin

Waktu itu April 2008, saya mendapat kesempatan magang di kantor Wirtschaftförderung Region Stuttgart (WRS). WRS merupakan semacam Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pemerintah yang berdiri sejak 1995 dan bertugas mengurusi pengembangan bisnis dan investasi di wilayah Stuttgart, ibukota negara bagian Baden-Wurttemberg, Jerman.

Bersama 15 teman lainnya dari Filipina dan Vietnam, saya berada di negeri ini selama setahun dan dibiayai oleh Kementerian Ekonomi Jerman untuk mengikuti training pengembangan ekonomi regional. Termasuk salah satu bagian dari program ini adalah magang selama 3 bulan yang difasilitasi oleh inWEnt, sebuah LSM Pemerintah yang bergerak di bidang Capacity Building skala internasional. Keseluruhan catatan pelajaran dan pengalaman saya di Jerman ini telah saya tuangkan dalam buku “International Leadership Training in Regional Economic Development: Lessons Learnt From Germany”, 2008.

***

Seperti biasa, pada minggu pertama magang, saya diminta mempresentasikan sedikit latar belakang saya dan negara saya kepada sekitar 40 staf di kantor ini. Untuk itu saya persiapkan beberapa slides, termasuk perkembangan bisnis di Indonesia dan pengaruh Jerman disana. Salah satu bagian penting dari pertemuan ini adalah memperkenalkan Aceh kepada mereka sebagai bagian dari regional marketing serta peran Jerman selama masa rehab rekon.

Presentasi berlangsung informal menjelang makan siang. Ternyata tidak banyak yang mereka ketahui tentang Indonesia, selain Bali. Yang justru membuat mereka “surprised” adalah cerita tentang Aceh.

Sebelum membahas kondisi ekonomi dan bisnis paska tsunami, saya bercerita sedikit tentang sejarah Aceh. Tujuannya, agar mereka bisa melihat region ini sebagai sebuah “entitas tua” di Asia Tenggara. Tentunya juga dengan harapan agar mereka punya respek terhadap saya, karena berasal dari daerah yang (pernah) “berperadaban”.

Perhatian mereka sangat tinggi saat mendengar Aceh sebagai sebuah entitas kerajaan yang sudah menjalin hubungan dengan Eropa sejak abad 16. Saya juga tambahkan, bahwa Aceh bahkan terlibat dalam perpolitikan Eropa sejak awal, misalnya dengan mendukung perjuangan Pangeran Maurits – pendiri dinasti Oranje Belanda – melawan Spanyol. Pada tahun 1602, Aceh sudah mengirim duta besar untuk Eropa, termasuk Abdul Hamid (mungkin ia orang Indonesia pertama yang menginjakkan kakinya di Belanda), yang makamnya sekarang ada di pekarangan gereja Middleburg – Belanda. Saat itu, kata saya sambil bercanda, “negara Jerman bahkan belum berdiri.” Mereka cuma tersenyum saja.

Selanjutnya saya jelaskan, pada abad 16 Ratu Elizabeth – I sudah melakukan surat menyurat dan melakukan kerjasama dengan Aceh. Ia juga mengirimkan utusan dagangnya. Aceh memiliki mata uang yang digunakan sebagai alat tukar perdagangan internasional. British Museum di London memiliki koleksi sejumlah dirham Aceh. Selain dengan Inggris, Belanda, dan Perancis, kerjasama resmi lainnya saat itu juga sudah terjalin dengan Turki dan Cina. Perhatian mereka semakin dalam menyimak informasi tentang koneksi internasional Aceh pada abad-abad awal.

Yang kemudian juga membuat mereka “wow” adalah informasi tentang “state leadership.” Mereka tidak menyangka bahwa pada periode awal ini, perpolitikan Aceh yang penduduknya hampir seluruhnya Muslim, turut dipimpin oleh para perempuan yang punya keberanian, kecerdasan dan keahlian sangat tinggi. Saya menyebutkan nama 5 orang ratu (sulthanah) tersebut: Shafiatuddin, Naqiatuddin, Zaqiatuddin, dan Zainatuddin. Mereka memerintah periode 1641-1699 masehi.

Bagi mereka, informasi ini cukup menarik. Karena sebagian besar Eropa saat itu masih berada pada masa ketertindasan perempuan dalam kehidupan ekonomi, sosial dan pemerintahan. Sementara Aceh sudah punya admiral dan jenderal-jenderal perempuan yang memimpin perang melawan Eropa, termasuk Portugis dan Belanda. Saya menyebutkan beberapa nama seperti Malahayati (abad 16-17), juga figur-figur abad 19 dan 20 seperti Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, dan Pocut Baren dan Pocut Meurah Intan.

Aceh juga memiliki warisan ribuan kitab yang saat ini dikoleksi oleh museum dan perpustakaan mancanegara, termasuk Belanda dan Malaysia. Diantara kitab-kitab itu terdapat sebuah warisan buku (kitab sufistik) yang ditulis oleh Pocut Di Beutong. Jika terkait tulis menulis, maka perempuan ini mungkin menjadi perempuan Indonesia pertama yang melahirkan karya intelektual yang luar biasa. Mata mereka sedikit terbelalak mendengar ini, sambil berkomentar dalam bahasa Jerman, “Wunderbar!” (Inggris: wonderful, luar biasa).

Pesentasi terkait Aceh dan Indonesia berlangsung satu jam. Tetapi ketertarikan mereka pada saat sesi pertanyaan masih sekitar “kedigjayaan perempuan.” Bagi mereka, ini sesuatu yang luar biasa. Mereka belum pernah mendapat informasi unik seperti ini tentang kemajuan perempuan di wilayah Islam di Asia, pada saat di Eropa para perempuannya justru masih dalam masa ‘kegelapan.’

Sebelumnya harus saya katakan, bahwa presentasi “mengagung-agungkan masa lalu” adalah khasnya gaya bicara orang Aceh. Kami orang Aceh cenderung melihat ke belakang, lalu bangga dengan itu. Begitu larut dengan sejarah sehingga lupa bagaimana seharusnya kami membangun masa depan. Tapi untuk kondisi presentasi seperti ini, setidaknya ada sesuatu yang bisa diceritakan. He.. He..

Makanya pada sesi akhir dari pertemuan ini muncul sebuah pertanyaan, “Bagaimana kondisi perempuan di Aceh dan Indonesia sekarang?”. Tetapi disini saya tidak akan menguraikan apa jawaban saya kepada mereka saat itu. Saya anggap pertanyaan itu juga ditujukan kepada kita semua hari ini. Silakan dijawab masing-masing.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s