“40”

image: Ngobrol sore di CMY Caffee, Lamprit – Banda Aceh (Rabu, 2/5/2018)

“40”
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. “Pada usia 40, seorang manusia biasa bernama Muhammad bin Abdullah sudah mampu berkomunikasi dengan Jibril as. Bermula dari pengalaman seperti itulah Beliau SAWW memperoleh kesadaran dan pengetahuan tertinggi dari Tuhan. Bagaimana dengan kita, setua ini, apa progres spiritualitas yang sudah kita punya?” Itu mukaddimah diskusi kami pada suatu sore di CMY Caffee, Lamprit, Banda Aceh. Rata-rata kami hampir berusia 40.

Misteri Angka 40

Angka 40 sangat misterius. Angka ini menjadi simbol kesempurnaan sebuah perjalanan. Al-Quran menyebut angka ini sebanyak 4 kali. Misalnya, terkait dengan kesempurnaan perjalanan Musa as untuk bertemu Allah swt:

وَوَاعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ۚ وَقَالَ مُوسَىٰ لِأَخِيهِ هَارُونَ اخْلُفْنِي فِي قَوْمِي وَأَصْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيلَ الْمُفْسِدِينَ
“… maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam” (QS. Al-‘Araf: 142)

Pada ayat lainnya, angka 40 ini juga menjadi ukuran kesempurnaan pertumbuhan manusia. Sehingga pada saat kita mencapai usia tersebut dianjurkan membaca doa:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“… sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai…” (QS. Al-Ahqaf: 15)

Banyak amalan dalam mistisisme Islam yang terkait angka ini. Peringatan kematian seseorang juga ada hari 40-nya. Kesyahidan Imam Husain cucunda Nabi SAWW, misalnya, juga ada hari arba’in-nya. Dalam tradisi tarekat juga dikenal dengan puasa dan dzikir 40 hari. Dalam hadis-hadis juga ada arahan tentang hafalan 40, “Barang siapa yang menghafal 40 hadis dan memeliharanya, ia akan dibangkitkan kelak dalam kelompok orang-orang alim”. Dalam hadis lain disebutkan, “Barang siapa yang shalat 40 kali—dalam riwayat lain 40 hari—di Madinah Rasul, maka ia terbebas dari kemunafikan.” Dalam Sunni, Imam Nawawi menyusun Al-Arba’in An-Nawawiah. Dalam Syiah, Imam Khomeini menulis 40 hadis pilihan. Ada banyak hal terkait kesakralan angka ini.

Signifikansi Usia 40
Dalam literatur sufistik, usia 40 dikenal sebagai periode split-off. Pada puncak (kematangan) usia inilah seseorang bergerak menuju proses akhir, baik ke arah “kanan” (yang hidupnya dinaungi malaikat) ataupun ke arah “kiri” (yang hari-harinya akan dikuasai syaitan). Golongan kanan disebut “ashabul yamin” (QS. Al-Waqiah 27). Sedangkan yang ke kiri dinamakan “ashabusy syimal” (QS. Al-Waqiah: 41):

وَأَصْحَابُ الْيَمِينِ مَا أَصْحَابُ الْيَمِينِ
“Dan golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu” (QS. Al-Waqi’ah: 27)

وَأَصْحَابُ الشِّمَالِ مَا أَصْحَابُ الشِّمَالِ
“Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu?” (QS. Al-Waqiah: 41)

Penting sekali pada usia 40 kita sudah menjadi orang baik. Sebab, 40 tahun hidup sudah seharusnya kita mencapai kematangan untuk menerima pengetahuan-pengetahuan yang lebih tinggi dari Tuhan. Kalau itu tidak terjadi, bahaya kita.

Contoh untuk kita ikuti adalah Muhammad SAWW. Ia mengalami pencerahan spiritual yang luar biasa pada usia tersebut. Itu tidak terjadi serta merta. Wadah yang ia miliki sudah sangat memadai untuk itu. Sebab, sejak muda ia sudah membina kepribadiannya sedemikian rupa, sampai dikenal sebagai Al-Amin (paling bisa dipercaya).

Ia juga menjalani proses pembersihan diri yang berterusan, dan ini digambarkan lewat prosesi tarekat yang ia tempuh melalui perenungan, dzikir dan khalwat. Lalu tibalah pada sebuah titik dimana ia mengalami “quantumisasi” spiritual. Ia memiliki kemampuan untuk mengakses alam jabarut, alam malakut sampai kepada alam rabbani. Usia 40 merupakan usia monumental bagi seseorang untuk berjumpa Tuhan. Pada titik ini, anak Siti Aminah yang sangat penyayang ini benar-benar membuka komunikasi dengan malaikat.

Berkaca pada perjalanan Muhammad SAWW, kita juga harus terus mengup-grade kemampuan mental spiritual untuk hidup pada alam yang lebih tinggi. Jangan berterusan merayap pada dunia binatang (basyariah). Hanya alam yang lebih tinggi yang bisa menghantarkan kita menjadi insan paripurna (insan kamil). Insan paripurna memiliki jiwa yang hanif, hidup dengan ilham dan petunjuk dari Tuhan. Bukan dengan nafsu binatang.

Maka jangan menunggu tua untuk menjadi baik. Kalau sudah lewat usia 40 sudah susah jadi baik. Ada orang yang sampai usia 40 masih suka mengambil hak-hak orang. Paska usia tersebut, ini orang bakal jadi koruptor ulung. Setelah usia 40, kita hanya mendalami dari apa yang sudah terbentuk. Kalau jahat, biasanya semakin jahat. Kecuali satu dua yang benar-benar memperoleh hidayah untuk bertaubat.

Pun memperbaiki diri saat sudah mencapai usia 40 adalah pekerjaan yang maha berat. Karakter kita sudah terbentuk. Makanya disebutkan, syaitan akan mencium kening seseorang yang sudah mencapai usia 40, namun timbangan keburukannya lebih berat dari amal kebajikan. “Welcome to hell”, kata syaitan. Selamat datang di neraka. Syaitan seperti menemukan kawan yang akan menghuni neraka bersamanya pada sosok-sosok yang pada usia 40 masih berbuat maksiat.

Usia kita sebenarnya sangat singkat, hanya 40 tahun. Sisanya hanya refleksi dari apa yang sudah kita bangun. Maka usia muda tidak boleh diabaikan. Jangan tunggu tua. Perbaiki diri segera untuk menyambut angka 40. Tak ada yang lebih disukai Allah swt selain anak muda yang rajin beribadah, dengan cara menyembah-Nya dan membantu sesama.

Jangan sampai 40 tahun awal dari usia kita larut dalam kejahilan. Kalau itu terjadi, ini sama seperti Bani Israil yang tersesat selama 40 tahun dalam Padang Tih: “… maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu…” (QS. Al-Maidah: 26).

Kalau anda membaca Al-Maidah ayat 21-26, anda akan tau, Bani Israil ini disuruh oleh Allah swt untuk berjuang masuk ke “tanah suci”. Tetapi dengan berbagai alasan mereka tidak mau melakukannya. Maka sesatlah mereka selama 40 tahun. Itulah perumpamaan kita yang sejak muda sudah tau seperti apa kehidupan yang baik dan suci, tetapi enggan melangkah kedalamnya. Maka sesatlah kita.

Tulisan ini untuk mengingatkan saya pribadi dan kawan-kawan pemuda lainnya. Agar sejak dini punya kesadaran yang tinggi untuk tidak memberi celah bagi perilaku nista. Bagi anda yang sudah tua, anda sendiri bisa merasakan sedang menuju kemana, syurga atau neraka, berdasarkan apa yang sudah anda bangun selama 40 tahun sebelumnya. Intinya, tak ada yang bisa menyelamatkan kita, selain taubat. Parahnya, semakin lanjut usia, semakin suci kita merasa.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s