MUSA AS BERJUMPA ALLAH

image: Gunung Sinai, Mesir (skyaboveus.com)

Musa as Berjumpa Allah
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Sebagaimana nabi-nabi lainnya, Musa as juga bertarekat. Tarekat (tariqah) adalah bentuk kesempurnaan ajaran Islam. Semua nabi “Islam”. Semua nabi bertarekat. Tarekat adalah “jalan” menuju perjumpaan dengan hakikat (Dzat) Allah.

Sebagai “agama teori”, Islam berisi doktrin-doktrin tentang adanya Tuhan dengan berbagai sifat dan perbuatan. Sedangkan sebagai “agama realitas”, Islam berisi metode praktis untuk berjumpa langsung dengan Allah. Ini yang disebut tarekat (sufisme).

“Pada dimensi tarekat inilah terletak kesempurnaan agama Islam”, kata Sufimuda. Sebab, tanpa tarekat, Islam hanya berhenti sebagai agama teori. Tidak bisa mempertemukan kita dengan Allah. Maka yang dimaksud “Islam kaffah” adalah keislaman yang bisa berjumpa dengan Allah. Karena inti agama adalah perjumpaan dengan Allah. Bukan teori atau sekedar percaya kepada (adanya) Allah.

Mereka yang sudah mampu berjumpa Allah disebut “insan kamil” (manusia sempurna/insan paripurna). Akhlaknya indah sekali.

Nabi Musa as bertarekat

Surah Al-‘Araf 142 menjelaskan prosesi tarekat yang dijalani Musa as. Selama 40 malam ia melakukan ritual awal (suluk) untuk bertemu Allah. Dalam tarekat memang ada yang dikenal dengan zikir 40 hari. Ini bagian dari proses penyucian diri (tadzkiyatun nafs).

Memang berat untuk menjalani tarekat. Letak beratnya adalah karena harus meninggalkan “dunia.” Makna dunia adalah berbagai kenikmatan, kenyamanan dan pekerjaan kita sehari-hari. Termasuk yang terberat adalah meninggalkan keluarga, anak dan istri. Hal ini selalu dialami orang yang hendak bertarekat. Selalu ada alasan dan halangan ketika hendak menempuh jalan menjadi salik.

Tetapi Musa as bertekad untuk bertemu Allah. Ia tinggalkan rutinitasnya. Ia serahkan semua pekerjaannya kepada saudaranya Harun. Seperti diceritakan dalam Surah Al-‘Araf ayat 142:

وَوَاعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ۚ وَقَالَ مُوسَىٰ لِأَخِيهِ هَارُونَ اخْلُفْنِي فِي قَوْمِي وَأَصْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيلَ الْمُفْسِدِينَ

“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan” (QS. Al-‘Araf: 142).

Perjumpaan (melebur) dalam Allah

Kemudian pada Surah Al-‘Araf ayat 143 dijelaskan bagaimana dalam proses perjalanan tarekat ini Musa as berjumpa Allah.

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman” (QS. Al-‘Araf: 143).

Memang ada proses yang membuat seluruh dimensi ruhiyah Musa as menjadi tajam. Pada awalnya ia sudah mampu mendengar Allah ‘berkata-kata’. Ini digambarkan dengan komunikasi langsung antara Allah dengan Musa: “Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya”. Pada level ini, telinga batin Musa sudah mampu menangkap kehadiran Allah.

Musa as belum puas. Ia melanjutkan suluknya dan berharap bisa mencapai “alam rabbani” guna melihat Dzatnya. Ini digambarkan dengan kalimat: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Musa menginginkan mata batinnya juga tajam.

Untuk mencapai level ini dibutuhkan kapasitas ruhani yang lebih kuat. Dalam bahasa yang sangat metaforis, Allah mengatakan: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku…” dan seterusnya dengan beberapa pengecualian.

Lalu barulah Musa as bisa melihat Allah (syuhudi) setelah seluruh hijab yang menghalangi dirinya dengan Allah runtuh. Ini dikiyaskan dengan: “dijadikannya gunung itu hancur luluh”.

Lalu, “Musa jatuh pingsan.” Inilah tahap perjumpaan (lebur) bersama Allah, dimana seluruh kesadaran rasional akademisnya hilang (dibahasakan dengan “pingsan”). Memang begitu. Ketika menyatu dengan Allah, mulut menjadi terbungkam. Tak ada kata-kata yang bisa melukiskan pengalaman itu.

Pada puncak epifani inilah terbangun kesadaran ruhiyah yang tinggi (enlightment). Seorang Musa as sudah memiliki qalbu malaikat yang senantiasa bertasbih. Kehidupan sehari-hari senantiasa dipenuhi istighfar dan taubat agar koneksi ilahiyah senantiasa hidup. Inilah yang disebut keimanan pada maqam “haqqul yakin.” Semua penjelasannya ada di penghujung ayat: “Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.”

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****