1000 BALON HIJAIYAH MENERANGI LANGIT PIDIE

1000 BALON HIJAIYAH MENERANGI LANGIT PIDIE
Catatan Eksklusif Pembukaan MTQ Aceh ke-34
Oleh Said Muniruddin I Supervisor I Guntomara “Islamic Art & Architecture”

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Sehari menjelang malam pembukaan MTQ, langit gelap. Disusul hujan deras yang mengguyur kota Sigli. Beberapa sudut taman arena utama ikut basah dan sedikit tergenang. Sampai sore besok, rintik-rintik masih berjatuhan. Panitia lokal yang telah bekerja selama berbulan-bulan mulai was-was. Semua berdoa. Demikian juga kami, tidak henti-hentinya memandang langit seraya berharap:

“Ya Allah, dengan berwashilah kepada Ruh Suci, Kekasih dan Rasul-Mu yang mulia, berilah kemudahan acara kami dalam mensyiarkan agama dan ketinggian seni Alquran ini. Jika Engkau memang menginginkan tetap terjadinya hujan, kami rela. Namun kalau bisa, malam ini hujannya pindahkan ke tempat lain saja. Jangan Engkau biarkan kami sedih setelah sedemikian serius berusaha.”

image: lapangan masih basah setelah hujan

Ternyata. Doa kita semua dijawab. Malam itu, mulai dari Beureunuen arah ke utara dan timur Aceh diguyur hujan. Kota Sigli dibuat teduh oleh Allah dalam selimut awan. Anda harus tau. Hanya karena rahmat dan ridha-Nya semata, acara ini dapat terlaksana.

***

image: Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Dewan Hakim

“Pembukaan MTQ termegah”, sebut T. Mardhatillah dari PPQ-DSI Aceh yang sudah malang melintang dalam pengelolaan MTQ. “Luar biasa, disain MTQ Provinsi Aceh kali ini dan mengingatkan saya pada MTQ nasional di Mataram NTB tahun 2014, good job”, kata ustadz Muhammad Iqbal yang pernah menjadi peserta terbaik saat mewakili Indonesia pada MTQ Internasional di Teheran Iran tahun 2014. Lain halnya ibu Rachmawati Muchtar salah satu panitera MTQ dari Kanwil Kemeng Aceh yang singkat berujar: “spektakuler”.

Komentar-komentar ini muncul di grup WA Dewan Hakim MTQ Aceh XXXIV tahun 2019. Lebih dari 100 Dewan Hakim pada tujuh bidang lomba turut menjadi tamu undangan yang menempati balkon lantai 2 gedung utama MTQ pada malam pembukaan, Sabtu 21 September 2019. Jelas sekali, opening ceremony kompetisi seni Alquran tiga tahunan tingkat provinsi di Sigli pada malam itu meninggalkan memori tersendiri bagi para pengunjungnya.

***

Malam itu. Acara belum dimulai. Masyarakat sudah membludak. Jalanan macet. Disebut-sebut, ini acara pembukaan MTQ Provinsi yang paling banyak penontonnya. Puluhan ribu orang. Masyarakat yang harusnya berada dibelakang tenda-tenda undangan menyeruak sampai ke pinggir lapangan. Tarian kolosal “Meusyuhu” yang dikoreografi dek ih, dipadukan dengan sentuhan koreografi lighting arstistik sepanjang acara oleh FAM Production mulai membius perhatian. Seratus siswa-i SMU se-Kabupaten Pidie mempertontonkan tarian yang diiringi syair-syair menggugah jiwa. Live streaming oleh GlamourPro pada setiap detil prosesnya sangat membantu aksesibilitas acara pembukaan malam itu.

Tatapan mata pengunjung sekejap beralih ke tiga layar besar videotron. Film “The Spirit of Pidie” diputar. “Video berdurasi 8 menit produksi GlamorPro mengulas peta masuknya Islam sampai ke pelosok-pelosok Pidie. Peradaban Islam di kabupaten ini telah meninggalkan berbagai situs sejarah dan manuskrip kuno. Pidie tidak hanya memiliki keindahan alam, tetapi juga spiritualitas yang tersembunyi. Dengan semangat Alquran, kabupaten ini kiranya dapat berkontribusi bagi masa depan Aceh yang cemerlang. Selamat menyaksikan!”, ulas MC.

image: Tilawah Pembukaan oleh Ihsan Ab

Lantunan ayat-ayat suci oleh Ihsan Ab menggema merdu. Beliau juara pertama tilawah dewasa pada MTQ ke-33 di Aceh Timur tahun 2017 silam mewakili Pidie. Saritilawah teatrikal oleh Izzah membuat suasana malam makin syahdu. Penonton khusyuk berdiri saat mengikuti Shalawat Badar dipimpin Tgk. Nauval. Lagu Indonesia Raya dan Mars MTQ yang dinyanyikan grup vocal Kabupaten Pidie di balkon lantai 2. Penonton yang sejak tadi sudah terlanjur merapat ke lapangan, secara sukarela mundur memberi ruang untuk Paskibraka Pidie mengibarkan bendera MTQ.

image: Komunitas Sketsa Aceh

Musik soft “Allahu-Allah” dari Sami Yusuf setia menyelingi laporan panitia. Abusyik berbicara, dilanjutkan penyerahan piala bergilir dan sambutan oleh Ir. Nova Iriansyah, MT. Sesekali dilayar lebar terlihat empat anggota Komunitas Sketsa Aceh sedang mengabadikan suasana. Mereka duduk dipinggir-pinggir lapangan mengorat-oret view gedung dan atmosfer malam itu ke dalam kanvas dan kertas lukis. Diakhir acara, lukisan telah selesai. Karya Amrisatria, Mujibatur Rahmi, Azkiadilla Irda, dan Dian Hasri ini direncanakan akan dipajang dalam gedung utama sebagai dokumen MTQ.

image: Penekanan Sirine Pembukaan MTQ

Puncak acara ditandai penekanan sirine oleh Plt. Gubernur, didampingi Bupati dan Wakil Bupati Pidie. Lampu tiba-tiba mati. Suasana gelap. Suara gemuruh petir dan angin padang pasir serasa membawa jiwa para pengunjung jauh ke 1453 tahun silam. Waktu itu, dalam kegelapan Gua Hirak sang Nabi terakhir menerima wahyu pertama “Iqrak”. Tgk. Ilyas ‘berposisi’ sebagai Jibril as membacakan lima ayat pertama surah Al-‘Alaq. Diikuti puisisasi arti. Badai padang pasir beserta guntur terus bergemuruh di langit Mekkah. Seolah-olah seperti enggan menerima wahyu yang maha berat. Sungguh bodoh manusia yang bersedia menerima amanat Allah.

image: Pelepasan 1000 Balon Hijaiyah Bercahaya (Serambi Indonesia, Minggu 22/9/2019)

1000 balon hijaiyah bercahaya (terisi lampu LED) dilepas ke langit Pidie oleh 40 anggota Pramuka dan Tim SAR Pidie. Pada balon-balon ini tercetak huruf-huruf hijaiyah. Sembari menyaksikan balon yang terus membumbung tinggi, terdengar pesan-pesan filosofis tentang makna atraksi ini. Sebuah hadis dari Ibnu Mas’ud menyebutkan: “Huruf hijaiyyah adalah nama Allah yang terbesar.” Riwayat lainnya dari Ibnu Abbas mengatakan, “Alif lam mim, tha sin mim, ha mim, nun dan yang serupa lainnya adalah nama-nama yang penuh rahasia yang dengannya Allah bersumpah”. Ali bin Abi Thalib kwh juga berkata: “Tidak ada satu huruf pun kecuali semua bersumber pada nama-nama Allah”.

image: Tim SAR dan Pramuka sedang membawa Balon Hijaiyah

Alquran tersusun dari huruf-huruf hijaiyah. Huruf yang dimulai dari “Alif” sampai “Ya” merupakan simbolisasi dari asma Allah. Maka malam itu, 1000 balon bercahaya bertuliskan Hijaiyah diterbangkan di atas langit Pidie sebagai wujud spirit dari pelaksanaan MTQ. Dalam dentuman petir dan guntur, munajat-munajat diperdengarkan: “Ya Allah, dengan huruf-huruf Alquran-Mu yang suci, kami memohon, terangilah hati kami. Ya Allah, dengan huruf-huruf Alquran Mu yang tinggi, perhalus budi pekerti kami. Ya Allah, dengan huruf-huruf Alquran Mu yang mulia, sempurnakan petunjuk Mu untuk gerak kami dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.”

Lampu “MTQ XXXIV Provinsi Aceh” tiba-tiba menyala, disambut bacaan surah Al-Maidah ayat 3 oleh Tgk. Imran Abdullah sebagai simbolisasi kesempurnaan Islam dan Alquran: “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu..” (QS. Al-Maidah: 3). Kemenag Pidie Drs. H.M. Daud Pakeh menutup acara secara resmi dengan doa. Lalu dilanjutkan sampai tuntas dengan devile kafilah.

image: “Habib Rumoh Raya and the Gangs” di Arena MTQ

Acara pun selesai. Namun sampai lewat tengah malam para pengunjung masih menikmati musik-musik islami dan video-video ringan di arena MTQ. Ada pula yang menelusuri ruang-ruang gedung untuk mengabadikan keindahan bangunan. Sebagian masyarakat berdiri antri dipanggung utama untuk berfoto dengan pasukan Salahuddin Al-Ayyubi yang ‘didatangkan’ secara khusus dari Kurdi. Lengkap dengan brewok, baju perang, tombak dan pedang; mereka seperti ditugaskan untuk mengamankan acara MTQ. Tiga orang ini merupakan anggota sanggar teater Institute Seni Budaya Indonesia (ISBI).

image: Plt. Gubernur menikmati suasana pembukaan MTQ ACEH XXXIV 2019 di Pidie

Plt. Gubernur tidak menduga acaranya akan sedemikian apik. Beliau menyangka pembukaan MTQ hanya sebuah seremoni biasa lainnya: serah terima piala bergilir, lalu masing pihak berlomba memberi kata sambutan. Ternyata tidak demikian. “Jumlah hadirin luar biasa, diluar ekspektasi kami. Pidie memang hebat. Pidie memang beda”, komentarnya.

Kesuksesan acara malam itu tidak terlepas dari keseriusan Pemerintah Pidie sebagai tuan rumah MTQ Aceh XXXIV tahun 2019. Jempol patut diberikan kepada Abusyik dan Fadhlullah TM Daud beserta jajarannya. MTQ Provinsi terakhir diadakan di Pidie 32 tahun silam pada 1987 saat dipimpin Bupati Nurdin AR. Keberhasilan acara malam ini tentunya juga dengan dukungan penuh dari Pemerintah Aceh, khususnya Plt. Gubernur, termasuk unit pelaksana dibawahnya seperti UPTD Pengembangan dan Pemahaman Al-Qur’an (PPQ) DSI.

image: Tim Leader Guntomara, Said Husain, berfoto dengan Pasukan Salahuddin Al-Ayyubi

Team leader Guntomara “Islamic Art and Architecture” Said Husain turut menyampaikan terima kasih telah dipercayakan sebagai organizer pembukaan MTQ. Jauh hari sebelumnya, Guntomara dimandatkan menyiapkan disain ornamental Gedung dan Arena MTQ Aceh XXXIV yang terletak di Gampong Lampeudeu Baroh Tijue, Kecamatan Pidie ini. Perpaduan arsitektur Islam dan ornamentasi Aceh terbukti sangat memanjakan mata pengunjung yang hadir. Guntomara adalah sebuah konsultan seni yang fokus pada disain ornamental islami masjid-masjid di Aceh. Guntomara yang memiliki workshop dan kantor di Banda Aceh, saat ini juga sedang terlibat dalam pembuatan Masjid Agung Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan.

image: Tim Sukses Guntomara “Islamic Art & Architecture”

***

Tampilan meriah pembukaan MTQ juga menyisakan poin-poin kritis sebagai bahan evaluasi. Membludaknya pengunjung tidak terantisipasi dengan pengamanan yang memadai. Sehingga menimbulkan sedikit ketidaknyamanan para undangan. Tenda dan sejumlah kursi yang seharusnya diisi oleh tamu, habis diisi oleh masyarakat. Bahkan ada Satpol PP yang dimarahin ibu-ibu, gara-gara disuruh pindah. “Betul-betul acara milik rakyat”, sebut salah satu pejabat yang tidak kebagian tempat duduk. Kursi-kursi dan space dipanggung utama pun ikut dikerubungi ‘tokoh-tokoh’ yang tidak terdeteksi. “Sang cit peunyaket tanyoe hawa duek ateuh panggong mandum”, celutuk salah satu dari mereka sambil tersenyum.

image: view kepadatan pengunjung dari panggung utama

Selain itu, akibat masyarakat yang berhamburan ke lapangan, view para kafilah yang duduk di bawah tenda ikut terhalang. Untunglah semua proses acara masih dapat dinikmati melalui videotron. Pun pengaturan gerak devile kafilah 23 kabupaten/kota menjadi tertahan karena pengunjung yang terlalu memadati badan jalan. Namun semua kendala ini tidak mengganggu substansi acara secara keseluruhan.

***

image: Dewan Hakim bidang MKQ

Sebagai salah satu Dewan Hakim yang terlibat dalam MTQ provinsi kali ini, saya menyadari, pekerjaan terberat sesungguhnya bukanlah pada membuat acara MTQ dengan segala seremonialnya. Tantangan terbesar adalah bagaimana membumikan nilai-nilai Alquran. Bagaimana mentransform teks menjadi energi. Bagaimana merubah kaidah sastra menjadi perilaku mulia. Tugas terpenting para pendakwah adalah membuktikan “kekeramatan” (mukjizat) dari Alquran. Ketika dikatakan ayat itu dapat menghancurkan gunung, seperti yang dibaca Ihsan Ab saat pembukaan acara MTQ: “Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah…” (QS. Al-Hasyr: 21), bisakah itu terjadi? Buktikan! Silakan baca ayat. Lalu nilai sendiri betapa efektifnya alunan bacaan kita. Apakah gunung bisa hancur, laut dapat terbelah, orang sakit menjadi sembuh?

image: Qs. Al-Hasyr 21 (Collection of Tareq Rajab Museum)

Oleh sebab itu, setelah selesai dari kompetisi membaca, menghafal, menulis, mengulas dan memahami Alquran dalam MTQ yang penuh dengan syariat (hukum-hukum, kaidah atau aturan); kita punya pekerjaan lanjutan untuk menemukan thariqat (“jalan”, cara, metodologi atau teknis teknologis) yang dapat menyebabkan setiap bacaan, hafalan, ceramah dan tulisan kita memiliki power yang “menghancurkan”, “menyembuhkan”, “menghidupkan”, “menerangi”, “membedakan”, “menunjuki”, “menguasai”, dan “memakmurkan dunia”. Sebab, selain punya wujud lahiriah teks yang memiliki elemen seni membaca, menghafal, menulis dan memahami yang sangat tinggi; Alquran mengandung kekuatan batiniah yang maha dahsyat dalam wujud qadim-nya yang tidak berhuruf dan bersuara. Ini akan kami bahas dalam tulisan lainnya dalam tajuk: “The Power of Quran”.

Meskipun demikian, even seperti MTQ senantiasa dibutuhkan sebagai syiar awal untuk membangun kesadaran masyarakat guna mencintai mushaf Alquran. Alhamdulillah, tidak ada kitab suci manapun di dunia ini, selain Alquran, yang diapresiasi sedemikian rupa dalam berbagai bentuk perlombaan. Kepada semua pihak yang telah berusaha mensukseskan kegiatan MTQ kami doakan agar semuanya senantiasa dalam cahaya Alquran.

Selamat berkompetisi!

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s