MENG-UPGRADE GELOMBANG “RUH”


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No. 43 | Juni 2021.


MENG-UPGRADE GELOMBANG “RUH”
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Secara saintifik, ruh dapat dipahami sebagai “gelombang”. Suatu getaran yang merambat, bolak-balik dalam suatu interval waktu tertentu. Selama perambatannya, gelombang ini senantiasa membawa energi. Itulah mengapa, dalam bahasa agama, mereka yang ruhnya “hidup” disebut sebagai orang-orang yang hatinya “bergetar”. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetar hatinya (QS. Al-Anfal: 2).

Nama dengan Pemilik Nama tidak pernah terpisah. Itulah mengapa, kalau mengingat Allah langsung keramat kita. Langsung terhubung dengan Allah. Itu hanya akan terjadi, jika gelombang ruh kita sudah ter-upgrade. Gelombang inilah yang menyambungkan manusia dengan sesuatu, termasuk dengan Tuhan. Melalui getaran ini kita bisa terkoneksi dan berkomunikasi. Dengan apapun dan siapapun. Getaran atau gelombang adalah bahasa paling sederhana, yang tidak berhuruf dan bersuara.

Sebagai sebuah gelombang, ruh bertingkat-tingkat. Tasawuf klasik menjelaskan ini dalam berbagai nama. Nafs, akal, dan ruh. Jiwa, ruh, dan sirr. Ruh, qalbu, fuad, dan sirr. Ruh bendawi, ruh nabati, ruh hewani, ruh insani, dan ruh-Qudus. Diri terdiri (zahir), diri terperi (batin), diri tajalli, diri sebenar diri, dan diri empunya diri. Dan sebagainya. Itu istilah-istilah 1000 tahun lalu untuk menjelaskan panjang “gelombang”, atau tingkatan ruh dalam diri manusia.

Sekarang, dengan meminjam terminologi gelombang radio misalnya; kita dapat memahami makna dan cara kerja ruh secara lebih saintifik.

***

Ruh itu bertingkat-tingkat. Ada yang berbentuk gelombang  AM, ada yang FM. Semuanya ruh. Tapi panjang gelombangnya beda-beda. Melalui dua bentuk gelombang inilah manusia bisa  berkomunikasi/berinteraksi dengan berbagai jenis wujud. Melalui ruh gelombang AM manusia berinteraksi dengan dunia empirik-rasional. Sedangkan melalui gelombang FM, very high frequency ruh (VHF), manusia mampu mengakses informasi-informasi langit secara “bersih”.

Nah, ketika Al-Quran menyebut tentang ruh, kita perlu waspada. Ruh dengan panjang gelombang mana yang dimaksud: AM, atau FM? Ruh yang membuat kita sekedar hidup merayap di muka bumi, atau ruh yang membuat kita hidup disisi Tuhan?

(1) Ruh Level AM

Ruh AM adalah gelombang rendah manusia. AM artinya amplitude modulation. Termasuk dalam kategori ini adalah  short wave ruh (SW) dan medium wave ruh (MW).

Ruh SW adalah gelombang yang ada pada dimensi materialitas manusia. Sebagai makhluk materi, manusia itu “hidup” (punya gelombang, getaran dan energi). Meskipun Tuhan baru “meniupkan” ruh kepada janin pada usia 4 bulan, disebutkan demikian, tapi jauh hari sejak pertama pembuahan; sel-sel sperma dan ovum itu sebenarnya sudah hidup. Punya gelombang dia. Terus tumbuh dan bergerak.

Artinya, pada level materi, semua makhluk (tanpa kecuali) secara alamiah telah mendapat “tiupan” ruh. Sehingga menjadi hidup. Jadi tidak ada yang namanya benda mati. Dalam hal ini saya sepakat dengan Mulla Sadra (1572-1640 M), yang dalam Al-Hikmah al-Muta’aliyyah fi al-Asfar al-Aqliyyah al-Arba’ah mengatakan, terjadinya jiwa (ruh) bersamaan dengan terbentuknya fisik. Jiwa dan materi bukan dua hal yang terpisah. Semua atom di alam semesta ini terus bergerak. Punya ruh. Hidup. Ikatan antara keduanya bersifat keharusan (luzumiyyah). Islam secara alamiah. “Bertasbih”, begitu Alquran menyebutnya.

Jadi, pada level paling rendah, itulah ruh yang menggerakkan dunia materi secara alamiah. Kehidupan adalah ruh.  Manusia, hewan, binatang dan tumbuh-tumbuhan; semua memiliki ruh ini. Ruh atau gelombang energi inilah yang membuat jantung berdetak, tubuh bergerak dan berkembang biak. Dalam hal ini, ruh (gelombang) yang dimiliki manusia sama secara biologis dengan yang ada pada binatang. Pada titik ini, manusia dan binatang, sama.

Karena ini adalah gelombang yang menyeluruh ada pada semua benda dan makhluk di muka bumi, maka gelombang ini sama dengan gelombang SW.  Sebarannya luas. Universal. “Merambat kemana-mana”. Ada pada semua bentuk dan wujud materi. Namun masih dalam kategori gelombang rendah. Karena “terpancar” dari bumi, dari tempat yang “pendek”. Dari dimensi materialitas apapun.

Gelombang ini sifatnya kasar. Tidak halus. Manusia dengan binatang, dengan gelombang ini menjadi sama. Sama-sama buas. Penuh nafsu. Berfikir jangka pendek. Mudah terganggu. Short wave. Yang penting survive. Gelombang SW dalam diri kita merupakan insting dasar kemanusiaan, ruh paling kasar, yang hanya mampu menangkap sinyal-sinyal alam.

Gelombang ini, meminjam istilah gelombang MW, hanya bermain sampai level ionosfer. Tidak tembus ke langit. Masih bermain-main diseputaran bumi. Ruh ini hanya berfungsi sebagai basic insting, untuk survival of the fittest. Bukan untuk menemukan Tuhan. Gelombangnya bersifat positifis. Sesuatu dikatakan “ada” ketika wujudnya bisa dicerap secara inderawi. Gelombangnya menolak eksistensi dan penyembahan secara sadar terhadap Tuhan. Karena dianggap Wujudnya tidak terdeteksi.

Orang-orang yang hidup dengan gelombang pendek tidak akan mampu mendengar “suara Tuhan”. Karena itulah, gelombang (ruh) SW ini dianggap tidak bersih. Belum suci. Rendah. Berdengung. Banyak distraksi. Manusia-manusia yang hanya hidup melalui gelombang ini tidak akan pernah memahami hakikat hidup, dan tidak akan pernah mengenal Tuhan. Sehingga hidupnya bermasalah, dan membawa masalah. Dhalim dan koruptif.

Dalam perspektif ilmu gelombang lainnya; short wave ruh merupakan bentuk “infrasonar” (low rate vibration) dalam diri manusia. Gelombang-gelombang halus alam jabarut. Resek. Rusuh. Berdengung. Ramai. Tidak jelas. Noise. Gelombang-gelombang halus ini sebenarnya hanya untuk dijangkau oleh otak binatang. Sehingga; jika terus hidup dalam gelombang ini, manusia menjadi stres, galau dan was-was. Sebab, masuk informasi-informasi fasik yang tidak jelas. “Iblis” dan “setan” bergentanyangan pada gelombang ini. Hidup dengan gelombang ini, membuat manusia susah berfikir jernih, mudah lelah, jatuh dan binasa.

Selanjutnya ada “akal”, bentuk ruh medium wave ruh (MW). Meskipun masih berdimensi materi (baharu), gelombangnya sudah lebih luas. Gelombang ruh ini membantu manusia untuk menangkap “tanda-tanda” Tuhan secara rasional-empirik. Walaupun belum mampu mengetahui hakikatnya secara jernih.

Manusia adalah hayawanun nathiq. Hewan yang memiliki ruh/gelombang infrasonar (insting hewaniyah). Sekaligus berakal (intelek/sonar). Akal inilah yang membentuk “manusia”. Dengan akal, manusia bisa maju. Peradaban juga dibangun dengan gelombang rasionalitas. Akal punya banyak kelebihan. Disatu sisi, daya jangkaunya tinggi. Ia bisa merambat kemana-mana. Manusia bisa saja tau segalanya, menurut versinya. Ia bisa mengakses kumpulan informasi yang disediakan oleh akalnya. Oleh persepsinya. Oleh Tafsirannya. Itu kelebihan akal.

Akal merupakan ruh berdimensi MW. Gelombangnya kelas menengah (medium wave). Sudah mampu menangkap eksistensi Tuhan, secara intelek. Akal mulai percaya kepada adanya Tuhan, walau tidak bisa dirasakan getarannya secara substansial. Akal sudah mulai cerdas. Tapi belum cukup cerdas untuk menyentuh Tuhan. Namun akal bisa kembali berubah skeptis. Bisa menjadi atheis. Kalau tertarik lagi ke dimensi short wave.

“Skeptis” inilah yang menjadi duri dalam daging. Orang berakal percaya kepada sesuatu. Tapi belum tentu bisa menjangkaunya. Kita percaya Tuhan, tapi tidak bisa bertemu dengan-Nya. Akhirnya jatuh dalam tradisi percaya-percaya saja. Dan itu nilainya tidak konfirmatif. Tidak membawa kepada kebahagiaan. Karena tidak sampai pada level perjumpaan. Maka dibutuhkan efektifitas ruh dengan gelombang yang lebih tinggi, untuk membawa akal manusia ke alam musyahadah. Betul-betul menyaksikan dan merasakan apa yang sebelumnya ia yakini ada.

(2) Meng Up-Grade Gelombang Ruh menjadi FM/VHF

Manusia merupakan “teknologi” karya Tuhan yang paling keren. Mirip-mirip teknologi modern. Ada bentuk fisik, sekaligus sinyal. Wujudnya material, sekaligus spiritual. Manusia, walau secara kasat terlihat sebagai makhluk material; keseluruhan wujudnya tersusun dari gelombang, kesadaran, vibrasi, getaran, atau energi. Substansi manusia adalah ruh, gelombang yang membuat kita menjadi hidup.

Pada level atom dan materi, ada bentuk gelombangnya tersendiri. Pada level quark (gelombang cahaya), ada jenis getarannya juga. Sampai ke dimensi “void” (cahaya yang lebih halus/cahaya di atas cahaya), manusia juga gelombang suprasonar yang maha dahsyat. Gelombang yang mampu mengkoneksikan dirinya dengan Tuhannya.

Beragama adalah usaha untuk menyempurnakan diri (meng up-grade gelombang ruhiyah), dari satu level ke level yang lebih tinggi. Dari gelombang basyar (amplitudo wave/AM),  ke gelombang insan (frequency modulation/FM). Dari sekedar manusia biasa, menjadi “manusia sempurna” (membawa frekuensi ilahiyah).

Untuk menjadi manusia yang bergelombang tinggi, ruh kita harus terus menerus “ditiup”. Dibersihkan. Disucikan. Dibesarkan. Sehingga menjadi kuat dan jernih. Proses pendewasaan ruh adalah proses penyempurnaan wujud. Proses aktualisasi potensi menjadi aksi. Alquran menyebut ini sebagai proses penciptaan kejadian dan penyempurnaan manusia. Kesempurnaan sisi kemanusiaan ada pada proses pengembangan gelombang ruh. Dari ruh kasar/kotor (AM), ke Ruh Quddus (FM).

Proses ini yang ditempuh para nabi, baik sebelum menjadi nabi, maupun saat sudah menjadi nabi. Nabi itu manusia biasa. Makhluk “bumi” dengan gelombang SW dan MW. Merasakan sakit, lapar dan dahaga. Bisa marah, sedih, senang, dan lainnya sebagaimana manusia lainnya. Tapi juga berhasil menjadi makhluk “langit”, pembawa wahyu. Satelit Tuhan. Keseluruhan dirinya tersambung dengan long wave Nur Muhammadi (LW/FM/VHF). Sehingga informasi yang mereka terima sudah sangat bersih, pure, dan suci.

Metodologi meng-upgrade ruh itu ada dalam tradisi tasawuf dan tariqah. Tentu yang dibimbing oleh seorang yang punya otoritas dari Tuhan (wali/mursyid), yang punya kemampuan “meniup” (mentalqinkan) ruhani para murid. Sehingga jiwa murid naik ke alam yang lebih tinggi, terkoneksi dengan entitas-entitas malakut dan bahkan dengan Tuhan itu sendiri. Proses pendewasaan ruh adalah proses penyempurnaan wujud yang terjadi secara terus menerus, tanpa henti. Proses salik. Proses aktualisasi potensi menjadi aksi. Proses meng-upgrade gelombang ketuhanan dalam diri.

Bahkan sebenarnya tidak ada yang namanya kematian. Dalam konsep sufisme, yang ada hanyalah keabadian. Ruh yang merupakan energi, berasal dari sisi Tuhan, sifatnya kekal. Tidak bisa diciptakan juga tidak bisa dimusnahkan. Dia hanya berpindah tempat, atau berubah dari satu bentuk ke bentuk lain.

Jadi tidak aneh jika sudah terlatih, ruh kita bisa berpindah tempat dalam seketika. Semua bisa terhantar dengan sangat cepat. Tentu ada washilahnya (medium penghantar). Sehingga mampu melakukan perjalanan horizontal (israk). Karena ruh (gelombang) ini merupakan substansi yang bersifat transenden, kita juga bisa melakukan perjalanan vertikal (mikraj).

Para sufi juga mampu mensimulasi mukjizat. Mampu menghidupkan dan menyembuhkan, secara instan. Ini hanya teknik mengubah atau mentransfer gelombang ruh dari satu media ke media lainnya. Dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Bahkan mereka bisa berada di dua tempat berbeda, dalam satu waktu. Bahkan berada dimana-mana dalam seketika. Ini hanya permainan gelombang.

Kalau ruh sudah level expert, gelombangnya sudah tinggi, anda bisa menjadi juru selamat. Sebagaimana ruhnya para nabi dan wali-walinya. Sudah menjadi satelit Tuhan. Menjadi utusannya. Artinya, ketika sudah mencapai gelombang tinggi, ada unsur keilahian dalam diri anda. Ada media penghantar yang kuat bagi orang-orang untuk mengenal Tuhan melalui anda. Anda bisa menjadi buraq bagi manusia. Bisa memberi syafaat. Bisa memberi keampunan. Bisa membawa sinyal-sinyal istighfar yang dikirim kepada anda, ke sisi Allah.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin

One thought on “MENG-UPGRADE GELOMBANG “RUH”

  1. Pingback: APA TANDA AKRAB DENGAN ALLAH? | Said Muniruddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s