BERANI BERSUMPAH

image: figur-figur pemuda dalam kabinet Indonesia Maju 2019-2024

Berani Bersumpah
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Hidup yang benar senantiasa diawali dengan “sumpah.” Ketika akan diberi kehidupan, Allah bertanya: “Apakah Aku ini Tuhanmu?”. Kita menjawab, “Benar, kami bersaksi bahwa Engkau Tuhan kami” (QS. Al-‘araf 172).

Pun saat berislam, bersumpah dulu. Bahwa “Tidak ada Tuhan selain Allah.” Ini semua kalimat kesaksian dalam level sumpah. Tidak main-main.

Berorganisasi juga banyak yang begitu. Ada bai’at atau sumpahnya. Jadi pegawai pun begitu. Sebelum bekerja disumpah dulu. Semua profesi yang punya nilai tinggi ada sumpahnya.

Maka hebat sekali ketika para pemuda berkumpul untuk bersumpah membangun negeri ini. Ikrar untuk kesatuan “tanah air, bangsa dan bahasa” pada 28 Oktober 1928 itu sesuatu yang luar biasa. Iktiqad yang baik ini menjadi spirit bagi kemerdekaan dan terbentuknya entitas Indonesia.

image: “Soempah Pemoeda” 28/10/1928.

***

Jadi sekali lagi, tidak hanya secara sosial kita butuh “sumpah” (ikatan/kontrak) untuk membangun, untuk pertumbuhan personal juga begitu. Maka perlu kita susun sumpah-sumpah (resolusi) yang baik bagi kemajuan diri kita. Dengan adanya perubahan yang baik pada diri kita tentu nantinya akan berdampak positif bagi orang lain.

Misalnya, untuk jangka pendek, jawablah pertanyaan ini: “Apa sumpah yang dalam 7 hari, 40 hari, 100 hari, atau setahun kedepan akan anda penuhi?”. Sumpah yang ingin dicapai bisa satu, dua dan sebagainya. Kalau terlalu banyak pun tidak reasonable. Apalagi untuk waktu yang singkat.

Ada berbagai pengertian “sumpah.” Sumpah yang kita maksudkan disini adalah sebuah komitmen lahir batin untuk mewujudkan hal-hal penting bagi diri dan masyarakat kita. Dalam hal ini, Allah tetap menjadi sumber motivasi. Tanpa sumpah yang berdimensi ilahiyah (bismillah, wallah, atau lillah), semua harapan menjadi tak bertenaga. Tidak bernilai ibadah. Qul, innashalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil’alamin. Katakan, “sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (QS. Al-An’am: 162).

Sumpah yang harus kita miliki dalam jangka pendek dapat berupa apapun. Bisa sebuah tekad yang bersifat personal, sosial, spiritual, finansial, edukasional, dan sebagainya.

Contohnya begini. Bagi anda yang sudah berusia matang, mungkin sumpah untuk segera menikah. Yang sedang tumbuh rasa spiritualitas, mungkin janji untuk melazimkan zikir dan mendisiplinkan shalat. Yang masih berpendidikan rendah, mungkin kebulatan niat untuk mengambil S2 atau S3. Yang ingin mandiri, mungkin inisiatif untuk memulai sebuah usaha pribadi.

Cita-cita merupakan visi jangka panjang. Tetapi, tanpa tindakan operasional dalam jangka segera, maka cita-cita tetap menjadi sebuah bintang yang tak terjangkau di langit sana.

Yang paling sulit dari sesuatu adalah memulainya. Mungkin karena tak pernah dimulai itulah sebuah cita-cita terus menjadi hayalan. Ibarat seseorang yang berharap bisa segera memproduksi skripsi, disertasi, buku dan sebagainya. Tapi tak satu kalimat pun ia goreskan setiap harinya.

Maka penting untuk berani “bersumpah.” Untuk segera melakukan sebuah kegiatan, tindakan atau aksi yang bisa memperbaiki nasib diri dan masyarakat kita. Sebab, tak peduli berapapun usia anda, sumpah adalah sesuatu yang membuat anda terus menjadi muda (enerjik). Sumpah adalah cita-cita yang hidup.

Maka bagi kita para pemuda Indonesia, khususnya yang tergabung dalam Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), tidak cukup hanya hidup dalam memori sumpah organisasional yang sudah berusia 91 tahun itu. Kita harus terus menerus membangun sumpah baru (komitmen-komitmen personal) untuk memperbaiki diri dan bangsa ini.

Ada yang menarik dengan berita dalam beberapa hari ini. Ditengah arus pragmatisme yang membuat kaum muda Indonesia gagal bersumpah untuk memperbaiki diri dan bangsanya, beberapa pemuda profesional justru diberi kesempatan pada pemerintahan periode 2019-2024 untuk mengelola urusan paling krusial di republik ini, seperti pendidikan serta ekonomi dan investasi.

Ada Nadiem Makarim (Mendikbud), Erick Thohir (Menteri BUMN), Wishnutama (Menpareko-kreatif) dan Bahlil Lahadalia disana (Kepala BKPM). Kita tidak tau bagaimana performa mereka nantinya. Tapi kita masih menaruh harapan, para pemuda mampu memberi kontribusi signifikan dalam memperbaiki sistem edukasi dan usaha di negeri ini. Mampu memfasilitasi lahirnya masyarakat Indonesia yang cerdas dan kaya raya.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****
___________________
powered by PEMUDA SUFI:
Bahagia, Kaya dan Terpelajar. 

1 Comment

  1. Ridwandi

    Uraian yang menyentuh, kanda.
    Kami juga akan memperbaharui “sumpah-sumpah” sudah mulai kehilangan “ruh”nya. Yakin usaha sampai.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s