“SUDAH BERAPA LAMA KITA MATI?” (MENGHIDUPKAN PARADIGMA MAKRIFAT DALAM DUNIA AKADEMIK)

 

“SUDAH BERAPA LAMA KITA MATI?”
(Menghidupkan Paradigma Makrifat dalam Dunia Akademik)

Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Tahun demi tahun terus berjalan. Usia semakin bertambah. Ada yang mau pensiun. Alih-alih bertanya sudah berapa lama hidup; pertanyaan sebenarnya adalah: “Sudah berapa lama kita mati?”

Kenapa harus bertanya begitu?

Sebab, ada perbedaan mendasar antara orang “hidup” dengan orang “mati”. Pembahasannya bukan dalam pengertian tradisional. Sebab, dari sudut pandang klinis; mati adalah berhentinya nafas, detak jantung, sel, serta fungsi otak dan biologis lainnya. Dengan demikian, hidup adalah berfungsinya seluruh organ itu. Jika ini yang disebut “hidup”, kita tidak berbeda dengan satwa. Padahal, yang disebut “manusia” melampaui fungsi-fungsi kebinatangan.

“Mati” yang dimaksudkan disini adalah berhentinya fungsi-fungsi qalbu (ruhaniah). Dengan demikian, “hidup” adalah aktifnya dimensi ruhaniah. Al-Qur’an cenderung bicara hidup dan mati dalam bentuk substansial ini. Orang-orang yang “hidup” adalah mereka yang hatinya bercahaya (memiliki ilmu hakikat/haqq), sehingga dapat berjalan secara haqqul yakin di tengah masyarakat sesuai kehendak Tuhan. Dalam istilah lain, hati yang hidup disebut “bergetar” (QS. al-Anfal: 2). Dalam konsepsi kaum salikin dinamai muraqabah, ‘gemerincing lonceng’, isyarah atau sinyal akan kehadiran Tuhan.

Berbeda dengan orang “mati”, hatinya gelap, tidak terhubung dengan ilmu atau cahaya Tuhan. Sehingga mereka tidak punya pengetahuan pasti, lalu menganggap baik apa yang diperoleh atau kerjakan (merely perceptual). Itulah problem paradigma positivistik. Berujung skeptis (ragu/”kufur”). Bukan memperoleh keyakinan absolute. Sebab; semua diolah oleh akal, persepsi dan perasaan yang rapuh bahkan tidak valid. Bukan oleh putusan yang Haqq (pasti). Sementara Islam mendorong kita untuk memperoleh pengetahuan yang haqq (pasti). Sehingga kita memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk “berjalan” (mengambil langkah atau bertindak) di tengah manusia:

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan” (QS. Al-An’am: 122).

***

Apa itu “qalbu yang hidup”, dan mengapa itu penting?

Kami ilustrasikan begini. Anda punya handphone. Bagus sekali. Mahal pula. Merek nomor 1. Terbaik di dunia. Masalahnya cuma satu: simcard-nya tidak hidup! Lalu mulailah anda jinjing Hp keren yang tak punya sinyal itu kemana-mana. Memang terlihat ada. Gagah. Keren. Tapi sesungguhnya itu tidak berguna. Hanya menjadi aksesoris saja. Kehilangan makna secara hakiki.

Kemana arah cerita ini?

Itulah kita. Jasad ada. Dibungkus baju baru. Sepatu mahal. Dengan bedak dan minyak wangi yang aduhai. Lalu pergi ke masjid. Ke kampus. Ke kantor. Ke mall. Kemana-mana. Masalahnya cuma 1: “hati” (qalbu) tidak hidup. Sehingga tidak terkoneksi dengan Allah. Tidak dapat menangkap pesan-pesan langit. Tidak mampu berkomunikasi dengan Allah. Tidak bisa menerima hidayah. Tidak pernah memperoleh ilham. Terhalangi (terhijab) untuk disapa oleh Allah. Semua keputusan yang kita ambil menurut maunya kita (menurut yang “aku” anggap baik). Tanpa pernah memperoleh “izin” atau “otorisasi” secara faktual dari Allah.

Sehari-hari kita merasa hidup. Padahal, mati disisi Allah. Qalbu adalah “simcard”, untuk terkoneksi dengan Allah. Kalau itu belum diaktivasi, maka kita tidak akan pernah memperoleh SMS, WA dan telepon dari-Nya. Banyak pengetahuan yang ingin Dia transfer setiap hari. Tapi wadah kita tidak cukup kuat. Banyak hal yang bisa kita unduh (download) dari “atas”. Tapi jaringan Wi-Fi malakutinya “mati”.

Kalau qalbu belum hidup, Allah menyebut kita sebagai “mayat”. Karena tidak bisa diajak mesra. Maka qalbu harus “dihidupkan” terlebih dahulu, untuk bisa “berkumpul kembali” dengan Yang Maha Hidup. Itulah misi para intelektual (ulama) utusan Tuhan dan para warisnya. Mereka bertugas menginisiasi teknologi hati bagi para murid (ummat), sehingga Allah yang Maha Gaib (Batin) bisa dijangkau dan kembali menjadi Maha Nyata (Dhahir). Al-Quran sengaja diturunkan kepada ahlinya, guna kita ikuti seruan (metodologi) mereka agar gelombang ruhiyah dalam qalbu kita hidup:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan” (QS. Al-Anfal: 24).

Anda boleh saja berhubungan dengan teks-teks suci (huruf-huruf mati). Tapi petunjuk dari Yang Maha Hidup harus bisa diperoleh. Kalau tidak, kita akan senantiasa meraba-raba dalam qiyas, tafsir, reka-reka, duga-duga, dan kira-kira. Baik buruk, halal haram, benar salah, senantiasa dalam argumentasi. Merasa benar. Boleh jadi benar, dan besar kemungkinan juga salah.

Padahal, kalau ragu dengan sepotong riwayat; bingung dengan satu informasi dan kondisi; daripada kita akal-akalin pemahamannya serta “memandang baik apa yang kita kerjakan” (sebagaimana disindir dalam QS. Al-An’am 122 di atas); kenapa tidak kita “telpon” langsung, jika Allah itu memang ada, Maha Mendengar, dan Maha Berkata-Kata. Sesulit itukah menjangkau Allah? Sejauh itukah Dia? Sepelit itukah Allah untuk bersedia berbisik-bisik dengan kita? Padahal Dia Maha Baik, Maha Dekat, dan ada dimana-mana.

“God is Dead”, kata filsuf Jerman Friedrich Nietzsche (1844-1900). Tuhan sudah mati. Benar. Itu untuk kita yang tidak mampu bertegur sapa dengan Tuhan. Dia sudah kita isolasi. Tuhan sudah tidak ada. Sehingga semua gerak kita, murni milik ego (nafsu) rendah kita, tanpa pernah terkonfirmasi kebenarannya kepada Tuhan. Brutalitas dan radikalisme beragama semua lahir dari kematian Tuhan. Semua diolah dengan akal dan nafsu (kehendak diri). Walau diiringi pekik takbir. Kita menganggap itu semua baik. Keputusan-keputusan politik, sosial dan bisnis juga begitu. Tidak pernah kita afirmasi kebenaran pastinya dengan alam pikiran Tuhan.

Agama itu tentang Tuhan. Kalau tidak akrab dan interaktif dengan Yang Maha Pengasih Penyayang, tinggalkan saja agama anda. Karena itu agama sekuler. Agama yang memisahkan anda dengan Tuhan. Cari agama yang dapat mempertemukan, menyatukan anda dengan Allah. Paling tidak, cari metodologi (mazhab/tariqah) yang mampu membawa anda masuk ke dimensi lebih dalam dari agama. Lebih dari sekedar hafal dan baca-baca. Melainkan “bertemu” (liqa’) dengan Wujud yang diajak bicara.

Ada perkembangan menarik yang merambah ke dunia akademik. Sejumlah muslim schoolars mulai merintis cara baru (paling tidak, baru untuk kita) dalam memperoleh pengetahuan. Jika sebelumnya terfokus pada ortodoksi “syariah” (yurisprudensi), kini mereka berusaha melangkah ke paradigma “makrifah” (ilahi). Mulai ada gerak dari penguasaan teks-teks mati (suci) an sich, ke vibrasi nyata spiritualitas dunia ilahi. Dari pengetahuan tekstual-historikal, ke kontekstual-ladunial. Dari kemampuan membaca kompilasi Alquran dan hadis, ke berbicara langsung dengan Pemilik semua itu. Dari cuma tau nama-Nya, ke berhadapan wajah dengan-Nya.

Saya penasaran, siapa akademisi kita yang bakal mencapai maqam itu. Tapi setidaknya, dunia kampus sudah mulai cemburu untuk mencicipi pengalaman wahyu (ilham). Meski tidak harus menjadi nabi. Usaha untuk menauladani pengalaman spiritual orang-orang shaleh (wali), sudah muncul. Meskipun ada yang masih menganggapnya sebagai “omong kosong”. Kita mengapresiasi keberanian kaum intelek untuk bergeser dari paradigma positivisme yang selama ini cenderung membuat kita: “tuli, bisu dan buta, dan tidak pernah bisa kembali (bertemu/konek dengan Allah)” (QS. Al-Baqarah: 18).

Tantangan  meraih martabat keilmuan yang agung ini akan diawali dari: “mengenal Tuhan”. Jika seorang mahasiswa misalnya, tidak kenal yang mana dosen pembimbingnya, mustahil ia bertemu dan mendapat bimbingan. Begitu juga dengan Tuhan. Sekedar tau nama tidak memberi banyak manfaat. Kita harus mengenali-Nya. Yang mana Dia. Baru kemudian bisa diajak “bicara”. Kalau tidak, selamanya kita akan ngomong dengan tembok.

Dinamika spiritualitas intelektual dimulai dari dimensi tauhid paling asasi. Awaluddin Makrifatullah. Awal dari hidup yang muthmainnah dan diridhai, adalah “mengenal (kembali kepada) Allah”. Sebab, pada dimensi ini kita sudah bermain dengan kehendak (iradah) Tuhan. Prof. Iwan Triyuwono, ahli akuntansi Islam dari Universitas Brawijaya, secara maknawi menjelaskan ini dalam filosofi innalillahi wainna ilaihi raji’un. Disingkat, ILWIIRA.

Dalam pandangan kami, sebagaimana konsepsi irfan atau tariqah, ILWIIRA adalah metode mematikan “diri” (ego). Guna menghidupkan “qalbu” (sebuah titik, langit atau ‘arasy tempat bersemayamnya frekuensi al-Ilahi dalam diri kita). Rumi pernah mengisyaratkan perjalanan kembali kepada Allah ini sebagai the journey within. Dalam berbagai tulisan, kami menyebutnya “kematian iradhi” (mati sebelum mati), lawan dari “kematian jasadi”. Baca artikel: “Pesan Tasawuf dari Mimbar Jumat”, dan “Mati Dulu, Baru Muslim”. Semuanya tentang proses mendengar atau memahami apa maunya Tuhan.

Ya, kunci gerak semua sistem profetik yang sekarang sedang dipopulerkan: ekonomi makrifah, akuntansi makrifah, manajemen makrifah dan sebagainya; adalah hidupnya ‘simcard’ untuk menjangkau alam ketuhanan: qalbu. Yang dalam berbagai istilah qurani (secara bertingkat-tingkat) disebut sebagai hati, jiwa, ruh, sampai kepada sirr. Dalam terminologi modernis digunakan bahasa semacam subsconscious mind, neuroscience, psycho-spiritual, dan sebagainya.

Kita di Kampus Darussalam, sebenarnya tidak susah untuk menggali kembali “epistemologi Ilahiah”. Sebab, dua tokoh besar intelektual Nusantara yang namanya diabadikan sebagai Kampus Unsyiah dan UIN adalah pengajar metodologi makrifat. Tinggal kesadaran kita semua untuk menggali kembali warisan sufistik mereka. Khususnya karya, ritual tazkiyatun nafs, dan amalan-amalan khawas Syeikh Abdurrauf bin Ali al-Fansury. Baca artikel: “Teungku Syiah Kuala dan Nuruddin Ar-Raniry Berguru pada Dua Habib ini”.

Metodologi makrifat tidak dimaksudkan untuk menegasikan tradisi penggalian ilmu secara tekstual, aqliyah, observatif ataupun eksperimental. Melainkan untuk menyempurnakan semuanya. Sebab, letak “etika” pengetahuan (ihsan), baik dari sisi teoritis maupun aksiologis (praktis), terletak pada nilai konfirmatif dengan maunya Tuhan (al-Haqq).

Saya pribadi berterima kasih kepada Abuya Sayyidi Syeikh Ahmad Sufimuda, seorang ‘arif rabbani yang dengan penuh kasih sayang  telah sedikit membuka mata kami, lahir dan batin, terhadap ontologi ketuhanan warisan berharga para nabi. Masih sangat sedikit yang kami tau dan rasakan. Perlu mujahadah dan riyadhah lebih banyak untuk menghilangkan dungu dan malas kami.

Kembali ke judul reflektif dari artikel ini: “Sudah  hidupkah qalbu anda?” Jika belum, “Sudah berapa lama anda mati?” Dan, “Kapan mau anda hidupkan?”

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

BACA ARTIKEL LAINNYA: “LIST OF ARTICLES”

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin