“Jurnal Pemuda Sufi” | Artikel No. 39 | Juni 2022


MENGEJAR “BAYANGAN”
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Coba perhatikan. Ada sebagian orang yang hidupnya berakhir tragis, justru saat memperoleh kejayaan. Uang sudah ada. Nama sudah besar. Tapi stres. Lalu bunuh diri.

Elvis Presley, tewas di usia 42. Saat itu karir rock and roll-nya sedang memuncak. Pengaruh obat-obatan menjadi penyebab utama dia tergeletak di kamar mandinya. Setelah itu sebut nama-nama besar musisi seperti Jimmy Hendrix (“dewa gitar”), Jim Morrison (vokalis “The Doors”), Janis Lyn Joplin (penyanyi soul blues), Kurt Cobain (penulis dan gitaris), Brian Jones (gitaris Rolling Stone), James Owen Sullivan (drummer), John Bonham (drummer Led Zeppelin), Judy Garland (artis dan musisi), Amy Winehouse (musisi jazz dan blues) dan lainnya.

Itu level internasional. Level nasional juga banyak artis dan musisi yang namanya di elu-elukan. Wajahnya cantik dan tampan. Uangnya melimpah. Followernya jutaan.  Lagu dan filmnya diminati. Tapi justru kecanduan obat dan minuman. Overdosis. Terjerumus seks bebas. Stress berat, walau selalu tersenyum dan melambai. Susah tidur. Tidak sedikit yang memilih bunuh diri dengan pil tertentu.

Kok bisa begitu? Padahal sudah punya banyak uang, penggemar dan jabatan; tapi jiwanya kok terguncang?

***

Walaupun semua mengaku ber-Tuhan, seringkali yang kita kejar adalah “tuhan”. Bukan “Tuhan”. Ada perbedaan antara tuhan (dengan “t” kecil), dengan Tuhan (dalam “T” besar). Tuhan adalah kebahagian. Sedangkan tuhan, adalah derita jangka panjang.

Manusia mengejar sesuatu yang dipersepsikannya sebagai sumber kebahagiaan. Tapi, apa yang benar-benar dapat membuatnya bahagia, itu tidak diketahuinya. Sehingga, seringkali yang dikejar adalah “bayangan”. Ada wujudnya, tapi absurd. Nyata, tapi nisbi. Mirip-mirip metaverse. Begitu indah, tapi ternyata hanya algoritma mimpi.

Materi, ketenaran, kekuasaan; semuanya “mimpi”; ketika tidak ada Tuhan bersamanya. Itu semua disebut “dunia”. Keberadaan semua itu sifatnya fana, tidak absolut, manakala tidak ada Tuhannya. Sesuatu yang tidak ada unsur Tuhannya pasti membawa derita. Karena wujudnya palsu. Dunia dan segala isinya adalah tuhan (“t”).

Bukan kita tidak butuh “dunia”, “bayangan” dan segala kepalsuannya. Kita perlu itu, sekedar untuk bergaya. Sekedar bermain-main dengannya. Itulah yang disebut kebahagian “dunia”. Tapi, untuk bahagia secara “hakiki” (abadi/mendalam/bernilai ukhrawi), kita butuh Tuhan yang asli. Tuhan inilah yang harus kita dapatkan agar berada dalam dimensi nirwana (syurga/bahagia). Fenomena “hijrah” para artis, sebenarnya hanya sebuah bentuk pengakuan akan kekosongan diri atas segala yang telah dicapai. Walau hijrahnya terkadang masih ke arah simbol-simbol, yang Tuhannya juga belum tentu ada disana.

Tidak susah pun menemukan Tuhan. Dia ada dibalik simbol. Dia ada dibalik bayangan. Dia bahkan menyatu dengan bayangan. Semua yang anda saksikan secara lahiriah pada segala dimensi dunia, itu hanya bayangan. Itu hanya efek dari keberadaan-Nya. Mirip anda dengan bayangan anda sendiri. Bayangan anda adalah anda, tapi bukan Anda. Yang benar ada secara mutlak adalah “Anda”, bukan bayangan anda.

Allah secara mutlak ada dibalik simbol/tanda/ayat/bayangan. Jadi, Dia itu dekat sekali. Tidak terpisah, bahkan menyatu dengan bayangan. Artinya, Dia ada dibalik semua dimensi dunia; yang merupakan limpahan, pancaran, atau bayangan-Nya. Kalau kita sadar akan diri sendiri, dan mampu menyelami isi terdalam dari diri kita, sesungguhnya disanalah Dia berada. Namun untuk bisa sampai kesana, dibutuhkan seorang rasul (guru/pembimbing); yang merupakan “jalan” atau “wasilah” untuk membuka mata batin sehingga mampu berjalan melampaui akal dan persepsi yang telah lama kita bangun. Sebab, Tuhan yang asli  melampaui itu semua. Dengan cara itu kita dapat menemukan Tuhan, menemukan Wajah aslinya (melampaui bayangan-Nya). Walaupun, ya, mirip-mirip itu juga. Tapi setidaknya kita menemukan sesuatu yang lebih esensial dari sekedar simbol-simbol keislaman.

Maka, jangan mengejar bayangan. Kejarlah sesuatu yang lebih azali, unsur asli dari diri kita sendiri. Yaitu Tuhan. Bahagia adalah, kembali ke “usul”, ke jati diri kita; kepada Allah SWT. Happiness is to find Him beyond the shadow. Bahagia adalah sebuah perjalanan untuk menemukan Dia; dibalik aneka bayangan. Sedangkan derita, adalah sebuah bentuk kehidupan yang masih terfokus pada bayangan. Sesuatu yang sebenarnya secara otonom tidak ada. Karena tidak ada, makanya ia tidak mampu mengisi diri kita.

Kalau kita menemukan Tuhan, pasti bahagia; walau kita tidak tertarik dengan “bayangan-Nya”. Itu sufi, yang tidak mau kaya, hanya mau Tuhannya saja. Mereka asik dengan Tuhan, tapi lupa dunia. Tapi, kalau engkau mampu menemukan Tuhan beserta “bayangan-Nya”, engkau akan menjadi sufi yang kaya raya. Seperti Sulaiman, seorang nabi, kaya pula.

Sebenarnya bukan hanya orang kaya yang stress dan bunuh diri akibat lelah dalam mengejar bayangan. Orang miskin juga banyak yang begitu. Sudah miskin (tidak punya harta), Tuhan yang asli pun tidak didapatinya. Larinya ke narkoba juga. Fakir, tapi kufur. Maka jangan disalahkan kalau ada sufi yang suka menyanyi dan menari-nari. Itu  memang “dunia”. Kebetulan, mereka menemukan Tuhan di dalamnya. Paling tidak, walau miskin, kita masih bisa menari dan bernyanyi. Sambil ngopi, bersama Tuhan kita. Sehingga jiwa tetap sehat dan bahagia.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin