AGAMAWAN PALSU

Agamawan Palsu
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Dengan jumlah muslim yang mencapai 87% (sekitar 229 juta jiwa dari total populasi) Indonesia menjadi lahan jualan ayat paling potensial. Apa saja yang dikaitkan dengan agama, pasti laku. Ditambah tekanan ekonomi dan kondisi modernitas yang kini memaksa masyarakat untuk mencari model-model spiritualitas. Isu agama makin mudah digoreng.

Konon lagi ada kekosongan rasa akan leadership. Rakyat rindu sekaligus putus asa pada kehadiran “pemimpin islami” (semacam al-mahdi atau ratu adil yang mampu mensejahterakan bangsa yang sudah bergenerasi hidup melarat). Sehingga, strategi memenangkan pilkada dengan melabeli sekelompok orang sebagai kafir dan sebagian lain sebagai paling islami, paling laku saat-saat pemilu.

Pada kondisi seperti ini, kita semakin sulit membedakan mana ulama, mana bukan. Mana ustadz, mana bukan. Mana habib mana, mana bukan. Semua bicara ayat. Semua punya jamaah. Tau cara memimpin doa dan zikir. Punya seabreg atribut keagamaan.

Mungkin anda harus punya kecerdasan yang tinggi untuk membedakan mana ceramah penuh ambisi tersembunyi dengan berita-berita kebenaran. Tapi kenyataannya, yang tertipu bukan hanya orang kampung. Tapi juga kaum intelektual, yang sudah tamat sekolah dimana-mana.

Ditengah kebingungan ini, seorang kawan memberitahu kami. Sebenarnya, katanya, mudah saja membedakan agamawan palsu dengan yang asli. “Kalau ceramah dan omongannya selalu mengkafir-kafirkan orang, memurtad-murtadkan orang, mengkomunis-komuniskan orang, mensunni-syiahkan orang; itu sudah pasti palsu”, sebutnya.

Bukan berarti tidak ada orang kafir, murtad atau komunis. Ada. Tapi kalau dia menjadi juru bicara mana orang beraqidah dan yang mana bukan, dia sudah pasti ulama dan ustadz palsu. “Setan itu”, sebutnya pelan. “Berhati-hatilah. Cari ulama, ustadz atau guru; yang damai dan mendamaikan, yang dari mulutnya keluar kearifan, yang setelah berjumpa dengannya kita tidak menjadi pembenci”, tambahnya lagi.

Di akhir cerita ia juga mengingatkan, “Tapi jangan pula kita bicara berteriak-teriak di depan publik bahwa para provokator bersurban itu bukan ulama, jangan. Cukup untuk diketahui saja, agar kita tidak teracuni dengan ayat dan hadis yang keluar dari nafsu dan lisan mereka”.

Pengalaman dua kali Pemilu (2014 dan 2019), setidaknya telah menjadi pelajaran bagi kita, sebenarnya politik itu hanya seni berkuasa. Paska itu, antar kontestan sudah kembali menyatu dalam satu istana. Pertikaian politik sudah ditinggalkan, dan tidak seserius yang kita duga. Tapi agama telah dijual secara serius oleh kita-kita yang dungu, dengan harga murah, untuk mencerca. Agama, pada tangan kita para agamawan dan spiritualis palsu, senantiasa meninggalkan luka dan merusak tatanan keadaban dunia. Karena perilaku buruk kita para ‘ahli’ ayat dan hadis, umat menjadi skeptis dengan agama.

Semoga kita semua cepat berubah, dan benar-benar mengambil pelajaran dari pengalaman ini.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

ūü핬†powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin