HILANGKAN PIKIRAN, MASALAHMU IKUT HILANG!


“Jurnal Tasawuf Akhir Zaman” | PEMUDA SUFI | Artikel No.51 | Juli 2021


HILANGKAN PIKIRAN, MASALAHMU IKUT HILANG!
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. “Begini Wan, masalah itu cuma ada di pikiran. Kalau hilang pikiran, masalah juga hilang. Kita tidak bisa menghilangkan masalah. Yang harus kita pelajari adalah, bagaimana cara menghilangkan pikiran. Biar masalahnya hilang”, begitu saya meyakinkan Bang Safwan -yang terlihat memakai baju yang dibagi pada waktu acara kami memfasilitasi Capacity Building BPS Aceh Jaya, November 2019. Berarti sudah hampir 2 tahun beliau memakai baju itu. Bajunya masih bagus. Cuma bagian perutnya saja yang melar.

Iya. Sumber masalah ada di pikiran. Kalau pikiran masih ada, masalah tetap ada. Lihat bayi, tidak ada masalah dengan hidupnya. Kerjanya makan dan tidur. Sesekali menangis, kalau lapar. Selebihnya senyum dan tertawa. Tidurnya pun sangat nyenyak. Karena memang belum ada pikiran. Karena otaknya betul-betul off. Tak ada yang dibawa dalam tidur. Yang capek mikir susu mereka adalah kita, ayahnya. Makanya kita susah tidur. Padahal, kalau bisa kita lupakan, hilang masalahnya. Langsung bahagia kita.

“Jadi kek mana? Gak usah mikirin susu anak?”, tanya Bang Safwan. “Tidak begitu juga. Susu dicari terus. Kerja tetap. Tapi jangan (terlalu) dipikirin. Karena, begitu  dipikirkan, semua jadi masalah. Dijalani. Dinikmati aja”, begitu saya meniru jawaban Guru.

Saya ini orang kampus. Saya tau betul, di kampus itu orang-orangnya kurang bahagia. Terlalu serius. Bahkan banyak yang botak dan putih rambutnya. Termasuk saya. Karena, dihalaman pertama saja, waktu menulis skripsi ataupun jurnal; itu harus jelas apa “masalahnya”. Harus ada masalah. Kalau tidak ada masalah, skripsi sudah pasti ditolak. Jurnal bisa gagal Scopus. Begitu penting masalah. Kalau tidak ada, wajib dicari. Gara-gara inilah dosen dan mahasiswa hidupnya susah. Setiap hari kerjanya mencari masalah, mengkritisi masalah, menseminarkan masalah, sampai kepada menyidangkan masalah.

Saya curiga, penelitian Moch. Faried Cahyono dari UGM (2016) ada benarnya. Katanya, akademisi berumur pendek. Rata-rata, usia 51 sudah tewas. Mungkin karena hidup kita terlalu banyak memikirkan masalah. Atau mungkin dosen UGM saja yang begitu.

Konsep bahagia dan panjang umur sebenarnya sederhana. Yaitu berjumpa Allah (bukan berjumpa masalah). Allah itu adalah Dzat yang tidak bisa dijangkau dengan akal dan pikiran. Artinya, kalau mau bahagia (ingin secara hakiki tersambung dengan Allah), anda harus ‘membuang’ akal dan pikiran. Sebab, begitu kita memakai akal dan pikiran, kita hanya akan terhubung dengan dunia dan segala isinya. Sesuatu yang semuanya harus dianalisis, dinalar, diwaspadai, dicurigai, diangan-angani, dipikirkan. Jadinya was-was kita. Susah. Peradaban ini dibangun dengan susah payah. Oleh orang-orang susah. Dengan akal dan pikirannya.

Memang pandai Tuhan itu. Sengaja dikasih pikiran untuk kita, biar susah. Sudah kodratnya manusia jadi makhluk susah. Kecuali yang mampu ‘menghilangkan’ pikiran. Seperti bayi dan orang gila. Tidak perlu susah-susah lagi bagi mereka untuk memikirkan shalat 5 waktu. Harus puasa sebulan penuh, dan sebagainya. Bebas. Mau pakai baju atau tidak, juga tidak melanggar aturan apapun. Bahagia saja kawan itu. Tidak ada lagi istilah ini bidáh, ini riba, ini dosa. Semua boleh sama dia. Karena sudah hilang pikiran, hilang beban. Tapi kita jangan juga jadi gila. Namun belajar ‘menghilangkan’ pikiran tetap harus dicoba, tanpa harus gila betulan (kalau mau juga tidak apa-apa).

Di Aceh, jumlah orang gila terbanyak ada di Pantai Timur Aceh (Pidie, Bireuen, Aceh utara, dan sekitarnya). Mungkin orang-orang di Pantai Timur Aceh masih banyak menggunakan pikiran. Sehingga jadi gila. Beda dengan masyarakat di pesisir Barat Selatan, jiwanya lebih sehat. Mungkin karena kurang berfikir.

Kondisi Covid selama 2 tahun ini juga ikut menambah orang gila. Bahasa “gila” sebenarnya kurang sopan. Halusnya adalah ODGJ. “Orang dengan gangguan jiwa”, “gangguan psikologis”, atau apalah. Entah apa yang dipikirkan orang-orang tentang Covid, sehingga menjadi gila. Ada orang yang tidak tau kalau dirinya sudah terpapar Covid, hidupnya bahagia. Ketika di Swab, ketahuan dirinya kena Corona, langsung setengah gila. Tok gara-gara informasi masuk ke pikiran, jiwa kita jadi sakit.

Survey oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PDSKJI, 2020) mengungkapkan, 32 persen penduduk Indonesia mengalami masalah psikologis selama pandemi. Sebanyak 67,4 persen diantaranya memiliki gejala cemas, khususnya pada kelompok usia dibawah 30 tahun. Dimana 67,3 persen mereka mengalami depresi pada musim Corona.  Dari total orang yang depresi itu, 48 persen berpikir untuk bunuh diri, atau ingin melukai diri dan orang lain.

Semuanya tok karena pikiran. Apalagi setelah di suruh vaksin sama Jokowi. Pasti makin banyak yang menderita gangguan jiwa. Termasuk Bang Safwan kami, takut kali dia kalau disuntik. Saya sendiri juga belum suntik. Bukan karena takut. Tapi karena sering lupa. Mau pergi vaksin, ditengah jalan lupa lagi (khusus untuk suntik vaksin, saya sering lupa). Beda kalau disuruh ambil honor. Ingat terus.

Sekali lagi, semua derita ini tok gara-gara pikiran, yang kemudian menyerang seluruh syaraf dan imun tubuh. Untuk hidup lebih sehat, pikiran harus dikendalikan. Harus ‘dimatikan’.

Dalam sufisme, proses mematikan pikiran, disebut “mati sebelum mati”. Mati artinya (secara maknawi) mati otak. Mati akal. Mati pikiran. Sehingga ruh menjadi lebih aktif. Tidak mungkin akal betulan mati. Sebab itu komponen bawaan manusia. Tapi, metodologi irfani berusaha mengaktivasi kemampuan ruh untuk menghadapi, memahami dan merespon berbagai kejadian. Karena, kalau semua disuruh respon oleh akal dan pikiran, pasti pening kita. Bisa gila. Ardi Bakrie dan Nia Ramadhani saja harus lari ke narkoba. Padahal semua tercukupi. Ini bukan masalah kaya atau miskin. Ini tentang kemampuan mengembalikan kepada Tuhan apa yang kita miliki, apa yang kita alami.

Itulah makna “pasrah” (taslim/islam), mengembalikan segala sesuatu kepada Tuhan. Bukan mengendapkannya di alam pikiran (bawah sadar). Ketika terjadi sesuatu, susah atau senang, kita tidak perlu ambil pusing. Bungkus semua masalah, serahkan kepada Allah. Segala sesuatu berasal dari-nya, kembalikan kepada-Nya. Jangan ditimbun di pikiran. “Kembalikan” semuanya kepada Allah.

Proses “kembali” inilah yang disebut “mati”. Mati adalah proses ‘mematikan’ pikiran. Ruh saja yang dikedepankan, untuk membawa masalah kepada Tuhan. Inilah rahasia bahagia, aktifnya unsur-unsur ruhani. Jadi, bahagia adalah, ketika anda memiliki Tuhan, anda juga mengetahui cara untuk mengembalikan semua masalah kepada Tuhan. Konsep zikir begitu. Zikir itu “ingat”. Ingat Tuhan (Wujud yang penuh energi dan gelombang positif). Bukan ingat masalah (anasir negatif). Memang secara teoritis terkesan sederhana. Dalam praktiknya, untuk benar-benar efektif dalam berzikir, anda harus tau frekuensi Tuhan. Baru anda bisa menjangkau-Nya.

Sebab, kalau sekedar berniat dan menghayal, seolah-olah semuanya sudah kita serahkan kepada Tuhan, itu mudah. Tapi jarang ada keajaiban. Tetapi, begitu kita tau frekuensi (mengenal washilah) yang bisa menteleportasi kita bersama masalah-masalah kita kepada Tuhan; mukjizat akan terjadi. Tuhan sendiri yang akan memikirkan dan bekerja untuk menyelesaikan masalah-masalah kita. Kita cukup goyang-goyang kaki saja. Tapi syaratnya harus dekat dengan Tuhan. Sebab, kalau jauh dari Tuhan, lalu berani goyang-goyang kaki, kena tempeleng anda!

“Ooo begitu ya”, kata Bang Safwan. “Jadi, kalau kita mampu melupakan tagihan kredit, tidak usah kita pikir-pikir lagi, utangnya bisa hilang ya?”, tanya bang Safwan penuh harapan. Kelihatannya beliau masih ada tunggakan di bank Pak Amin. “Benar Bang Safwan. Kalau bisa dilupakan, kreditnya hilang dari pikiran. Langsung bahagia kita. Tapi, saat tagihannya datang, seperti biasa, susah lagi kita. Hahaha…”, kami tertawa.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin

One thought on “HILANGKAN PIKIRAN, MASALAHMU IKUT HILANG!

  1. Adakah ilmu untuk menghilangkan pikiran tersebut.
    Bagaimana cara atau langkah-langkah agar kita dapat mengilangkan atau mengurangi beban pikiran.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s