ILMU AYUNAN DAN ILMU LIANG LAHAT

image: dengan Abu Cek Zahed, wakil Syaikh Ahmad di Dayah Sufi Muda Nagan Raya (Kamis/Jumat, 5/6 April 2018).

Ilmu Ayunan dan Ilmu Liang Lahat
Oleh Said Muniruddin

اُطْلُبُوا العِلْمَ مِنَ المَهْدِ إِلى اللَّحْدِ

Artinya:
“Tuntutlah ilmu
mulai dari ayunan
hingga liang lahat.”

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Secara umum, hadis di atas dipahami sebagai sebuah pesan untuk belajar seumur hidup (long life education). Sebenarnya lebih dari itu, hadis ini mencoba memberitau kita 2 kategori ilmu. Keduanya diminta oleh Nabi SAAW untuk kita pelajari, secara bertahap. Dimulai dari ilmu yang bersifat “ayunan” (mengetahui adanya Tuhan) sampai kepada ilmu “liang lahat” (berjumpa dengan Tuhan).

Hadis Nabi SAAW tersebut tidak perlu kita pahami sebatas pesan literal. Karena, saat diliang lahat kita tidak lagi dalam posisi belajar. Itu sudah masuk fase awal akhirat. Disana tidak ada lagi proses belajar, yang ada hanya pertanggungjawaban.

Hadis Nabi SAAW ini juga masuk dalam sasaran kritik kaum “kembali kepada Alquran dan Hadis.” Katanya itu bukan hadis. Karena tidak ada dalam kitab tertentu. Sehingga teks di atas diyakini sebatas ungkapan biasa.

Namun, hadis ini juga diakui ditemukan dalam kitab-kitab ulama tertentu lainnya. Hadis ini sendiri punya makna batin yang tinggi, melebihi bunyi teksnya. Dan inilah yang ingin saya berikan syarah-nya.

Apa itu ilmu dalam “ayunan”? Itulah ilmu untuk anak-anak, dan juga berbagai cabangan ilmu bagi kita untuk menghadapi dunia.

Apa ilmu yang anda sampaikan kepada anak-anak saat mereka dalam ayunan? Untuk menjawab ini, kita perlu kembali kepada tradisi Islam terkait pendidikan anak. Sebab, saat ini juga banyak hal yang diperdengarkan kepada anak menjelang tidur. Mulai dari lagu dangdut sampai kepada lagu-lagu para pemuja setan.

Dalam budaya dan kearifan Islam, kita diajarkan mendidik anak dengan memperdengarkan berbagai syair dan kalimah tauhid. Dengan itulah mereka tertidur. Yang menghantarkan mereka ke alam bawah sadar adalah kalimah-kalimah suci tentang Tuhan. Ini dahsyat sekali.

Saat-saat menjelang tidur adalah kondisi paling nyaman (alfa) bagi sianak untuk menyerap pengetahuan. Ini semacam hipnotherapy penanaman kesadaran ilahiyah bagi anak. Dan pengetahuan tertinggi bagi seseorang adalah pengetahuan ketuhanan (makrifat/tauhid). Inilah tugas orang tua, memperkenalkan agama kepada anaknya. Ini sesuai dengan dalil dasar kehidupan: awal dari agama adalah “mengenal Allah” (awaluddin makrifatullah).

Namun, tauhid yang diajarkan masih sebatas tauhid tekstual dan teoritis. Semua masih berupa syair-syair, ayat-ayat, dan kalimat-kalimat tentang Allah. Mereka menyerap apa-apa yang dibacakan oleh mursyid pertama mereka, yaitu orang tua mereka sendiri.

Memang inilah level ilmu bagi pemula. Siapapun kita, memulai agama mesti dengan usaha memperoleh pengetahuan-pengetahuan serupa. Mulai dari mendengar kajian dan menelusuri ayat (tekstual), sampai kepada jenis pengetahuan yang diperoleh dari riset inderawi (empiris), serta pengetahuan-pengetahuan rasional argumentatif yang diperoleh melalui dalil-dalil burhani (logika dan filsafat).

Semua anak belajar hal ini. Mereka dihafalkan ayat-ayat suci. Mereka juga mengobservasi lingkungannya dan biasanya diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan rasional: apa itu, mengapa bisa begitu, dan sebagainya. Semua proses belajar ini hanya untuk survive memahami dan menguasai dunia. Dan kita memang diutus Allah untuk punya pengetahuan dan keahlian dalam memakmurkan bumi (QS. Hud: 61).

Itulah ilmu-ilmu terawal untuk kita miliki: ilmu teks suci (tauhid teoritis), ilmu empiris observatif (ainul yaqin), dan ilmu-ilmu rasional argumentatif (ilmul yaqin). Perolehan semua ilmu ini menyebabkan kita percaya kepada adanya Allah. Tapi hanya sekedar “tau” dan “percaya.” Belum sampai kepada tahap merasakan atau “menyaksikan” apa yang kita percayai (syuhud) alias lebur (fana) atau “haqqul yaqin” kepada Allah.

Untuk sampai kesana dibutuhkan satu metode keilmuan lagi. Yaitu, metode irfan atau tasawuf. Metode inilah yang hilang dalam bangunan keilmuan kita (dalam tulisan ini saya cenderung menyamakan antara irfan, tasawuf, sufi, dan tariqah).

Saya curiga ini bukan hilang, tetapi sengaja dihilangkan. Beralihnya zawiyah-zawiyah (atau dayah) ke sekolah-sekolah umum pada masa kolonial, dengan menghilangkan “ilmu rasa” dari kurikulumnya adalah termasuk bagian dari proses penghancuran ini.

Selain itu ada gerakan-gerakan pembid’ahan terhadap praktik-praktik gnostisisme ini. Bangunan imej juga sengaja dibangun bahwa mistisisme Islam itu kolot. Mungkin karena ada sejumlah institusi Islam yang hari ini demikian tertinggal dalam pola-pola pengajaran. Bahkan banyak dayah hari ini sudah demikian kaku memahami agama, tidak lagi kuat dalam nilai-nilai irfan. Namun itu tidak bisa menghancurkan spirit asli dari tarekat (tariqah) itu sendiri.

Zawiyah merupakan satu bentuk institusi Islam yang memadukan, kalau boleh saya sebut, “ilmu dunia” dengan “ilmu akhirat.” Sebenarnya istilah demikian tidak tepat. Semua ilmu adalah ilmu dunia-akhirat. Dunia-akhirat berada pada satu garis yang harus kita tempuh. Terminologi ini hanya semacam penjelasan terhadap ilmu-ilmu umum dengan ilmu-ilmu khusus tentang ketuhanan.

Zawiyah adalah sekolah yang memproduksi berbagai pengetahuan, dengan penekanan pada spiritualitas. Semua ilmu diikat pada keyakinan dan kesadaran akan Allah. Sehingga kita temukan banyak sekali naskah klasik Islam di Aceh dan dunia melayu nusantara misalnya, yang terkait tasawuf.

Ilmu dan metodologi tasawuf inilah yang membawa jiwa-jiwa murid sampai kepada Allah. Hampir semua pelosok di Aceh ada zawiyah (dayah), yang disanalah masyarakat terdidik dalam ritual belajar tertentu untuk tersambung dengan “tali Allah.” Mereka benar-benar merasakan pengawasan Allah (omnipresent). Sehingga terbentuk perilaku yang baik, dengan adab dan akhlak yang elok. Tidak berperilaku dhalim dan korup!

Sepertinya aktor-aktor intelektual kolonial semacam Snouck Hurgronje tau, cara menguasai dunia muslim adalah dengan memisahkan kita dari Tuhan kita. Sementara, kalau kita telusuri tokoh-tokoh Islam klasik yang ahli filsafat, matematik, fisik, biologi, sejarah, kedokteran, kimia dan sebagainya itu; umumnya mereka juga mendalami dan menjalani metodologi pengetahuan “kehadiran Allah” (hudhuri). Itu kelihatannya yang membuat pengetahuan-pengetahuan mereka memiliki resonansi yang kuat.

Sejarah perlawan keras terhadap penjajah di berbagai belahan dunia adalah juga sejarah perang yang dipimpim para ulama, kaum sufi dan tarekat. Mulai dari Afrika Utara, India sampai Indonesia. Sementara kelompok aristokrat dan abangan lebih akomodatif dengan penjajah.

Di Indonesia sebut saja beberapa nama seperti Chik Ditiro, Imam Bonjol dan Diponegoro. Masih banyak lagi. Mereka semua membangun gerakan perlawanan berbasis dzikrullah.

Saya teringat dengan Sayyid Husain, kebetulan juga kakek dari ayah saya dari sebelah ibunya. Suatu ketika ditangkap Belanda karena ikut memimpin perlawanan di Pidie saat agresi Belanda kedua pada 1874. Setahun sebelumnya, Belanda gagal total pada agresi pertama mereka yang dilakukan dari Pantai Cereumen Ulee Lheue Banda Aceh pada awal April 1873.

Dalam penjara, Sayyid Husain setiap malam memimpin ratib yang begitu bergemuruh, sehingga menggangu kenyamanan sipir Belanda. Saya tidak tau tariqah apa yang beliau amalkan. Dia dilepaskan, kemudian menuju Langkawi (Malaysia) dan meninggal disana. Keinginannya menuju Turki tidak kesampaian. Makamnya terletak di Masjid Kuwah, Pulau Langkawi. Disana ia dikenal dengan sebutan “Tok Habib” (foto makamnya dapat dilihat disini).

Ada satu sosok sufi lain yang juga sangat fenomenal dalam sejarah perang melawan kolonial di Indonesia. Namanya Habib Abdurrahman as-Segaf, dikenal dengan “Habib Teupin Wan.” Hemat saya tidak ada sosok selain dia, yang demikian lama terlibat dan memimpin perang fisabilillah: 38 tahun (1873-1911)! Ia bahkan menolak perintah rajanya sendiri (Sultan Muhammad Daudsyah) untuk menyerah pada Belanda. Spirit ketauhidannya tinggi sekali. Perang Aceh meredup bahkan berakhir tidak lama paska kematiannya. Ia boleh dikatakan panglima terakhir perlawanan terhadap Belanda paska ulama Tiro. Tewas terkepung pelacak andalan Belanda Letnan Schmidt di Gunung Halimon, kini makamnya ada di Desa Blang Dalam, Tangse, Aceh Pidie.

Kaum sufi adalah kaum sederhana. Ruhani mereka sudah terbebaskan dari selain Allah. Jika ada penindasan, mereka tampil duluan untuk menentang. Jika ada sufi yang mengasingkan diri dari urusan publik dan tidak kritis terhadap kemungkaran yang ada, itu belum menjadi sufi. Sufi punya kritisisme dan gerakan sosial yang kuat. Pelajari Nabi SAAW, betapa sering ia berkomunikasi dengan Allah, yang kemudian melahirkan energi amar makruf yang luar biasa.

Sufi boleh disebut sebagai orang-orang yang menempuh jalan Tuhan (salik). Sebenarnya siapa saja bisa kita sebut sufi, manakala ia telah melakukan mujahadah atau perjalanan secara sungguh-sungguh, sehingga mampu merasakan kehadiran Tuhan. Diibaratkan semacam ‘perjalanan’ Musa berjumpa Tuhan di puncak Sinai. Atau semacam ‘perjalanan’ Muhammad SAAW bertemu Tuhannya di Sidratul Muntaha.

Sufi merupakan bagian dari kaum muslimin yang menjalani metode iluminatif (tariqah) untuk penyucian qalbu dan melakukan perjalanan jiwa (suluk), untuk pada kadar tertentu mengalami apa yang dialami oleh manusia-manusia suci sebelumnya. Kalau manusia-manusia terdahulu, dengan cara-cara tertentu, bisa ‘berjumpa’ Allah, mengapa kita tidak bisa?

Seharusnya kita semua dalam hidup ini mengalami pencerahan spiritual (syuhudi) terhadap keberadaan Allah. Tentu dengan bantuan guru (mursyid). Saya kira hampir semua ilmu butuh guru berpengalaman untuk membawa kita sampai pada pengetahuan tentang kebenaran. Sejak taman kanak-kanan sampai doktor pun kita dibimbing para guru dan profesor. Demikian pula dalam dunia tarekat.

Inilah yang dimaksud “ilmu liang lahat”: ilmu “kematian” agar bisa bertemu Allah. Makna “liang lahat” disini hanya sebuah perumpamaan. Liang lahat merupakan terminal awal perjumpaan dengan Allah. Karena memang saat kita mati nanti, untuk ketemu Allah berawal dari liang lahat.

Maksud “mati” disini juga bukan dalam arti kematian biologis atau yang kita sebut meninggal (terpisahnya ruh dengan jasad). Jadi apanya yang mati?

Yang harus kita matikan adalah segala bentuk kesyirikan dalam ibadat/kehidupan ini, yang membuat kita terhijab dari perjumpaan dengan Allah. Inilah yang dalam hadis qudsi disebut dengan “matilah kamu sebelum kamu mati”:

موتوا قبل أن تموتوا

Untuk sampai kepada “kematian ego” ini ada amalan-amalan yang mesti ditempuh, baik dalam rangka penyucian (takhalli) maupun pengisian jiwa (tahalli). Inilah cara memperoleh ketauhidan yang tinggi. Ketauhidan yang membuat setiap manusia biasa dapat “berjumpa” (liqa) dengan Allah swt. Sebagaimana firman-Nya:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya” (QS. Al-Kahfi: 110).

Tariqah atau jalan irfan adalah sebuah metode bagi kita orang-orang biasa ini untuk membangun amaliah tertentu dan mematikan “diri” (ego/syirik) agar bisa memperoleh pengetahuan tertinggi, yaitu “bertemu” Allah. Karena puncak kebaikan/kebahagiaan itu ada saat menyaksikan “kehadiran” Allah, sejak di dunia sampai di akhirat. Tidak mungkin kebahagiaan sejati (sesuatu yang kita cari-cari) datang dari selain “berjumpa” dengan Allah.

Pesan akhir, jangan terus menerus berada dalam “ayunan.” Yaitu sebuah model beragama anak kecil, bahwa kita hanya sekedar tau dan diberitau oleh orang lain atau oleh teks suci bahwa Allah itu ada. Dewasalah. Masuklah ke “liang lahat”, ke pintu gerbang perjumpaan dengan Kekasihmu. Matikan semua kesyirikan yang ada dalam diri, agar sejak di dunia engkau bisa bertemu dengan Allah. Itulah yang dimaksud kebahagiaan dunia, apalagi di akhirat.

Demikian para guru menjelaskan. Semoga kita semua memperoleh hidayah untuk bahagia, bertemu dengan-Nya.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s