Maling, Allah dan Lailatul Qadar
Oleh Said Muniruddin | Rector | The Zawiyah for Spiritual Leadership

SEMALAM, saat sedang menunggu Lailatul Qadar, datang maling. Ngintip pula dia. Saya lagi sholat dan sempat melirik ke jendela yang sedikit terbuka. Ketahuan. Kami saling bertatapan. Ya, malam itu, hanya Allah dan maling yang tau kalau saya melaksanakan qiyamullail. Tapi setelah saya tulis ini, satu dunia tau (seolah-olah) saya rajin sholat. Dasar!

Ya, begitulah. Terkadang niat ingin berjumpa Lailatul Qadar, didahului perjumpaan dengan maling. Tak ayal lagi, bak aksi heroik di film-film box office, proses kejar-kejaran tak terelakkan lagi. Tapi apa daya. Kelihaian maling tingkatnya sudah skil dewa. Halus. Kencang. Rapi. Cepat sekali menghilang dia.

Khawatir kita, menemukan Allah juga begitu. Lebih sulit dari menangkap maling. Wajah-Nya seperti apa, koordinat-Nya dimana; tak tau kita. Lailatul Qadar juga begitu. Sudah berpuluh tahun kita beribadah dalam Ramadhan, tak sekalipun kita menyaksikan si Lailatul Qadar.

Ya, mungkin ini hasil dari mainstream pola ajar beragama kita yang sudah ratusan tahun spekulatif teoritis. Kita hanya dididik untuk percaya, Dia itu (sekedar) ada. Bukan diajari cara-cara khusus untuk ‘menangkap’ atau menemukannya.

Alhasil, lolos terus Dia.

💥 powered by PEMUDA SUFI
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin