“RUH”: ARTINYA JIWA, ATAU JIBRIL?


“Jurnal Pemuda Sufi” | Artikel No. 30 | Mei 2022


“RUH”: ARTINYA JIWA, ATAU JIBRIL?
Oleh Said Muniruddin

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. “RUH/ROH”. Bahasa arabnya: الروح. Namun punya makna berbeda. Ada yang diartikan sebagai “jiwa”. Ada juga sebagai “Jibril”. Kok bisa jauh berbeda? Atau mungkin ada hubungan antara “ruh” (jiwa) dengan “Ruh” (Jibril)?

Untuk memudahkan penjelasan, kami menulis dua hal ini secara berbeda. Untuk jiwa kami sebut “ruh” (dalam “r” kecil). Sedangkan untuk Jibril, kami tulis “Ruh” (dalam “R” besar).

Apa itu “ruh”?

“ruh” adalah jiwa partikular yang melekat pada materi. Sesuatu yang menyebabkan seseorang menjadi hidup dan berkesadaran sebagai manusia. “ruh” ini adalah gelombang energi, kekuatan atau spirit dasar yang membuat manusia mampu bergerak, mencerap pengetahuan rasional, serta berkomunikasi dengan sesama manusia di alam manusia.

Secara etimologis, “ruh” itu sendiri artinya angin (ar-riyaah), sesuatu yang ditiup/bergerak. Semua orang menjadi hidup/bergerak secara alamiah setelah mendapat tiupan “ruh”. Artinya, “ruh ini sifatnya given, sebuah “gerak substansial” (Mulla Sadra: Al-Harakah Al-Jauhariyah) yang muncul secara alami pada jasad biologis. Ia terus bergerak, semacam punya tujuan. Potensinya terus aktual dan menyempurna seiring gerak perubahan, pertumbuhan dan perkembangan dari wujud materi awal sampai menjadi sosok manusia.  Secara umum, materi yang memiliki “ruh” ini akan terus bergerak/berevolusi dari satu wujud ke wujud lain: mineral >> tumbuhan >> hewan >> manusia.

Manusia memang tumbuh dari bentuk materi awal (mulai dari atom-atom sederhana), lalu menjadi mineral statis yang kasat mata, tumbuh menjadi sperma yang 100 persen mirip kecebong (hewan), sampai sempurna berkembang dalam wujud manusia. Artinya, kita ini pada awalnya memang binatang. Sebelumnya lagi ada dalam kualitas mineral/tumbuhan yang geraknya statis. Lebih awal lagi, kita ini hanya kumpulan atom (materi awal) yang terkesan sederhana. Namun karena materi ini punya “kesadaran” (gerak substansial), ia terus tumbuh; dan dalam proses tertentu menjadi manusia.

Kenapa materi punya “kesadaran”, dan pada kasus manusia terus tumbuh dan bergerak menjadi makhluk dengan rupa yang luar biasa sempurna? Hal ini pernah kami jelaskan pada video “Fisika Kuantum Membenarkan: Dunia ini Fana”. Sebenarnya, yang membentuk materi atom adalah proton dan neutron, yang mereka itu tersusun dari komponen “cahaya” (quark). Komponen ini merupakan pusaran energi yang tidak pernah berhenti bergerak. Jadi, manusia pada wujud esensialnya adalah “cahaya”, alias gerak subtansial, pusaran energi, atau “ruh”. Kenyataannya, semua materi di alam semesta terbentuk dari “ruh” (quark/cahaya yang hidup dan terus berputar dalam bentuk gerak thawaf).

Rumi membahasakan pengalaman aktualnya potensi “ruh” (substansi materi) hingga memiliki wujud manusia dengan kalimat: Aku mati dari mineral dan menjadi tumbuhan // Aku mati dari tumbuhan kemudian menjadi hewan // Aku mati dari hewan kemudian menjadi manusia //

Jadi, kesimpulannya, kita ini memang “ruh”; yang menampakkan dirinya dalam rupa manusia. Kita ini sebenarnya makhluk non-materi, yang mewujud dalam dimensi materi. Substansi dasar kita adalah cahaya, jiwa, ruh yang hidup, ruh alami -sebuah potensi yang geraknya telah mengaktualkan kehidupan materi.

Apa Bedanya dengan “Ruh”?

Berbeda dengan “ruh”, “Ruh” adalah Jibril (jiwa universal) beserta kekuatan dan gelombang malakut lainnya. Ini juga sebuah potensi yang dapat dicapai manusia. Hanya saja, butuh proses dan kesadaran lebih lanjut dari “ruh” untuk sampai ke makam “Ruh”. Sebab, “Ruh” bukanlah sesuatu yang terbentuk/diperoleh dalam sebuah proses “alami”. Melainkan harus diperjuangkan kehadiran wujudnya (ikhtiyari). Butuh mujahadah besar untuk menjadi manusia dalam wujud “Ruh”.

Ceritanya begini.  Manusia itu adalah wujud yang terus bergerak mencari Tuhan. Sebab, secara fitrah kita punya gerak substansial untuk mencari Wujud yang Maha Sempurna. Sebab dalam diri kita, sejak dalam bentuk materi dasar, itu sudah ada “ruh” yang merupakan bagian dari kesadaran awal akan ketuhanan. “Alastu birabbikum?” (Bukankah Aku ini Tuhanmu?). Ruh menjawab: “Qaalu bala syahidna” (Benar, Engkau adalah Tuhan kami)”. Al-A’raf 172 ini menggambarkan kesadaran ketuhanan dari “ruh” yang akan terus menjalani fase material. Dan “ruh” ini terus berkembang menjadi dewasa, seiring gerak pertumbuhan materi/jasad manusia. “ruh” sederhana inilah yang membuat kita mampu berfikir, atau punya intuisi bahwa Tuhan itu ada.

Namun, “ruh” ini punya kelemahan. Ia hanya tercipta untuk berinteraksi dengan alam makhluk. Ia memang punya kesadaran bahwa Tuhan itu ada. Namun, ia tidak punya kekuatan untuk kembali kepada Tuhannya. Karena itulah, “ruh” ini disebut sebagai dimensi ketuhanan yang terpenjara dalam materialitas manusia. Padahal, ia punya kerinduan untuk berjumpa Tuhannya. Namun ia tidak berdaya. Sehingga diperlukan kekuatan pembebas (liberation force) lainnya, untuk membuat “ruh” ini mampu bergerak lebih lanjut guna bertemu dengan gelombang “Ruh” yang lebih tinggi (atau disebut Jibril); sehingga dapat terkoneksi dengan Tuhannya.

Jadi, “ruh” itu gelombang lemah. Tidak mampu berinteraksi atau terkoneksi lagi dengan Tuhan. Tergantung-gantung diantara langit dan bumi. Itulah kita, wujud dari “ruh” yang impoten. Makanya jangan terlalu riya’, seolah-olah mampu secara langsung berhubungan dengan Allah SWT. Tidak bisa. Keberadaan “ruh” alamiah kita tidak punya kemampuan sama sekali untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Apalagi lisan kita. Itulah mengapa doa sering tertolak. Reject. Tidak sampai kepada Allah. Kecuali lisan yang terkoneksi dengan “Ruh”, itu melahirkan banyak mukjizat.

Agar jiwa kita terhubung kembali dengan Allah, proses “instalasi ruhani” harus kita jalani lagi. Dalam hal ini, “ruh” harus dikoneksikan dengan “Ruh”, karena memang itu pasangannya. Sebab, keduanya dari unsur ketuhanan yang sama. Bedanya, “ruh” adalah sisi pasif dari ketuhanan yang telah mengalami proses “duniawisasi”, terkungkung dalam dimensi materialitas kita (mengalami banyak dosa). Sedangkan “Ruh” adalah Jibrilutusan langsung dari sisi Allah SWT (Cahaya atau gelombang aktif Allah SWT).

Maka, tahap pertama yang harus dilakukan dalam proses upgrade ruhani ini adalah menemukan gelombang “Ruh” (Jibril) yang lebih tinggi itu, untuk dijadikan sebagai wasilah/frekuensi untuk connecting dengan Allah. Usaha manusia untuk mengintegrasikan (mengkoneksikan) “ruh”-nya dengan “Ruh” yang lebih tinggi (dengan gelombang kerasulan/gelombang Jibril) disebut mujahadah spiritual (tazkiyatun nafs, QS. Al-‘Ala: 14).

Melalui metode riyadhah tertentu,  gelombang “Ruh” yang tinggi ini bisa ditangkap. Para nabi melakukan proses ini. Setelah menemukan gelombang “Ruh”-Nya (Jibril), jiwa mereka menjadi sangat kreatif. Kalam Tuhan, wahyu atau ilham (pengetahuan supra-rasional) terus bermunculan. Pembicaraan Tuhan sudah bisa didengar, karena gelombangnya sudah sama. Sudah bertemu “ruh” dengan “Ruh”. Hubungan dengan Allah sudah bersifat live (langsung).

Muhammad termasuk salah satu manusia biasa (basyar) yang sangat intensif mengasah potensi “ruh”-nya untuk terhubung dengan “al-Ruh” (Jibril). Selama bermalam-malam, dalam hitungan bulan bahkan tahun, sejak usia muda; ia intensif menjalani ritual misterius. Entah darimana ia mempelajarinya. Atau siapa yang mengajarinya. Ia aktif mengasingkan diri ke ruang-ruang sempit. Sampai kemudian “sayap-sayap” Jibril (Ruh) aktif dalam dirinya. Sehingga semua yang ia ucapkan disebut sebagai ucapan/bisikan dari Jibril (berasal dari gelombang yang sangat tinggi, alias dari Allah SWT, berdimensi Ruh/qurani).

Artinya; kalau anda tau metode penyatuan jiwa, penyatuan ruhani atau pengintegrasian wujud ruh dengan Ruh (wahdatul wujud), gelombang Jibril bisa anda tangkap. Melalui gelombang malakut-Nya itulah Tuhan bisa diajak berbicara. Sebab, Jibril itu “utusan” (rasul/malaikat) Tuhan. Alias, Tuhan yang mengutus dirinya dalam rupa (gelombang) Jibril.

Jika “ruh” mampu memiliki rupa material manusia, lalu apa susahnya hal yang sama terjadi pada “Ruh”? Makanya, Jibril diberi gelar ‘alaihissalam (sebuah gelar untuk sosok nabi laki-laki). Jangan-jangan, Jibril adalah nabi itu sendiri (gelombang malakut dalam diri para nabi). Gelombang yang selalu hadir membawa wahyu pada nabi.

Maka, ketika para nabi punya “Ruh” (Jibril) dalam diri mereka; semua gerak dan perkataannya bernilai suci. Semua dianggap sebagai gerak dan perkataan Tuhan (wahyu/hadis). Sebab, “Ruh” yang bersemayam/bertajalli dalam diri mereka adalah Ruhul Quddus, Ruhul Muqaddasah Rasulullah Jibril ‘Alaihissalam, alias Nur Muhammad (Cahaya aktif Tuhan). Dengan “Ruhul Quddus” itulah para nabi (dan juga para wali yang mewarisi Ruh itu) mampu memberi syafaat, mampu mengangkat/mensucikan sekalian “ruh” (arwah) manusia. Dengan unsur Ruhani yang sangat suci ini mereka mampu membawa manusia untuk bertemu, alias wushul dengan Allah SWT. Dengan hadirnya “Ruhul Amin” (nama lain dari Roh Quddus/Jibril) Muhammad menjadi Al-Amin, sosok terpercaya yang membawa kedamaian bagi manusia. Menjadi rahmatan lil-‘alamin.

Jadi, segala sesuatu di alam semesta ini tersusun dari “ruh” (cahaya). Esensi alam semesta adalah “ruh” (cahaya) yang punya gerak substansial sehingga terus mengalami perubahan dari detik ke detik (sering disebut sebagai the expanding universe). Semua materi yang ada di universe ini terus bergerak, terus berubah dari hari ke hari. Artinya, semuanya hidup dan mengalami perubahan, tanpa kecuali. Namun, bentuk “cahaya” yang menjadi substansi alam semesta ini bertingkat-tingkat. Pada level paling rendah adalah “ruh alami” yang melekat secara potensial pada semua unsur/materi. Sedangkan pada level tertinggi adalah “Ruhul Quddus” (sebuah substansi yang juga punya kesadaran sangat tinggi, yang dalam bahasa filsafat disebut Akal Awal, atau Jibril dalam bahasa Alquran).

Kesimpulannya, semua yang ada tersusun dari “cahaya”. Artinya, semua wujud merupakan “tajalli” (pancaran) dari Tuhan itu sendiri. Alquran menyebut: “Allah adalah cahaya langit dan bumi” (QS. An-Nur: 35). Semua tercipta dari Allah, dari cahaya-Nya. Hanya saja, cahaya pada gradasi terendah yang menyusun dunia materi disebut “ruh”. Sedangkan Cahaya di Atas Cahaya yang mengandung pengetahuan suci dan paling dekat dengan Allah disebut Ruhul Quddus. Jadi, baik “ruh” maupun “Ruh”; itu sama-sama “gelombang” (energi/cahaya). Yang satu gelombang dengan “frekuensi rendah”, dan hanya berguna untuk menjangkau informasi yang bersifat alamiah (material dan rasional). Yang satu lagi gelombang dengan “frekuensi tinggi” (Cahaya di atas Cahaya, QS. An-Nur: 35) yang dapat menjangkau pengetahuan-pengetahuan otentik dari alam Rabbani.

Sejatinya gerak manusia adalah gerak (perjalanan) membawa “ruh” terendah (substansi materi manusia) untuk kembali kepada Allah. Tentunya melalui media wasilah, Ruhul Quddus (Jibril). Makanya, semua manusia sempurna bertemu dengan Jibril (Ruh tertinggi). Hanya dengan cara itu manusia mampu kembali memakrifati Allah SWT. Berbagai bentuk mujahadah “mati sebelum mati” dalam tradisi tasawuf/irfan, adalah warisan praktik kenabian untuk memperjuangkan agar “ruh” umat ini dapat kembali/ruju’ dengan “Ruh”, dengan Allah SWT. Ini sangat memungkinkan. Sebab, “Jibril” (Ruh) masih aktif, belum pensiun. Masih turun Dia. Surah Al-Qadar ayat 4 bahkan menyebut malam Lailatul Qadar sebagai momen turunnya Jibril (“Ruh”) dan berbagai gelombang malakut lainnya. Itu terjadi berulang-ulang dan selalu dikejar oleh umat Islam. Sebab, ini adalah momentum “ruh” (manusia) berjumpa/menjadi “Ruh” (malaikat). Namun, bagaimana bentuk asli dan cara mendapatkannya, baca artikel “Mencari Lailatul Qadar”.

Menutup kajian ini, saya sempurnakan isi puisi Rumi di atas yang membahas “perjalanan jiwa” (ruh manusia) sampai menjadi malaikat dan bertemu Tuhannya:

Aku mati dari mineral dan menjadi tumbuhan // Aku mati dari tumbuhan kemudian menjadi hewan // Aku mati dari hewan kemudian menjadi manusia // Lalu mengapa aku takut apabila aku mati beringsut // Aku berlalu sebagai manusia // Membawa empat sayap dan bulu bak malaikat // Setelah itu, berkoar lebih menjulang dari malaikat // Mengapa engkau tidak dapat membayangkan // Aku akan menjadi seperti itu // Lalu aku tiada setelah tiada bak dentang organ // Aku berkata Inna Lillahi wainna Ilaihi Rajiun //

وَاِنَّهٗ لَتَنْزِيْلُ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۗ – ١٩٢ نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْاَمِيْنُ ۙ – ١٩٣ عَلٰى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَ ۙ – ١٩٤ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِيْنٍ ۗ – ١٩٥

“(192) Dan sungguh (Al-Quran) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam; (193) Yang dibawa turun oleh Ruhul Amin/Jibril; (194) Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan; (194) Dengan bahasa Arab yang jelas” (QS. As-Syuara: 192-194).

قُلْ نَزَّلَهٗ رُوْحُ الْقُدُسِ مِنْ رَّبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهُدًى وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ – ١٠٢

Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman (QS. An-Nahl: 102).

تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ

“Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan” (QS. Al-Qadar: 4).

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

💥 powered by SUFIMUDA
___________________
SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web:
 saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG@saidmuniruddin

One thought on ““RUH”: ARTINYA JIWA, ATAU JIBRIL?

  1. Pingback: SUDAH 1400 TAHUN, AGAMA HARUS DI UPGRADE | Said Muniruddin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s