AKU BUKAN PUJANGGA

Aku Bukan Pujangga
Oleh Said Muniruddin I Rector I The Zawiyah for Spiritual Leadership

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Itu pertama kali saya membaca puisi. Di depan puluhan ribu penonton pula. Sejumlah media menyebut ratusan ribu. Di acara penutupan MTQ Aceh ke-34 di Pidie, 27 September 2019. Dengan arena yang luas, disain bangunan ornamental, serta pengelolaan even yang rapi; disebut-sebut, itu MTQ tersukses dalam sejarah Aceh.

Yang membuat MTQ sangat menarik, termasuk pengelolaan seremonial pembukaan, juga penutupan. GUNTOMARA “Islamic Art and Architecture” ikut dilibatkan dalam segmen ini. Anak-anak muda kreatif memberi sentuhan khas dalam penataan acara. Lighting , sound, serta video LED yang begitu sempurna memberi rasa berbeda pada musabaqah tingkat provinsi ini.

Saya diminta memberi sentuhan dalam rangkaian opening dan closing acara. Lahirlah ide, salah satunya pelepasan “1000 balon Hijaiyah Bercahaya”. Sebagai pengagungan huruf-huruf yang membentuk Mushaf. Secara maknawi juga menyiratkan Alquran sebagai petunjuk, cahaya. Itu terjadi di malam pembukaan. Meriah sekali.

Acara MTQ terus berjalan selama seminggu. Tidak ada yang berfikir, apa yang harus ditampilkan pada malam penutupan. Tiba-tiba, Wakil Bupati meminta agar penutupan tidak kalah dengan seremoni pembukaan. Saya mulai berfikir, apalagi unsur kejutan yang patut ditampilkan. Waktu sangat singkat. Hanya dua hari tersisa. Semua bekerja ekstra pada masing job-nya.

Ditengah agenda sebagai dewan hakim lomba Kaligrafi, saya mulai mencorat-coret sesuatu. Ya, puisi! Saya akan baca puisi. Yang saya tulis sendiri. Sebab, saya tidak tau puisi apa yang patut dibaca pada acara MTQ. Konon lagi harus mencari orang untuk membacanya. Sulit. Satu-satunya cara, ya tulis sendiri. Lalu baca sendiri.

Masalahnya, seumur hidup, saya tidak pernah membaca puisi. Tidak di depan publik. Juga tidak di kamar mandi. Modal saya cuma berani. Paling tidak ada hal baru yang saya coba, out of comfort zone. Berani merupakan modal dasar yang saya peroleh sejak di training dalam forum-forum leadership mahasiswa. Berbekal YouTube, mulailah untuk pertama kalinya dalam hidup ini saya menyimak bagaimana cara orang-orang membaca puisi. Ternyata asik juga!

Malam penutupan dimulai. Perlahan namun pasti, arena MTQ menjadi padat. Padat sekali. Belum pernah ada MTQ yang punya jumlah pengunjung seperti itu. Masalah lain muncul, suara saya menghilang. Saya batuk. Pilek. “Habis saya!”, terbisik dalam hati. Tinggal modal terakhir, doa. “Guru.. tolong!”

Tidak lama setelah dentuman petir backsound, pembacaan surah Al-Maidah ayat 3 berserta saritilawahnya; instrumen sedih mulai mengalun. Pertanda, saatnya saya beraksi. Dalam suasana gelap, dibantu sorotan lampu dari mimbar utama, selama 6 menit saya berdiri di atas tugu basmallah, membacakan “Munajat Qurani”. Sebuah pesan, sufistik bahwa ada pekerjaan yang lebih berat daripada sekedar mampu membaca, menulis dan menghafal Alquran.

Sejumlah peserta, official dan pengunjung mengaku menitikkan air mata. Terus terang. Saya bukan pujangga. Tapi tak ada salahnya kalau sedikit berimprovisasi untuk menyampaikan sesuatu yang penting bagi kita semua.

Puisi ataupun syair hikmah, punya kemampuan menyederhanakan sebuah pesan dalam narasi singkat yang begitu powerful. Karena itu sosok sufi seperti Rumi, misalnya, begitu dihargai atas karya Matsnawi. Allah sendiri juga Pujangga Besar. Keseluruhan pesan tentang alam dan Diri-Nya bisa diringkas dalam potongan ayat. Karena itu, para sufi cenderung berbahasa simbolik.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.*****

BACA JUGA: “1000 Balon Hijaiyah Menerangi Langit Pidie”
___________________

SAID MUNIRUDDIN
The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin